Ibu Gubernur, Mohon Maaf Karena Saya Melanggar Ketentuan UMK 22 Januari 2012
Posted by Maman Firmansyah in Uncategorized.Tags: law of supply and demand
add a comment
Yth. Ibu Gubernur Banten,
Sehubungan dengan penetapan aturan Upah Minimum (UMK) Kota Tangerang sebesar Rp1.529.000, melalui Keputusan Gubernur Banten Nomor 561/KEP.2-HUK/2012 Tentang Perubahan besaran UMK dan pengaturan Upah Minimum Sektoral (UMS), yang mengalami kenaikan dari Rp1.381.000 berdasarkan Keputusan Gubernur Banten Nomor 561/ Kep.886-Huk/2011 tanggal 21 November 2011, dengan ini dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
- Dengan tidak menambah rasa (tidak) hormat saya atas track record Ibu sebelumnya, melalui surat ini saya mohon maaf karena saya telah melanggar ketentuan mengenai UMK di Kota Tangerang. Perlu Ibu ketahui bahwa saya hanya sanggup menggaji Asisten Rumah Tangga (ART) saya sebesar Rp300.000 per 4 (empat) minggunya. Jauh di bawah standar UMK yang Ibu tetapkan.
- Sang ART, Ibu Sri namanya, bekerja di rumah kami dari mulai pukul 13.00 sampe selesainya pekerjaan, biasanya sekitar pukup 17.00. Tanggung jawab pekerjaannya: nyuci, nyetrika, ngepel, masak, dll. Oh, mungkin Ibu juga lebih tau soal ini karena Ibu juga pasti punya ART di rumah, dan jumlahnya pasti lebih dari satu, tidak seperti saya. Kalau boleh tau, berapa Ibu menggaji ART-ART di rumah Ibu? Saya yakin gaji ART-ART Ibu sudah melampaui UMK yang Ibu tetapkan.
- Perlu Ibu ketahui juga, tetangga sebelah saya juga telah melanggar ketentuan UMK minimum itu lho, dan juga tetangga di pojok itu, teman-teman saya di kantor juga setau saya semuanya melanggar ketentuan UMK terkait, karena kami semua tidak sanggup membayar ART kami sesuai standar UMK. Maaf ya, Bu.
- Saking banyaknya ART yang dibayar di bawah standar UMK ini, minimal menurut pengamatan saya pribadi, setau saya merupakan bukti nyata bahwa ada hukum yang jauh lebih powerful dibandingkan hukum yang ditetapkan, termasuk peraturan UMK yang Ibu tetapkan, yaitu hukum permintaan dan penawaran (The law of supply and demand). Jadi, pas saya sedang butuh ART, demand for labor saya ini bertemu dengan supply for labor dari Ibu Sri, dengan ketentuan-ketentuan yang kami sepakati bersama (jam kerja siang-Ibu Sri kerja di rumah yang lain di pagi hari, jatah libur, boleh bawa makanan yang Ibu Sri masak, dan terakhir gajinya). Menurut bahasa economics, katanya sih equilibrium sudah tercapai (ah, soal ini pun Ibu pasti udah paham kan?). Saya senang karena pekerjaan rumah tangga istri saya sangat terbantu dengan adanya Ibu Sri, dan Ibu Sri pun senang (setidaknya menurut pengamatan ekspresi wajah selama bekerja di rumah, dan mengingat beliau sudah bekerja di rumah kami hampir setahun). Equilibrium tercapai, kami pun sama-sama senang. Ah, indahnya dunia…
- Dengan pelanggaran berjamaah ini, yang berarti peraturan UMK diabaikan dan juga berarti nyaris tidak ada UMK ini sektor ART, saya sih hanya bisa berkesimpulan bahwa pelanggaran berjamaah ini justru malah membuka peluang pekerjaan bagi Ibu Sri dan teman-temannya. Seandainya semua ART wajib menerima gaji sesuai standar UMK, saya dan teman-teman pelanggar lain tentu tidak akan sanggup membayar ART kami. Konsekuensinya, kami akan keluar dari pasar employer ART, dan mungkin sebagian besar employee ART juga tidak akan bisa bekerja lagi karena kurangnya supply employer. Hasil akhirnya, rumah kami tentu akan jauh lebih berantakan, but are still fine karena istri saya tidak bekerja dan kami pernah berbulan-bulan mengalami tidak punya ART, tapi Ibu Sri pun mungkin tidak akan punya penghasilan tambahan, dan juga ART-ART lain.
