Ibu Gubernur, Mohon Maaf Karena Saya Melanggar Ketentuan UMK

Yth. Ibu Gubernur Banten,

Sehubungan dengan penetapan aturan Upah Minimum (UMK) Kota Tangerang sebesar Rp1.529.000, melalui Keputusan Gubernur Banten Nomor 561/KEP.2-HUK/2012 Tentang Perubahan besaran UMK dan pengaturan Upah Minimum Sektoral (UMS), yang mengalami kenaikan dari Rp1.381.000 berdasarkan Keputusan Gubernur Banten Nomor 561/ Kep.886-Huk/2011 tanggal 21 November 2011, dengan ini dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Dengan tidak menambah rasa (tidak) hormat saya atas track record Ibu sebelumnya, melalui surat ini saya mohon maaf karena saya telah melanggar ketentuan mengenai UMK di Kota Tangerang. Perlu Ibu ketahui bahwa saya hanya sanggup menggaji Asisten Rumah Tangga (ART) saya sebesar Rp300.000 per 4 (empat) minggunya. Jauh di bawah standar UMK yang Ibu tetapkan.
  2. Sang ART, Ibu Sri namanya, bekerja di rumah kami dari mulai pukul 13.00 sampe selesainya pekerjaan, biasanya sekitar pukup 17.00. Tanggung jawab pekerjaannya: nyuci, nyetrika, ngepel, masak, dll. Oh, mungkin Ibu juga lebih tau soal ini karena Ibu juga pasti punya ART di rumah, dan jumlahnya pasti lebih dari satu, tidak seperti saya. Kalau boleh tau, berapa Ibu menggaji ART-ART di rumah Ibu? Saya yakin gaji ART-ART Ibu sudah melampaui UMK yang Ibu tetapkan.
  3. Perlu Ibu ketahui juga, tetangga sebelah saya juga telah melanggar ketentuan UMK minimum itu lho, dan juga tetangga di pojok itu, teman-teman saya di kantor juga setau saya semuanya melanggar ketentuan UMK terkait, karena kami semua tidak sanggup membayar ART kami sesuai standar UMK. Maaf ya, Bu.
  4. Saking banyaknya ART yang dibayar di bawah standar UMK ini, minimal menurut pengamatan saya pribadi, setau saya merupakan bukti nyata bahwa ada hukum yang jauh lebih powerful dibandingkan hukum yang ditetapkan, termasuk peraturan UMK yang Ibu tetapkan, yaitu hukum permintaan dan penawaran (The law of supply and demand). Jadi, pas saya sedang butuh ART, demand for labor saya ini bertemu dengan supply for labor dari Ibu Sri, dengan ketentuan-ketentuan yang kami sepakati bersama (jam kerja siang-Ibu Sri kerja di rumah yang lain di pagi hari, jatah libur, boleh bawa makanan yang Ibu Sri masak, dan terakhir gajinya). Menurut bahasa economics, katanya sih equilibrium sudah tercapai (ah, soal ini pun Ibu pasti udah paham kan?). Saya senang karena pekerjaan rumah tangga istri saya sangat terbantu dengan adanya Ibu Sri, dan Ibu Sri pun senang (setidaknya menurut pengamatan ekspresi wajah selama bekerja di rumah, dan mengingat beliau sudah bekerja di rumah kami hampir setahun). Equilibrium tercapai, kami pun sama-sama senang. Ah, indahnya dunia…
  5. Dengan pelanggaran berjamaah ini, yang berarti peraturan UMK diabaikan dan juga berarti nyaris tidak ada UMK ini sektor ART, saya sih hanya bisa berkesimpulan bahwa  pelanggaran berjamaah ini justru malah membuka peluang pekerjaan bagi Ibu Sri dan teman-temannya. Seandainya semua ART wajib menerima gaji sesuai standar UMK, saya dan teman-teman pelanggar lain tentu tidak akan sanggup membayar ART kami. Konsekuensinya, kami akan keluar dari pasar employer ART, dan mungkin sebagian besar employee ART juga tidak akan bisa bekerja lagi karena kurangnya supply employer. Hasil akhirnya, rumah kami tentu akan jauh lebih berantakan, but are still fine karena istri saya tidak bekerja dan kami pernah berbulan-bulan mengalami tidak punya ART, tapi Ibu Sri pun mungkin tidak akan punya penghasilan tambahan, dan juga ART-ART lain.
  6. Berdasarkan analogi argumen di nomor 5 (lima), bagi saya ini merupakan pembelajaran penting dari bukti nyata dari hukum yang juga berlaku di dunia ini, yaitu the law of unintended consequences. Peraturan tentang UMK ini, seandainya diterapkan sepenuhnya, justru akan menghalangi para buruh dengan keahlian rendah atau tanpa keahlian (low skilled labour) untuk memasuki pasar tenaga kerja. Secara ekonomi keseluruhan, penerapan UMK di sektor tertentu justru akan berakibat negatif bagi perekonomian. Untungnya, kami di Indonesia ini sudah semakin ahli dalam ‘tidak memedulikan’ peraturan. Oh ya, ini hanya berdasarkan common sense saya loh Bu, belum pake data apa pun.
  7. Oh ya, saya masih tetep pengen tau gaji dari para ART yang Ibu pekerjakan berapa ya?

Demikian kami sampaikan, atas perhatian Ibu kami mengucapkan terima kasih.

Hormat saya,

MAMAN FIRMANSYAH

*Disclaimer: Akhir-akhir ini, saya sedang terpengaruh dengan pemikirannya Hayek, dan Austrian School-nya, jadi mungkin tulisan ini sangat bias.  Kalo sempet, saya ulas pro-kontra tentang upah minimum ini. Sepertinya sih tidak sempat…🙂

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ibu Gubernur, Mohon Maaf Karena Saya Melanggar Ketentuan UMK

  1. Ping balik: Menyikapi Kisruh Upah Minimum « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s