Anakku Kecanduan Sekolah

Err.. lebih tepatnya kecanduan waktu maen pas sekolah, sih.

Flash back, kurang dari 2 tahun yang malu, sekitar 3 bulan setelah nyampe pulang dari Adelaide:

“Pa, kata psikolognya Athifa itu HDD?”

“HDD? Hard disk drive maksudnya? Buat di laptop apa di PC?”

“Nggak tau, pokoknya dibilangin HDD terus dibilangin kalo mau diterapi biayanya 150 rebu per pertemuan.”

Dialog absurd ini terjadi setelah istri saya, Ibu mertua, sama Athifa konsultasi gratis ke seorang psikolog tumbuh kembang anak di daerah Bintaro. Gratis karena sesuai iklannya, “konsultasi pertama gratis”, itu pun anaknya gak boleh ketemuan ..

Jadilah istri saya pun cerita tentang Athifa ke psikolog, sendirian, sementara Athifa diasuh mertua saya di luar. Yang diceritain, kelakuan Athifa waktu itu yang: ketakutan sampe nangis kejer kalo ketemu orang baru, gak respon kalo diajak maen sama temen sebayanya. Keluar lah diagnosis HDD tadi, mungkin yang dimaksudkan adalah ADD, Attention Deficit Disorder, atau mungkin ADHD, Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Salah dua jenis autism.

Waktu itu saya tidak setuju dengan sang psikolog. Selain karena biaya konsultasi yang ekstra mahal, cukup untuk beli satu set mainan edukatif (yang dipake sama psikolog selama masa konsultasi), saya juga menganggap kalo sang ahli autism sudah terkena syndrome: “‘if the only tool you have is a hammer, you tend to see everything as a nail.”

And so the story goes, Athifa semakin membaik dalam hal hubungan interpersonal: mau maen sama anak2 laen! Seiring membaiknya kemampuan komunikasi, Athifa yang malah semangat ngajak maen anak2 kecil tetangga rumah.

Sampai saat datangnya satu pertanyaan besar yang harus dijawab: Athifa, to school or not to school?

Urusan sekolah ini sedikit rumit karena dua isu :

1. Athifa pernah drop out sekolah!

Jadi ceritanya, pas Athifa umur dua tahunan, pernah ngalamin ikut sekolah PAUD, di musholla RT yang lumayan jauh juga dari rumah. Hari pertama sekolah, Athifa ditonjok, literally, sama temannya. Pengalaman yang tidak terlalu menyenangkan dan hampir bikin ibu mertua mau nyantronin rumahnya anak yang mukul Athifa, untung gak jadi.

Lanjutlah Athifa sekolah PAUD dua hari seminggu, lebih banyak bolosnya, dan pas akhir semester sempet dapet rapor. Yeah, there you go, rapor buat sekolah PAUD? What’s next?

Selesai dapet rapor, Athifa sama sekali berhenti dateng ke PAUD. Bukan karena nilai rapornya yang jelek, juga bukan karena takut sama anak yang dulu sempet mukul, tapi karena alasan yang kedua, yaitu

2. Siklus tidur Athifa yang Aneh

Selepas pulang dari Australia, siklus tidur Athifa jadi begini: tidur paling awal jam 11 malem, bisa jam 2 atau jam 3 pagi kalo magribnya tidur siang dulu. Dan bangunnya? Paling cepet jam 10 pagi, biasanya jam 11. Dengan jam bangun tidur km segitu, Athifa pun sukses gak dateng2 lagi ke sekolah PAUD, officially drop out! Cool, eh!

Dengan kendala nomor dua dan kemampuan berbicara Athifa yang, pada saat itu, terbatas bikin saya dan istri jadi agak ragu buat nyekolahin Athifa. Mungkin tahun depan lagi kalo Athifa udah lebih lancar ngomong, atau mungkin kita cari Playgroup PGRI yang bukanya jam 3 sore biar cocok sama jadwal bangunnya Athifa.🙂

Sampe saat yang indah pada waktunya itu tiba: Athifa semakin lancar ngomong, semakin lancar bersosialiasi, ada sekolah di samping rumah playgroupnya gak diajarin baca tulis, dam waktu tidurnya semakin bisa diatur. Jadilah Athifa didaftarkan sekolah, dengan biaya relatif mahal, dengan asumsi Athifa gak bakalan mogok sekolah.

Karena dekat rumah, ada program ‘aklimatisasi’ sebelum Athifa sekolah, diajak maen ke lingkungan sekolahnya. Dan terjadilah apa yang jadi judul artikel ini, Athifa sakau buat pergi ke sekolah.

Dengan jadwal tidur paling malem jam 9, jam 7 pagi Atjifa udah siap bangun pagi.

Dari kewajiban dateng ke sekolah minimal tiga hari, Athifa dateng 5 hari, dari Senin sampe Jumat. Dari waktu sekolah yang seharusnya selesai jam 10.30, Athifa pulang terakhir jam 12.00, bahkan setelah guru-gurunya pulang!

Yang terbaru, bahkan hari Sabtu dan Minggu pun tetep minta pergi ke sekolah. Maeeen…!

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Anakku Kecanduan Sekolah

  1. Ping balik: Ketika Senyum Tak Lagi Cukup (?) « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s