- Berdasarkan analogi argumen di nomor 5 (lima), bagi saya ini merupakan pembelajaran penting dari bukti nyata dari hukum yang juga berlaku di dunia ini, yaitu the law of unintended consequences. Peraturan tentang UMK ini, seandainya diterapkan sepenuhnya, justru akan menghalangi para buruh dengan keahlian rendah atau tanpa keahlian (low skilled labour) untuk memasuki pasar tenaga kerja. Secara ekonomi keseluruhan, penerapan UMK di sektor tertentu justru akan berakibat negatif bagi perekonomian. Untungnya, kami di Indonesia ini sudah semakin ahli dalam ‘tidak memedulikan’ peraturan. Oh ya, ini hanya berdasarkan common sense saya loh Bu, belum pake data apa pun.
- Oh ya, saya masih tetep pengen tau gaji dari para ART yang Ibu pekerjakan berapa ya?
Demikian kami sampaikan, atas perhatian Ibu kami mengucapkan terima kasih.
Hormat saya,
MAMAN FIRMANSYAH
*Disclaimer: Akhir-akhir ini, saya sedang terpengaruh dengan pemikirannya Hayek, dan Austrian School-nya, jadi mungkin tulisan ini sangat bias. Kalo sempet, saya ulas pro-kontra tentang upah minimum ini. Sepertinya sih tidak sempat…
Ketika Tangan (Selalu) di Pipi 18 Januari 2012
Posted by Maman Firmansyah in Uncategorized.add a comment
Pada suatu masa,dalam bergaya di foto, Athifa ceritanya selalu menempelkan dua ujung jari di pipi.. Entah kenapa dan meniru siapa, saya tidak tahu.
Begini lah aksinya, sebelum menghilang …







Dan Ketika Athifa ‘Nyureng’ 18 Januari 2012
Posted by Maman Firmansyah in Uncategorized.add a comment
Ada masanya juga, ketika Athifa selalu ‘nyureng’ ketika difoto, yang hasilnya jadi mirip abis dengan Kakak Qiila, sepupunya.
Kayak gini yang periode ‘nyureng’:




Penyakit Kanker Pemimpin Amerika Latin Dibikin sama CIA? 15 Januari 2012
Posted by Maman Firmansyah in Uncategorized.Tags: statistik, teori konspirasi
add a comment
Foto milik CBC. Beberapa pemimpin Amerika Latin, yang beraliran kiri-tengah, yang didiagnosis dengan penyakit kanker, searah jarum jam: Presiden Venezuela – Hugo Chavez, Presiden Paraguay – Fernando Lugo, mantan presiden Brazili – Luiz Inacio Lula da Silva, dan presiden Argentina – Cristina Fernandez (belakangan diketahui salah didiagnosis), dan presiden Brazili sekarang – Dilma Rousseff.
Mr Chavez said this was “very strange” but stressed that he was thinking aloud rather than making “rash accusations”. But he said the instances of cancer among Latin American leaders were “difficult to explain using the law of probabilities”. “Would it be strange if they had developed the technology to induce cancer and nobody knew about it?” Mr Chavez asked in a televised speech to soldiers at an army base. ~ BBC News
“Mungkin gak sih kalo para pemimpin Amerika Latin itu emang ‘dibikin sakit’ sama CIA?”
Buat para penggemar teori konspirasi, saran saya, tetap lah berharap…
Lagian, apa sih yang gak mungkin di dunia yang serba edan inih? Nazaruddin akhirnya bisa ketangkep, kumpulan cewek-cowok kemayu lipsync aja bisa laku,renovasi ruangan 100 m seharga Rp20 miliar aja bisa, apa lagi kalo yang melibatkan CIA kan? Mungkin perlu dipastikan juga proporsi agen CIA ini seperti apa, jangan-jangan 95% agen CIA ini kaum Yahudi, udah lengkap deh teori konspirasinya.
“Seriously Gan, ini loh daftarnya: Chavez kena kanker pelvix sarcoma, Dilma Roussef kena kanker limfoma, Lula kena kanker tenggorokan, Fernando Lugo kena kanker limfoma, dan terakhir, meski salah diagnosis, Christina Fernandez kena kanker tiroid. Dengan mengecualikan Christina Fernandez saja, ada 4 (empat) orang pemimpin Amerika Latin yang kena kanker. Kalo dibandingkan dengan jumlah negara Amerika Latin sebanyak 20 negara, persentasenya udah 20% toh? Bukannya udah ketinggian tuh persentase probabilitasnya?”
