Berapakah Harga Kelalaian Berlalu Lintas?

Duka Victor Herrera

Jika seandainya dilakukan survey korelasi kausalitas, saya yakin akan ada penelitian yang berkesimpulan: “sebagian besar lampu merah di Jakarta berpotensi menimbulkan buta warna temporer.” Tidak percaya? Lihat saja kelakuan pengendara sepeda motor, sopir angkutan umum, dan bahkan mobil pribadi di lampu merah di Jakarta. Ngebut pas lampu kuning, sudah mulai mengklakson dan menjalankan kendaraan ketika lampu hijau belum nyala, dan bahkan nerobos lampu yang jelas-jelas merah.

Ketika seseorang menerobos lampu merah, di lalu lintas kota Jakarta kita tercinta ini  mungkin bisa berarti:

  1. Tidak berakibat apa-apa, dia selamat, orang laen selamat, lalu lintas tetep lancar, bahkan kena tilang polisi pun nggak;
  2. Kena tilang polisi, setelah sebelumnya disuruh minggir atau dikejar motor polisi;
  3. Bikin macet perempatan karena kendaraan dari arah kiri dan kanan tidak bisa jalan karena stuck;
  4. Kecelakaan, dari paling ringan sampe paling parah.

Seseorang mungkin beruntung ketika kejadian 1 sampe 3 yang kejadian, tapi apa yang akan terjadi dengan kejadian 4? Masih belum bisa menggambarkan juga, okeh, coba dibayangkan perasaan Victor Herrera, yang istrinya, adik iparnya, anaknya, dan calon anaknya meninggal karena ditabrak Joseph Gray (yang seorang polisi) yang nerobos lampu merah!

Ringkasnya begini, 4 Agustus 2001, Maria Herrera (istri Victor Herrera), 24 tahun; anaknya Andrew, 4 tahun; dan adiknya Dilcia Pena, 16 tahun; meninggal seketika setelah minivan yang dikendarai Joseph Gray menerobos lampu merah, nabrak ketiga bersaudara tadi, dan bahkan menyeret-nyeret badan Andrew di fender bagian depan minivan hingga setengah blok! Duka itu belum selesai karena Maria Herrera ternyata sedang mengandung 8,5 bulan, yang kemudian dilahirkan dengan bedah caesar walau akhirnya tetap meninggal dunia  beberapa jam setelahnya.

Sebuah kelalaian berlalu lintas, yang bisa tidak berakibat apa-apa, dalam kasusnya Joseph Gray ini mengakibatkan 4 (EMPAT) nyawa melayang sekaligus!

Joseph Gray, sang penerobos lampu merah, didakwa dengan tuntutan pembunuhan tingkat kedua dan dihukum 5 sampai 15 tahun di penjara. Meski begitu, Victor Herrera tetap berkomentar, “Joseph Gray, 15 years is not enough for you.” Ya, hukuman apa pun dan kompensasi moneter sebesar apa pun tidak bisa mengembalikan nyawa orang, apalagi sampai 4 orang!

Rangkuman berita berita New York Times tentang kasus Maria Herrera bisa diliat di sini.

Harga sebuah kelalaian lalu lintas bagi Victor Herrera adalah nyawa istrinya, 2 orang anaknya, dan adik iparnya. Bagi Joseph Gray, penjara maksimum 15 tahun! Jadi, ketika suatu saat saya, Anda, atau siapa pun berpikiran untuk menerobos lampu merah, tolong diingat duka Victor Herrera!

Kenapa Tetap Melanggar?

Dan siyalnya, saya hanya membahas satu kelalaian lalu lintas: nerobos lampu merah. Masih ada ngebut melebihi batas kecepatan maksimum, mabuk pas bawa kendaraan, ngantuk pas bawa kendaraan, gak pake helm bagi pengendara motor, nelpon dan sms sambil naek motor atau nyopir, atau gabungan semuanya! Seberapa sering Anda ngelihat biker yang gak pake helm, sambil nerobos lampu merah atau sambil sms/telpon atau sambil ngerokok? Saya sih sering.

Dari sekian banyak aturan lalu lintas, setidaknya bisa dibedakan jadi aturan yang dibuat buat melindungi biker/pengendara mobil itu sendiri (wajib pake helm atau sabuk pengaman, batas maksimum alkohol, dan laen-laen) dan juga aturan yang dibikin untuk melindungi pemakai jalan laen (lampu merah, kecepatan maksimum, dan laen-laen). Sudah selayaknya aturan untuk melindungi pemakai jalan laen jauh lebih diperhatikan oleh individual, dan juga polisi, karena taruhannya nyawa orang laen juga!

