Hapuskan Cuti Bersama!

These days, tidak butuh upaya besar untuk mengkritisi pemerintah. Di era keterbukaan informasi dan ‘pengamat’ yang bertaburan di mana-mana, mengkritisi pemerintah tidak butuh energi berlebih. Tambahkan pula kenyataan bahwa pemerintah kita memang rajin memberikan ‘amunisi’ kritik berupa kebijakan yang layak dikritik, oleh siapa pun.

Akan tetapi, kebijakan cuti bersama yang diambil oleh Menko Kesra, Menteri Agama, dan Menteri Tenaga Kerja, pada hari Jumat, 13 Mei 2011 pukul 16.18 (berita pertama di detik.com), sudah keterlaluan adanya, notoriously stupid, dan tidak perlu. Here are my thought on this issue.

Kebijakan dibikin Mendadak, GeJe

We’re actually almost accept ‘cuti bersama’ as a fact of life and inevitable, as inevitable as that ‘sosis so nice advertisement’.;)  Tapi cuti bersama tanggal 16 Mei 2011 ini luar biasa mendadak, dibikin Jumat pagi, dan diumumkan melalui rilis media Jumat sore. Alasan cuti bersama? “dalam rangka efisiensi dan efektivitas hari kerja.” What the…

Lucunya, pas tahun 2009 ketika pemerintah memutuskan untuk mengurangi cuti bersama dari 5 hari menjadi 4 hari, alasan ‘peningkatan produktivitas dan efisiensi kerja’ juga dipake. Sampe sekarang pun, alasan ditetapkannya tambahan cuti bersama ini teuteup gak jelas. What a country we live in, eh..

Tujuan awal digagasnya kebijakan cuti bersama, yaitu pengen memajukan industri pariwisata yang terpukul gara-gara bom Bali, juga saya yakin tidak akan tercapai dengan adanya kebijakan dadakan ini. Gimana mau nyusun agenda liburan coba kalo pengumumannya aja dibikin H-1 begini?

Karena dibikin dadakan, bermunculan teori konspirasi asal muasal kebijakan cuti bersama ini, sebut saja:

  1. Agar pembahasan RUU BPJS antara DPR dengan pemerintah pada tanggal 16 Mei 2011 gak jadi, thus, pembahasan RUU BPJS semakin tertunda. Tidak tanggung-tanggung media sekelas Kompas, 14 Mei 2011, mengulasnya.
  2. Liburan panjang selama 4 hari, jadi arena buat Densus 88 show-off penangkapan teroris,  tujuannya ‘pengalihan isu’. Tidak lain dan tidak bukan yang ngeluarin isu ini adalah, @guritaglobal.

Do I plan for myself or leave it to you?

The question I ponder is who plans for whom?
Do I plan for myself or leave it to you?
I want plans by the many, not by the few.
    Fight of the Century: Keynes vs. Hayek Round Two

Ada yang lebih fundamental secara filosofis terkait cuti bersama ini, yaitu pertanyaan: sejauh mana peranan pemerintah dalam kehidupan warga negara? Meski pemerintah berdalih bahwa kebijakan cuti bersama ini ditujukan bagi PNS, mau tidak mau disadari bahwa cuti bersama ini mempengaruhi sektor swasta dan masyarakat pada umumnya.

Bagi saya, cuti itu adalah hak pegawai, dan pemerintah tidak memiliki hak untuk mengambil kembali, secara paksa, hak yang telah diberikan kepada PNS, dalam bentuk cuti bersama. It against the free will, free mind, freedom to act and plan, dan free free lainnya (tidak termasuk free goods dan freeware).

Seharusnya, kepada kami para PNS ini diberikan kebebasan untuk menentukan kapan dan seberapa lama atas hak cuti yang telah menjadi milik kami, karena kami telah dewasa dan dapat mengatur sendiri rencana cuti kami. Pemerintah tidak dapat dan tidak berhak untuk ngatur-ngatur bahwa kalo hari kejepit maka lebih efektif dan efisien kalo PNS libur; kalo libur lebaran maka kami juga musti nambah libur, dst.

Dengan kombinasi individual planning yang efisien, secara aggregat akan diperoleh planning yang efisien. Central planning, apalagi dengan kualitas birokrasi seadanya kayak di Indonesia justru lebih banyak mudharatnya daripada manfaat.

Dengan segala carut marut pelaksanaan cuti bersama: pelanggaran hak PNS, alasan yang gak jelas, kebingungan penerapan (bagaimana dengan karyawan kontrak yang belum/tidak berhak menikmati cuti? Bagaimana dengan karyawan yang cuti tahunannya telah ludes, apakah mesti ngutang cuti?), sudah saatnya kita dukung: hapuskan kebijakan cuti bersama!

ps. Suka atau tidak suka, saya tetep cuti bersama pada tanggal 16 Mei ini.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Itulah Indonesia. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s