Yup, itu juga emang poinnya pernyataan Hugo Chavez. Still, permasalahannya emang: seberapa banyak sih kemungkinan kena kanker? Kalo berdasarkan data US National Cancer Institute’s Surveillance Epidemiology and End Results (SEER) Database di sini, kemungkinan kena kanker itu 44,85% buat laki-laki dan 38,08% buat perempuan. Jadi, kalo berdasarkan data ini, angka 20% pemimpin Amerika Latin itu yang kena kanker sebenernya sangat mungkin. Artikel di sini bahkan menganalisis kalo angka 20% ini merupakan salah satu contoh kesalahan logika cherry picking,
Cherry picking, suppressing evidence, or the fallacy of incomplete evidence is the act of pointing to individual cases or data that seem to confirm a particular position, while ignoring a significant portion of related cases or data that may contradict that position. It is a kind of fallacy of selective attention, the most common example of which is the confirmation bias. Cherry picking may be committed unintentionally.
“Sebentar dulu, cherry picking ataupun bukan, data kemungkinan seseorang kena kanker itu kan dari Amerika Serikat, sangat mungkin berbeda dengan kondisi di Amerika Latin kan? Lagipula, siapa tau ada agen CIA di US National Cancer apa lah itu yang ngotak-ngatik datanya?”
Anda benar, di dunia ini secara praktis bisa ‘dicari’ data statistik yang ‘sesuai’ dengan keinginan koq, makanya Benjamin Disraeli bilang, “lies, damned lies, and statistics”. Sebagai perbandingan, Tim Harford, dalam program radio BBC More or Less yang ini, nanyain Dr Eduardo Cazap dari Argentina, presiden dari Union of International Cancer Control, yang bilang bahwa: one important concept that cancer is a very frequent disease. In a given moment, close to 1% of the population has the disease…”
“Tuh kan, apa gue bilang, cuma 1% kan jauh banget sama 20%??!!”
Bentar dulu, lebih lanjut Dr Eduardo Cazap bilang kalo kemungkinan kena kanker itu pun sangat bergantung sama usia. Seseorang dengan usia 50 – 80 tahun, seperti halnya para presiden Amerika Latin itu, punya kemungkinan yang lebih tinggi pula buat kena kanker. Lagipula, angka statistik yang 1% itu juga gak memperhitungkan berapa lama seseorang itu kena kanker. Jadi, dengan memperhitungkan rentang usia dan lamanya para pemimpin Amerika Latin itu mengidap kanker, angka 1 dari 5 kena kanker itu bukan hal yang menyimpang dari rata-rata statistik.”
“Jadi gimana nih kesimpulannya?”
Lain kali, presiden Hugo Chavez sebaiknya gak usah bawa-bawa ‘the law of probabilities’ dalam tuduhannya. Mendingan langsung ajah, jebret-jebret tuduh!. Kalo bawa-bawa statistik segala, pasti bakal ada yang bisa bantah…
“Pertanyaan terakhir, kira-kira CIA bakal ngasihin penyakit kanker ini lagi gak ke presiden Iran, Ahmadinedjad ?
Upsss…, kalo menurut saya sih bibit kanker itu udah dikirim sama Amerika melalui gerai-gerai McD, KFC, Burger King, dll. ke seluruh dunia . Cuma logikanya, kalo mau bunuh pemimpin negara lain, seharusnya CIA punya cara yang jauh lebih efisien dari menginjeksi kanker. Setidaknya, kalau teori konspiasi ini bener, percobaan mereka ke pemimpin Amerika Latin sepertinya gagal… Mereka musti cari cara lain…
Words of The Day: “Fleet Quipped by 24 Hours GPS” 13 Januari 2012
Posted by Maman Firmansyah in Uncategorized.add a comment
Saya ngeliatnya di sisi kiri sebuah Taksi Rosalinda. I haven’t noticed before that Rosalinda Taxi even exist, sounds like a telenovela, eh?
Problems, at least to me, are:
- Kalo dimasukkin ke Google Translate, frase itu diartikan: “Armada Gurau dengan 24 Jam GPS.”
- Quipped? Maksudnya mungkin “equipped”, kalo quipped kan artinya bergurau.