Bagi saya, cerita tentang seorang pengendara motor di New York yang meninggal karena tabrakan (dan tidak pake helm) saat dia sedang memprotes aturan kewajiban mengenakan helm, seperti cerita di sini, memiliki harga kelalaian berbeda dengan duka Victor Herrera seperti uraian di atas. Sebuah ironi, meninggal karena tidak pake helm ketika sedang memprotes aturan yang dibuat untuk melindungi dia sendiri.😦

Lantas kenapa ngelanggar aturan lalu lintas?

Banyak penjelasan tentunya, saya hanya menjelaskan sebagian, kayak gini:

1. Manusia adalah Penilai Risiko yang Payah!

Ketika seseorang ditanya mana yang lebih mengerikan (ditinjau dari sudut risiko), antara:

  • Jadi korban gigitan hiu? (bayangkan Jaws!);
  • Jadi korban jatuhnya pesawat terbang? (bayangkan serial Lost!);
  • Jadi korban serangan teroris? (bayangkan Bom Bali!);
  • Jadi korban gempa, tsunami, dan gunung meletus?
  • Jadi korban atau penyebab kecelakaan lalu lintas?

bagi sebagian orang, termasuk saya, akan sangat tidak memedulikan kecelakaan lalu lintas sebagai risiko yang tidak signifikan. Entah karena memang dihadapi sehari-hari, entah karena belum jadi korban, ulasan media yang berlebihan terhadap risiko tertentu, atau karena memang kita emang payah dalam menilai risiko.  Ancaman korban kecelakaan lalu lintas itu nyata!

Selama masa mudik (yang cuma 10 hari saja), korban meninggal sudah mencapai 700 orang (jumlah kecelakaannya sendiri 2.998 kasus), atau setara 6 kali jumlah penumpang Boeing 737-700 dan  3 kali jumlah korban bom bali, dan 70 kali jumlah korban meninggal gara-gara digigit hiu selama setahun di seluruh dunia (jumlah serangan total di seluruh dunia pada tahun 2000 sebanyak 79 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 11 kasus)!

2. Tidak ada efek jera

Selain ketika terjadi kecelakaan (yang berkisar dari lecet, berdarah, gegar otak, patah tulang sampe meninggal), pelanggaran lalu lintas bisa jadi hanya berakibat selamat jalan terus, diteriakin pengendara laen, lalu lintas macet, atau kena tilang (dengan nilai yang bervariasi dari Rp20 ribu sampai Rp50.000, tergantung tingkat kesialan si pelanggar (ketemu dengan polisi yang gimana?).

Apakah karena nilai denda yang ringan ini yang bikin pengendara gak kapok-kapok melanggar? Bisa iya, bisa nggak.

Cukupkah denda yang cuma Rp50.000 itu? Bagi yang kena tilang (mungkin saya, mungkin Anda, atau mungkin siapa pun), angka segitu mungkin udah terlampau tinggi. Tapi coba ditanyakan ke Victor Herrera, nilai tilang berapa yang pas untuk pelanggar lampu merah? Hal ini jadi pokok bahasan Duncan J. Watts, di Bab Fairness and Justice di bukunya, Everything is Obvious: Once You Know the Answer. Silakan ditengok…

Di hari kedua saya menghirup udara Adelaide, salah satu nasehat yang saya peroleh adalah, “Don’t underestimate the ability of (Australian) government to fine you!” Di Adelaide, semua denda atas pelanggaran adalah berat dan mahal (bahkan untuk ukuran Australia), tetapi yang lebih penting adalah: setiap pelanggar pasti dihukum (denda)! Kepastian seperti ini yang tidak ada di Indonesia, sehingga orang masih bisa berkesimpulan: “ah, gue kena tilang karena lagi sial ajah, kemaren-kemaren ngelanggar juga gak apa-apa!” Mudah-mudahan saya salah…

3. Mari melanggar aturan bareng-bareng!

Apa yang akan dilakuka ketika biker di depan Anda sudah melaju nerobos lampu merah? Begitu juga ketika biker lain ngelawan arus lalu lintas? Bagaimana ketika ada biker yang gak pake helm dan juga sms-an? Kalikan dengan fakta bahwa petugas polisi ternyata ngebiarin si pelanggar?

Kalo berdasarkan pengalaman saya, orang akan dengan segala pembenaran ngelanggar aturan kalo udah ada temennya. Calon pelanggar merasa dapet kekuatan dan pembenaran ketika ada pelanggar laen (yang ternyata bisa melakukan pelanggaran yang sama). Entah diatribusikan ke herd behavior atau crowd psychology, yang jelas: manusia sering merasa dapet kekuatan laen ketika bertindak bersama-sama.

Ada yang mau menambahkan penjelasan?

Gabungan dari 3 faktor di atas dan faktor-faktor laen (yang tentunya masih banyak) dan saling terkait satu sama lain secara keseluruhan memberikan pola insentif dan disinsentif bagi pengendara di Jakarta untuk berdisiplin lalu lintas, atau tidak berdisiplin lalu lintas. Dengan segala konsekuensinya.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s