13 Hari Tanpa Televisi

Yes, you’ve heard it right! We can actually live without television, at least for these 13 days…

Jadi asal muasalnya, TV jadul saya, Samsung 21 Inch Seri CS-21T20MQ, mogok menjalankan tugasnya per 15 Juli yang lalu. Setelah setia menemani selama hampir 8 tahun, sang televisi yang pada zamannya bagi saya udah paling keren ini harus menjalankan purna tugasnya, pensiun.

Keluhan sama TV CRT ini sebetulnya sudah agak lama: gambarnya mulai menyempit ke kiri dan kanan sejak 2 tahun terakhir, persis seperti yang ditulis oleh sang teknisi di postingan yang ini. Paling terasa penyempitan ini adalah kalo lagi nonton MotoGP: alih-alih di pojok kiri atas itu tertulis: Lap 11 of 27, yang tertulis malah cuma …of 27! Jumlah lap-nya sendiri malah gak keliatan… :roll Diskusi sama manajer keuangan di rumah a.k.a istri memutuskan: biarin lah gambarnya kepotong-potong yang penting masih bisa diliat! Ya sud…

Sampe akhirnya saat yangg (tidak) dinanti-nanti itu tiba: tiba-tiba sang TV mati sendiri, abis itu nyala lagi, mati lagi, nyala lagi… spooky bener! Tadinya udah curiga bakal ada penampakan tapi setelah gejala mati idup itu berlangsung selama sekitar sehari, akhirnya sang TV gak nyala sama sekali! Wassalam… Kadar ke-spooky-an rumah pun kembali ke level normal.🙂

RIP, my Samsung CS-21T20MQ. You’ve done a great job…

Nah, pertanyaan maha penting selanjutnya yang akan menentukan gaya hidup keluarga di Puri Mutiara Japos No.8 selama bertahun-tahun ke depan adalah:

Perlu beli TV baru gak nih?
Apa yang lama di-servis aja?
Kalo beli yang beli, enaknya beli TV jenis apa ya?
Belinya di mana?
Eh, beidewei, ada gak nih duitnya?

Oke, kita bahas satu per satu…

Perlu beli TV baru gak nih?

Well, for sure untuk soal yang sepertinya sepele ini saja bisa panjang loh pembahasan filosofisnya. Di postingan yang ini dan yang ini, dijelaskan betapa berbahayanya acara TV yang ada sekarang, lebih banyak mudharatnya, dan bahkan bisa dikatakan haram untuk menontonnya. Emh… *elus-elus jenggot…

Lain lagi di sini, survey-nya The Rowntree foundation tentang batas kemiskinan di Inggris menyatakan bahwa, “a television was regarded as necessary to participate fully in society.”

Whoaa… pantesan selama dua minggu ini saya merasa kurang bisa bergaul dengan masyarakat sekitar, ternyata karena saya gak punya TV toh… *angguk-angguk dan kembali elus-elus jenggot….

Sebenernya era hidup tanpa TV ini pernah saya alami selama 2 taun full selama nge-kos di Jalan Kaca No. 12, Pondok Jaya, sewaktu kuliah DIII STAN tingkat I dan II. Kos saya waktu itu emang berupa rumah yang dikontrak bareng-bareng, tanpa ada TV. And I’m doing fine, actully… selain saya gak paham siapa itu Cecep dan kenapa Cecep harus diperankan oleh Anjasmara?

Oke, mengingat era 13 tahun yang lalu itu era sebelum Google memutuskan untuk IPO dan saya sendiri belum punya keluarga dan anak, apa yang terjadi dengan keluarga saya, dan saya, ketika di rumah gak ada TV? Kayak gini:

  • Seminggu pertama, Athifa biasa-biasa aja. Meski setiap hari pas ada TV Athifa selalu sakau nonton Spongebob dan berbagai film kartun, Athifa masih biasa saja. Di seminggu awal malah tiap siang Athifa bisa tidur siang, hal yang gak pernah kejadian selama ada TV. Kita malah sempet kepikiran, “ya udah deh, kalo emang Athifa jadi tidur siang begini gak punya TV juga gak papa.” Sayangnya hal ini hanya bertahan seminggu. Di minggu kedua, kebiasaan tidur siang menghilang, dan selalu repot nanya, “Papa… TV-nya mana?”
  • Istri sih biasa-biasa aja, minimal pengakuannya begitu. Selama ini udah repot sama Aqlan, udah gak sempet nonton TV katanya.
  • Saya sendiri bengong-bengong pas buka dan sahur. Dan hei… saya ketinggalan nonton Para Pencari Tuhan Jilid 6…😦. Saya sendiri menganggap TV itu hanya alat, tergantung kita sebagai pemiliknya mau pake buat apa. Dari sekian ratus program gak jelas yang ada TV, masih ada koq yang layak nonton. Kalo pun udah gak ada yang layak nonton, tinggal dimatiin. Beres urusan!

Sori pak Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani, kayaknya saya belum bisa meninggalkan yang mudharat-mudharat ini, dan malah setuju survey-nya The Rowntree foundation, kalo emang punya duit beli aja itu TV, penggunaannya yang terserah kita.

So, pertanyaan selanjutnya:

Kalo jadi beli TV, enaknya beli TV jenis apa ya?

Saya ini termasuk tipe orang yang seneng riset dulu sebelum memutuskan beli barang elektronik. Liat-liat spesifikasi, liat tesminoni, keluhan-keluhan pengguna, liat perbandingan harga, kira-kira bakal keluar model baru lagi gak?

Kebiasaan riset ini lah yang bikin saya terselamatkan untuk gak beli iPad: waktu iPad 1 keluar dan diminati banyak orang, baca review kalo iPad 2 bakal lebih ciamik dan ada kameranya. Nah, pas iPad 2 keluar di Indo kan telat banget tuh rilisnya, jadinya udah kebayang nungguin yang iPad 3 aja deh, ada retina display-nya. Pas iPad 3 akhirnya rilis di Indonesia tanggal 29 Juni kemaren dan saya siap-siap beli… TV di rumah rusah…😦. Sorry Apple, I’ve heard that you’ve hoarded a lot of cash there, won’t give any additional trouble managing extra money from myself…🙂

Dan urusan riset beli TV inih? Oooo…boy you’ll have a big headache, believe me. Ada CRT, LCD, LED, dan plasma. Ada 3D, ada internet TV, ada resolution, contrast ratio, real black. Belum lagi urusan peripheral kayak HDMI port, USB port, RF, audio in…

Piye, enak zaman pak Harto toh? Pada masa itu, mau beli TV gak perlu repot-repot baca spesifikasi…🙂

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s