- Kata fleet sama sekali tidak perlu.
- 24 Hour GPS? Emang GPS biasanya dimatiin-idupin begitu yah? Bukannya nyala terus-terusan. Kalo maksudnya sang taksi itu selalu dipantau posisinya oleh Perusahaan Taksi, 24 Hour itu saya rasa gak pas.
Usulan saya? “Equipped by GPS”
Berapakah Harga Kelalaian Berlalu Lintas? 23 Oktober 2011
Posted by Maman Firmansyah in Uncategorized.add a comment
Duka Victor Herrera
Jika seandainya dilakukan survey korelasi kausalitas, saya yakin akan ada penelitian yang berkesimpulan: “sebagian besar lampu merah di Jakarta berpotensi menimbulkan buta warna temporer.” Tidak percaya? Lihat saja kelakuan pengendara sepeda motor, sopir angkutan umum, dan bahkan mobil pribadi di lampu merah di Jakarta. Ngebut pas lampu kuning, sudah mulai mengklakson dan menjalankan kendaraan ketika lampu hijau belum nyala, dan bahkan nerobos lampu yang jelas-jelas merah.
Ketika seseorang menerobos lampu merah, di lalu lintas kota Jakarta kita tercinta ini mungkin bisa berarti:
- Tidak berakibat apa-apa, dia selamat, orang laen selamat, lalu lintas tetep lancar, bahkan kena tilang polisi pun nggak;
- Kena tilang polisi, setelah sebelumnya disuruh minggir atau dikejar motor polisi;
- Bikin macet perempatan karena kendaraan dari arah kiri dan kanan tidak bisa jalan karena stuck;
- Kecelakaan, dari paling ringan sampe paling parah.
Seseorang mungkin beruntung ketika kejadian 1 sampe 3 yang kejadian, tapi apa yang akan terjadi dengan kejadian 4? Masih belum bisa menggambarkan juga, okeh, coba dibayangkan perasaan Victor Herrera, yang istrinya, adik iparnya, anaknya, dan calon anaknya meninggal karena ditabrak Joseph Gray (yang seorang polisi) yang nerobos lampu merah!
(lagi…)
Anakku Kecanduan Sekolah 24 Juli 2011
Posted by Maman Firmansyah in Uncategorized.add a comment
Err.. lebih tepatnya kecanduan waktu maen pas sekolah, sih.
Flash back, kurang dari 2 tahun yang malu, sekitar 3 bulan setelah nyampe pulang dari Adelaide:
“Pa, kata psikolognya Athifa itu HDD?”
“HDD? Hard disk drive maksudnya? Buat di laptop apa di PC?”
“Nggak tau, pokoknya dibilangin HDD terus dibilangin kalo mau diterapi biayanya 150 rebu per pertemuan.”
Dialog absurd ini terjadi setelah istri saya, Ibu mertua, sama Athifa konsultasi gratis ke seorang psikolog tumbuh kembang anak di daerah Bintaro. Gratis karena sesuai iklannya, “konsultasi pertama gratis”, itu pun anaknya gak boleh ketemuan ..
Jadilah istri saya pun cerita tentang Athifa ke psikolog, sendirian, sementara Athifa diasuh mertua saya di luar. Yang diceritain, kelakuan Athifa waktu itu yang: ketakutan sampe nangis kejer kalo ketemu orang baru, gak respon kalo diajak maen sama temen sebayanya. Keluar lah diagnosis HDD tadi, mungkin yang dimaksudkan adalah ADD, Attention Deficit Disorder, atau mungkin ADHD, Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Salah dua jenis autism.
Waktu itu saya tidak setuju dengan sang psikolog. Selain karena biaya konsultasi yang ekstra mahal, cukup untuk beli satu set mainan edukatif (yang dipake sama psikolog selama masa konsultasi), saya juga menganggap kalo sang ahli autism sudah terkena syndrome: “‘if the only tool you have is a hammer, you tend to see everything as a nail.”
And so the story goes, Athifa semakin membaik dalam hal hubungan interpersonal: mau maen sama anak2 laen! Seiring membaiknya kemampuan komunikasi, Athifa yang malah semangat ngajak maen anak2 kecil tetangga rumah.
Sampai saat datangnya satu pertanyaan besar yang harus dijawab: Athifa, to school or not to school?
