Tentang Sepeda (dan Barang-Barang ) yang Harganya Konyol

Jadi ceritanya begini, demi upaya menjaga tingkat kesehatan bangsa dan negara serta untuk memastikan kontinuitas pertumbuhan ekonomi *politik pencitraan, sayah pun membeli sepeda. Kayak gini nih penampakannya:

Sang sepeda saya niatkan buat jalan-jalan keliling perumahan pas weekend saja, bukan buat hobi sepedaan secara propesional ataupun buat blusukan di gunung downhill kayak yang di tipi-tipi ituh. Ternyata, di kaskus udah ada forum khususnya di sini.

Harganya?

Lumayan. Lumayan mahal maksudnya, lebih tepatnya setara dengan penghasilan saya selama 31 jam bekerja atau 4 hari. Tapi masih masuk akal bagi saya, karena toh akhirnya saya beli juga dan tanpa harus ngutang belinya. Kata yang jual sih: udah lumayan lah Pa kalo buat jalan-jalan di perumahan: udah rangka alumunium, rem udah cakram, dan sebagainya… dan sebagainya.

Tapi emang hidup itu harus selalu penuh dengan warna-warni. Sepeda saya yang menurut saya lumayan mahal itu, ternyata cuman seipritnya dibandingkan para sepeda yang dipake sama penggila sepeda di luar sana. Artikel Kompas Minggu, 16 September 2012, memberikan tekanan pergaulan yang sempurna buat pencoba sepeda amatiran seperti saya. Ditulis di artikel itu:

Djoko Edi Santoso (57) tak pernah terpisah dari sepeda Merlin keluaran Amerika Serikat yang dibelinya seharga Rp 60 juta pada 2004.

~~~

“Harganya sebanding dengan rasa bahagia yang didapat. Tiga puluh persen dari hidupku untuk sepeda, selain musik jazz tentunya,” kata Perry sebelum memulai start Kompas Bali Bike yang digelar sejak Jumat (14/9) hingga Minggu ini.