Urusan sekolah ini sedikit rumit karena dua isu :
1. Athifa pernah drop out sekolah!
Jadi ceritanya, pas Athifa umur dua tahunan, pernah ngalamin ikut sekolah PAUD, di musholla RT yang lumayan jauh juga dari rumah. Hari pertama sekolah, Athifa ditonjok, literally, sama temannya. Pengalaman yang tidak terlalu menyenangkan dan hampir bikin ibu mertua mau nyantronin rumahnya anak yang mukul Athifa, untung gak jadi.
Lanjutlah Athifa sekolah PAUD dua hari seminggu, lebih banyak bolosnya, dan pas akhir semester sempet dapet rapor. Yeah, there you go, rapor buat sekolah PAUD? What’s next?
Selesai dapet rapor, Athifa sama sekali berhenti dateng ke PAUD. Bukan karena nilai rapornya yang jelek, juga bukan karena takut sama anak yang dulu sempet mukul, tapi karena alasan yang kedua, yaitu
2. Siklus tidur Athifa yang Aneh
Selepas pulang dari Australia, siklus tidur Athifa jadi begini: tidur paling awal jam 11 malem, bisa jam 2 atau jam 3 pagi kalo magribnya tidur siang dulu. Dan bangunnya? Paling cepet jam 10 pagi, biasanya jam 11. Dengan jam bangun tidur km segitu, Athifa pun sukses gak dateng2 lagi ke sekolah PAUD, officially drop out! Cool, eh!
Dengan kendala nomor dua dan kemampuan berbicara Athifa yang, pada saat itu, terbatas bikin saya dan istri jadi agak ragu buat nyekolahin Athifa. Mungkin tahun depan lagi kalo Athifa udah lebih lancar ngomong, atau mungkin kita cari Playgroup PGRI yang bukanya jam 3 sore biar cocok sama jadwal bangunnya Athifa.
Sampe saat yang indah pada waktunya itu tiba: Athifa semakin lancar ngomong, semakin lancar bersosialiasi, ada sekolah di samping rumah playgroupnya gak diajarin baca tulis, dam waktu tidurnya semakin bisa diatur. Jadilah Athifa didaftarkan sekolah, dengan biaya relatif mahal, dengan asumsi Athifa gak bakalan mogok sekolah.
Karena dekat rumah, ada program ‘aklimatisasi’ sebelum Athifa sekolah, diajak maen ke lingkungan sekolahnya. Dan terjadilah apa yang jadi judul artikel ini, Athifa sakau buat pergi ke sekolah.
Dengan jadwal tidur paling malem jam 9, jam 7 pagi Atjifa udah siap bangun pagi.
Dari kewajiban dateng ke sekolah minimal tiga hari, Athifa dateng 5 hari, dari Senin sampe Jumat. Dari waktu sekolah yang seharusnya selesai jam 10.30, Athifa pulang terakhir jam 12.00, bahkan setelah guru-gurunya pulang!
Yang terbaru, bahkan hari Sabtu dan Minggu pun tetep minta pergi ke sekolah. Maeeen…!
Pa, Boleh Nonton Spongebob Gak? 23 Juli 2011
Posted by Maman Firmansyah in Uncategorized.add a comment
“Pa, aku boleh nonton Spongebob gak?”
“Emh, Spongebob eh? Boleh saja, sih, cuma… gini loh Teh, kalo ngikutin logika orang gede kayak Papa, idealnya setiap detik waktumu itu dihabiskan dengan kegiatan yang bermanfaat, demi masa depanmu sendiri.”
“Yang nentuin bermanfaat nggaknya itu siapa, Pa?”
“Ya biasanya orang dewasa, kayak Papa.”
“Oh, jadi yang bermanfaat buat masa depan itu kayak apa?”
“Euu.. kalo kata orang2 sih ya yang bagus2, kursus baca, kursus balet, belajar melukis…”
“It looks so boring to me, Pa.”
“Yeah, I also think so, my dear.”
“Emang sudah pernah ada riset yang bilang kalo ikutan kursus begituan bakal bagus buat masa depanku, Pa? And anyway, what’s wrong with Spongebob, Pa?”
“Nothing wrong with Spongebob, actually. And for your questions, kalo kata Bryan Caplan di bukunya, Selfish Reasons to Have More Kids, no, everything you’ve done in your precious little time has nothing to do with your future life.”
“Jadi, om Caplan ngebolehin anaknya nonton Spongebob?”
“Emh, I’m not sure with Spongebob but he enthusiasticly allow Simpson.”
“Emang kalo nonton TV itu gak bagus ya, Pa?”
“Selama gak berlebihan gak apa-apa, Nak. Apapun yang berlebihan itu selalu gak bagus!”
“Tapi ada temenku yg gak boleh nonton TV sama mamanya, katanya nonton TV itu gak bagus buat anak2?”
“Mungkin buat temenmu itu memang gak bagus, kalo buat Teteh sih menurut Papa biasa aja.”
“Kalo ternyata nonton TV itu berpengaruh buruk sama anak-anak kayak aku gimana, Pa?”
“I’ll take my chance, Nak! Look, kalo Papa ngelarang kamu nonton Spongebob, maka:
1. You’ll be unhappy, then
2. Papa juga unhappy karena kehilangan my ‘me time’ karena dg nonton TV kamu akan sibuk dengan your ‘electronic baby sitter.’ :’)
3. Papa musti sediain sumber daya yang lain: waktu Papa, uang buat ikut kursus macem2, plus kamu sendiri belum tenth bahagia dengan semua kegiatan tadi.”
“Jadi, boleh nonton Spongebob ini win-win solution buat kita semua?”
“Semacam itu lah. You’re happy, I am happy, and your future life, ah, worry not today, it’ll come sooner than you and I think. Jadi, dari segi cost and benefit ngelarang nonton Spongebob itu lebih banyak cost-nya dari benefitnya.”
“Jadi, spongebob boleh, tapi kalo aku minta kursus renang boleh, gak?”
“Kalo kamu seneng, boleh2 saja. Setidaknya, meski kita masih belum tahu manfaatnya nanti, yang penting kamu seneng ngelaksanainnya.”
“Jadi yang penting I am happy with it?”
“Yeah, apa lagi yang lebih penting? Kids should have fun, enjoy your happy kid life. So do we as parents. Parenting should also fun. And, don’t worry be happy!”
p.s. Buat Athifa, Selamat Hari Anak, 23 Juli 2011. We wish you a happy and fun kids life.
Hapuskan Cuti Bersama! 16 Mei 2011
Posted by Maman Firmansyah in Itulah Indonesia.add a comment
These days, tidak butuh upaya besar untuk mengkritisi pemerintah. Di era keterbukaan informasi dan ‘pengamat’ yang bertaburan di mana-mana, mengkritisi pemerintah tidak butuh energi berlebih. Tambahkan pula kenyataan bahwa pemerintah kita memang rajin memberikan ‘amunisi’ kritik berupa kebijakan yang layak dikritik, oleh siapa pun.
Akan tetapi, kebijakan cuti bersama yang diambil oleh Menko Kesra, Menteri Agama, dan Menteri Tenaga Kerja, pada hari Jumat, 13 Mei 2011 pukul 16.18 (berita pertama di detik.com), sudah keterlaluan adanya, notoriously stupid, dan tidak perlu. Here are my thought on this issue.
Kebijakan dibikin Mendadak, GeJe
We’re actually almost accept ‘cuti bersama’ as a fact of life and inevitable, as inevitable as that ‘sosis so nice advertisement’.;) Tapi cuti bersama tanggal 16 Mei 2011 ini luar biasa mendadak, dibikin Jumat pagi, dan diumumkan melalui rilis media Jumat sore. Alasan cuti bersama? “dalam rangka efisiensi dan efektivitas hari kerja.” What the…
Lucunya, pas tahun 2009 ketika pemerintah memutuskan untuk mengurangi cuti bersama dari 5 hari menjadi 4 hari, alasan ‘peningkatan produktivitas dan efisiensi kerja’ juga dipake. Sampe sekarang pun, alasan ditetapkannya tambahan cuti bersama ini teuteup gak jelas. What a country we live in, eh..
Tujuan awal digagasnya kebijakan cuti bersama, yaitu pengen memajukan industri pariwisata yang terpukul gara-gara bom Bali, juga saya yakin tidak akan tercapai dengan adanya kebijakan dadakan ini. Gimana mau nyusun agenda liburan coba kalo pengumumannya aja dibikin H-1 begini?
Karena dibikin dadakan, bermunculan teori konspirasi asal muasal kebijakan cuti bersama ini, sebut saja:
- Agar pembahasan RUU BPJS antara DPR dengan pemerintah pada tanggal 16 Mei 2011 gak jadi, thus, pembahasan RUU BPJS semakin tertunda. Tidak tanggung-tanggung media sekelas Kompas, 14 Mei 2011, mengulasnya.