~~~

Dan, tentu saja aksesori yang berfungsi sebagai pelindung diri. Sebut saja helm sepeda yang harganya bisa mencapai Rp 4 juta, kacamata Rp 6 juta dan sepatu kulit khusus sepeda Rp 4 juta.

~~~

“Harus mahal agar ada jaminan selamat dari benturan,” kata Aliah Kaimoeddin (35). Aliah sudah membuktikan. Kepalanya tidak cedera meski pernah beberapa kali terbentur di aspal jalan raya.

Meski Kompas memberi judul artikel itu Bukan Sepedanya tapi Sepedaannya dan menutup artikel itu dengan kutipan:

“Gengsi pada akhirnya diukur bukan melulu harga sepeda, melainkan kemampuan mereka ber­sepeda. Cycling is a new golf” kata Rivo.

Tetep saja saya bingung: OMG, sepeda seharga 60 JUTA? There must be something wrong with Adam Smith’s invisible hands, right?

Okeh, mari kita bahas tentang sepeda dan juga barang-barang yang harganya mahal gak keruan ini dari sudut pandang economics. Yuk kita mulai…

Barang-barang yang harganya konyol ini gak hanya sepeda kan?

Anda benar, hanya perlu nengok sedikit ke kiri dan ke kanan, udah ketemu koq. Pulpen Parker seharga jutaan? Baju dan jas seharga berjuta-juta rupiah? Panci masak Farah Quinn harganya dua juta? Sepeda seharga sepeda motor? Sepeda motor seharga mobil? Mobil seharga rumah mewah? The lists is on and on…

Tapi kan orang-orang kan bisa dapet barang sejenis dengan harga jauh dari barang-barang dengan harganya konyol itu kan?

Tentu saja, pulpen pilot seharga Rp2.000 bisa melakukan tugas sama baiknya, atau bahkan lebih baik, dibandingkan dengan Parker seharga jutaan. Begitu juga panci masak yang dipake Farah Quinn tidak otomatis bikin masakan jadi enak. Sepeda yang seharga Rp300.000 pun asal sama-sama masih bisa digowes ya sudah tuntas menunaikan tugasnya sebagai sepeda.

Berarti orang-orang yang membeli barang-barang dengan harga yang konyol itu gak rasional?

Ada beberapa teori penyebab orang-orang itu bisa memutuskan membeli barang, yang menurut kita harganya konyol, yang bisa dibahas di sini:

1. Menurut mereka yang beli, harganya rasional koq. 

Saya termasuk di dalamnya ketika memutuskan membeli sepeda senilai 4 hari saya kerja keras. Pembenaran berupa: rangka alumunium, disc brake, dan lain-lain adalah pembenaran logis bahwa uang yang mereka keluarkan (atau cicilan kredit) adalah worth the money for. Artikel di sini, di sini, di sini, dan di sini berusaha menjelaskan kenapa harga sepeda bisa mahal, dan sangat mahal.

2. Membeli kebahagiaan?

Apakah dengan membeli barang-barang yang harganya konyol itu orang akan bahagia?

Saya tidak tahu. Kalo dari penggemar sepeda di artikel Kompas itu sih bilangnya iya. “Harganya sebanding dengan rasa bahagia yang didapat,” katanya. Tapi pikir saya, keterlaluan juga sih kalo udah beli sepeda harga Rp60 juta, terus gak bahagia…🙂. Kalo buat yang gak mampu sih tentu gak bakalan bahagia ngeliat uang di rekeningnya terkuras habis.

Bagi saya sih, beli barang-barang dengan harga konyol ini ada satu konsekuensi yang jelas: kalo barangnya hilang, nyesek dan nyeselnya gak ketulungan. Kehilangan, sepeda seharga Rp60 juta dengan kehilangan sepeda Rp600 ribu tentu beda sedihnya kan?😉

3. ‘Konspirasi’ Produsen/Penjual Bikin Bingung Konsumen

Adam Smith dengan teori invisible hands-nya mengimplikasikan bahwa dengan adanya persaingan yang sempurna, konsumen bakal diuntungkan dengan harga barang yang paling kompetitif. Contoh kasusnya: Penjual beras A bisa saja menjual harga berasnya per kg Rp5.500, Rp7.000, atau bahkan Rp10.000, tetapi kalo ada penjual B di seberang warungnya yang ngejual beras kualitas serupa dengan harga Rp5.000, mana ada pembeli rasional yang akan datang berbelanja ke warungnya? Gak akan ada, minimal kata teorinya Adam Smith tadi. Pada akhirnya, para penjual akan saling bersaing memberikan harga terbaik dengan kualitas harga termurah, dan konsumen lah yang akan diuntungkan.

Sayangnya, kehidupan nyata tidak seindah yang dideskripsikan Adam Smith. Membandingkan harga beras dengan kualitas yang sama memang memberikan keunggulan bagi konsumen untuk memilih warung dengan harga termurah, tetapi ternyata beras itu sendiri beragam-ragam kualitasnya. Apakah beras Rojolele itu benar-benar setara mahalnya dengan kualitas bila dibandingkan dengan IR-64? Dengan beras pandan wangi? Dengan beras Raskin?

Gantilah produk beras tadi dengan laptop (screen size, prosesor, memory, hard disk, model), handphone (OS, screen size, form factor, memory, storage, fashion), sepeda (rangka, brake, gear, model), motor (cc, model, fuel injection), mobil (model, cc, seat, aksesoris), rumah (lokasi, bahan bangunan, fasilitas umum), dan puluhan bahkan ratusan barang-barang kebutuhan lainnya. Produsen berlomba-lomba memberikan ribuan pilihan alternatif produk kepada konsumen, dengan harapan konsumen tidak memiliki cukup waktu, dan kecerdasan untuk memahaminya sehingga akhirnya secara irasional memutuskan membeli produk (dengan margin keuntungan tertinggi bagi produsen).

4. Price as a signal

Berdasarkan teori ini, sebagai kelanjutan dari kebingungan konsumen atas informasi produk yang berlebihan, maka harga akan berfungsi sebaga filter dari kesanggupan setiap individu untuk membayar. Sepeda harga Rp60 juta itu adalah sinyal bagi produsen bahwa ada ceruk konsumen yang mampu dan mau membayar harga tersebut. Apakah sepeda Rp60 juta itu 100 kali lipat lebih baik dari sepeda Rp600 ribu? Kemungkinan besar tidak.

5. Well, I just could buy it

Terakhir, harga-harga yang konyol itu adalah bukti bagi yang si pembeli: saya mampu!

Sebagai contoh kasus, ada aplikasi di iOS bernama I am Rich seharga USD999,99. Aplikasi ini gak ngapa-ngapain, cuma nunjukkin layar dengan gambar permata berwarna merah plus tulisan:

I am rich
I deserv [sic] it
I am good,
healthy &
successful

Aplikasi ini juga dideskripsikan sebagai, “a work of art with no hidden function at all”, dengan tujuan untuk pamer ke orang lain bahwa sang pembeli aplikasi mampu beli. Pamer! Show off.

Dengan fungsi gak jelas dan waktu penjualan di Apps Store hanya satu hari (aplikasi ini langsung ditarik oleh pihak Apple hari berikutnya), ada  8 (delapan) pembeli aplikasi. Yes, you’ve read it right, DELAPAN!

Nah, kalo contoh aplikasi I am Rich belum cukup, pada tahun 2008, Saeed Abdul Gafour Khouri, pebisnis dari United Arab Emirates (UAE) membayar USD$14.3 juta (setara Rp143 miliar) untuk lelang pelat nomor kendaraan. Nomor kendaraannya? 1.

Kesimpulannya?

Membingungkan. Banyak teori, banyak yang berusaha menjelaskan. Tapi itulah kenyataan hidup… Enjoy the days, guys…

Terakhir, itu sepeda tetep dipake kan, gak nganggur di belakang rumah?

Wooo, tentu saja… Ini buktinya:

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Tentang Sepeda (dan Barang-Barang ) yang Harganya Konyol

  1. uthe berkata:

    enak baca tulisannya gan!….

  2. Enak se bacanya, tapi kurang objektif, menurut saya anda risetnya kurang greget!

    Maaf ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s