- Liburan panjang selama 4 hari, jadi arena buat Densus 88 show-off penangkapan teroris, tujuannya ‘pengalihan isu’. Tidak lain dan tidak bukan yang ngeluarin isu ini adalah, @guritaglobal.
Do I plan for myself or leave it to you?
The question I ponder is who plans for whom?
Do I plan for myself or leave it to you?
I want plans by the many, not by the few.
Fight of the Century: Keynes vs. Hayek Round Two
Ada yang lebih fundamental secara filosofis terkait cuti bersama ini, yaitu pertanyaan: sejauh mana peranan pemerintah dalam kehidupan warga negara? Meski pemerintah berdalih bahwa kebijakan cuti bersama ini ditujukan bagi PNS, mau tidak mau disadari bahwa cuti bersama ini mempengaruhi sektor swasta dan masyarakat pada umumnya.
Bagi saya, cuti itu adalah hak pegawai, dan pemerintah tidak memiliki hak untuk mengambil kembali, secara paksa, hak yang telah diberikan kepada PNS, dalam bentuk cuti bersama. It against the free will, free mind, freedom to act and plan, dan free free lainnya (tidak termasuk free goods dan freeware).
Seharusnya, kepada kami para PNS ini diberikan kebebasan untuk menentukan kapan dan seberapa lama atas hak cuti yang telah menjadi milik kami, karena kami telah dewasa dan dapat mengatur sendiri rencana cuti kami. Pemerintah tidak dapat dan tidak berhak untuk ngatur-ngatur bahwa kalo hari kejepit maka lebih efektif dan efisien kalo PNS libur; kalo libur lebaran maka kami juga musti nambah libur, dst.
Dengan kombinasi individual planning yang efisien, secara aggregat akan diperoleh planning yang efisien. Central planning, apalagi dengan kualitas birokrasi seadanya kayak di Indonesia justru lebih banyak mudharatnya daripada manfaat.
Dengan segala carut marut pelaksanaan cuti bersama: pelanggaran hak PNS, alasan yang gak jelas, kebingungan penerapan (bagaimana dengan karyawan kontrak yang belum/tidak berhak menikmati cuti? Bagaimana dengan karyawan yang cuti tahunannya telah ludes, apakah mesti ngutang cuti?), sudah saatnya kita dukung: hapuskan kebijakan cuti bersama!
ps. Suka atau tidak suka, saya tetep cuti bersama pada tanggal 16 Mei ini.
Semua akan Indah pada Waktunya 24 April 2011
Posted by Maman Firmansyah in Keluarga, Pribadi.add a comment
Awalnya, saya termasuk orang yang sangat peduli dengan pengenalan dini terhadap pengembangan anak-anak, entah itu games, lagu, pendidikan. Saya inget dulu ketika adik saya berusia 3,5 tahun lantas saya paksa-paksa sekolah TK, jauh lebih dini dibandingkan temen-temen di lingkungannya. Alasannya: saya gak mau mengalami pengalaman kayak saya yang telat masuk SD pas usia udah 7 tahun, yang akhirnya bikin saya selalu lebih tua satu tahun dibandingkan dengan teman-teman satu kelas dulu.
Begitu Athifa lahir, saya juga masih keukeuh dengan pendekatan pengenalan dini ini. Sebelum saya tinggal ke Adelaide, yang berarti Athifa baru berusia 3 bulan, saya sudah bekalin istri dengan: koleksi DVD Baby Einstein bajakan, koleksi DVD National Geographic edisi binatang-binatang, buku-buku dongeng buat anak-anak, donlotan MP3 lagu anak-anak Indonesia sama Barat, software edukasi untuk bayi kayak hiyah.com udah diinstall di PC jadul yang ada di rumah, sama flash card untuk latihan membaca untuk bayi.
Super lengkap dan ideal kelihatannya, terkecuali fakta bahwa: Athifa ketakutan ketika suruh liat DVD Baby Einstein, buku-buku dongeng itu jadi kebanyakan robek tak berbentuk, dan kelihatannya Athifa masih jauh dari bisa membaca.
Saya pun akhirnya tidak berharap banyak dari upaya pengenalan dini ini.

A father, a husband, and an employee. I am spending my precious notworking time by browsing, blogging, reading books, and taking care of my little daughter. Complete profile could be seen