Arifinto.. at Its Best

A Note to Myself

Postingan ini sebelumnya  sudah hampir dipastikan batal di-publish, mengingat ke-tidak update-annya. Namun, setelah hari Selasa, 19 April 2011, diketahui bahwa ternyata Arifinto belum juga mundur juga dari DPR, masih ikut rapat di Majelis Syura PKS, dan masih pengen ikut kunjungan kerja ke konstituen pada saat reses (dengan alasan absurd: “kan kunker reses sudah saya tanda tangani nanti kalau saya tidak berangkat dibilang korupsi”) dan, katanya, baru akan mengajukan surat pengunduran diri setelah reses DPR, sepertinya postingan ini masih layak di-publish untuk mengingatkan saya akan ‘hikmah’ yang bisa diambil dari kasus ini.

Contradiction… at its best

Akhir-akhir ini, saya menyaksikan kumpulan peristiwa yang saling berkontradiksi satu sama lain. Sebuah kumpulan kejadian paradoksal yang sangat menarik untuk dipelajari dan diambil hikmahnya, dipelajari berbagai reaksi yang konsisten dan inkonsisten, atau bahkan bisa jadi pertanda bahwa kita tidak belajar apa pun. Perhaps, we’re actually learn nothing!

Kontradiksi yang pertama kali menarik perhatian saya adalah kasus IPO Krakatau Steel (KRAS) dan IPO Garuda Indonesia (GIAA). Proses IPO KRAS diwarnai dengan tuduhan undervalued saham, dengan segala intrik politik dan tuntutan pembatalan IPO-nya oleh sekumpulan ‘economist’ .

Entah terpengaruh dengan kisruh IPO KRAS atau tidak, harga saham IPO GIAA justru diketahui selanjutnya dinilai over-valued. Yang jelas, kabarnya Menteri BUMN Mustafa Abu Bakar menentukan harga IPO GIAA melalui sholat istikhoroh!  Perusahaan sekuritas yang menjamin pun kelimpungan dan perlu disuntik modal. Apakah Mustafa Abu Bakar tidak belajar dari pengalaman, atau salah belajar dari pengalaman (IPO KRAS)?

Selanjutnya adalah isu kekerasan terhadap agama. Yang menarik perhatian saya adalah bahwa ada sekumpulan orang yang begitu lantangnya menyuarakan kepentingan kaum minoritas, dengan memprotes keras, menyatakan ketidakpercayaan dengan pihak kepolisian, dan berdemo di bundaran HI pake pita hitam segala. Akan tetapi, ketika bom di masjid polres Cirebon meledak, orang-orang yang sama malah: baru berkomentar setelah didesak, mendesak menyerahkan segala proses penyelidikan ke pihak kepolisian, dan belakangan ketika diketahui pelaku bom bunuh diri ditengarai dari kelompok islam garis keras seolah bilang: “tuh kan gue bilang juga apa?”.

Rupanya yang jadi pokok permasalahan memang bukan kekerasannya (terhadap suatu kelompok, minoritas atau pun minoritas), tapi kekerasan terhadap kelompok yang mereka dukung. Reaksi berbeda diperoleh ketika kekerasan terjadi terhadap mayoritas.

Dan puncak dari segala kontradiksi ini adalah tentunya kasus Arifinto, sang pariporno star. Dengan segala isu blokir konten porno yang didengungkan Menkominfo Tifatul Sembiring Meliala (sang Menkominfo kolega dari Arifinto), jargon bersih dan bermoralnya PKS, dan UU Anti Pornografi yang didukung PKS, Arifinto nonton video bokep di sidang paripurna, beberapa saat sebelum sholat Jumat. Geez, what a world we live in!

Pemahaman Saya tentang Kasus Arifinto

Sebelum membahas, perlu saya sampaikan pemahaman saya atas kasus ini, yang akan menjadi dasar ulasan saya selanjutnya, yaitu:

1. Arifinto ketangkep kamera fotografer Media Indonesia M. Irfan lagi buka konten porno saat sidang paripurna DPR. Foto-foto M. Irfan bisa diliat di sini.

2. Foto itu bukan rekayasa, atau setidaknya belum terbukti sebagai foto rekayasa

Setidaknya belum ada bukti yang menunjukkan bahwa wartawan Media Indonesia M. Irvan merekayasa foto-foto tentang Arifinto, selain teori konspirasi di sini dan di sini. Tanggapan atas isu rekayasa foto ini bisa diliat di postingan yang ini.

3. Arifinto buka folder, bukan link

Dari kumpulan foto Arifinto yang dipublish di MI.com, saya berkesimpulan bahwa Arifinto MEMANG membuka folder, bukan link e-mail sebagaimana diakui oleh Arifinto. Membuka link di Galaxy Tab tentu akan terlihat Android Browser, bukan folder dan tampilan thumbnail dari beberapa gambar. Ketidakmampuan Arifinto menunjukkan e-mail, link, atau pun browser history atas pengakuannya menjadikan argumen Arifinto menjadi lemah selemah-lemahnya.

4. Arifinto nonton Video Porno, tidak hanya beberapa detik

Dengan segala pembelaan diri dan pengakuan Arifinto, saya koq ya lebih percaya pengakuan wartawan MI yang bilang kalo Arifinto, setidaknya, nonton film porno selama 2 menit, lebih dari beberapa detik yang diakui Arifinto. Hal ini didukung dengan beragam foto Arifinto dengan Galaxy Tab dari posisi portrait ke posisi landscape.

It’s all about expectation

Sebagian menganggap bahwa kelakuan Arifinto sang pariporno star ini manusiawi, manusia juga dapat membuat kesalahan, dan perlu dimaklumi karena sedang khilaf. Dalam hal ini, Arifinto sedang menjadi ikhwah khilaf, bukan ikhwah fillah. Saya bisa memahami bahwa Arifinto memang manusia biasa, yang bisa melakukan kesalahan. Selain Arifinto, saya juga paham kalo Deni juga manusia, manusia ikan, tepatnya.🙂

Namun urusannya sekarang sudah jatuh ke urusan ekspektasi: permasalahan timbul ketika kenyataan itu berbeda dengan harapan. Kalo kita lihat harapan moral yang tinggi terhadap wakil rakyat tentu lebih tinggi dari harapan seorang preman pasar, apalagi ternyata sang wakil rakyat ini juga seorang ustadz, juga seorang pendiri majalah Sabili, juga rutin menulis di beberapa majalah islam, juga dari partai yang terkenal dengan dakwahnya, dan juga..juga lainnya.

Kalo kita lihat, dengan segala permisifnya warga Ameriksa Serikat terhadap moral dan pornografi, perilaku nyleneh blow job-nya Monica Lewinski terhadap Clinton tetap dikritik habis-habisan oleh rakyat Amerika, dan hampir berujung impeach meski gak sukses. Begitu juga dengan kasus anggota dewan di Australia yang mengakses situs porno dari komputer kantor. Meski pun begitu, ada juga yang menyajikan fakta bahwa ada anggota senat Amerika yang mengakses porno dan tidak mundur.

Tambahkanlah segala ekspekstasi yang tinggi terhadap wakil rakyat, apalagi dari PKS, tersebut dengan kenyataan bahwa Arifinto membuka video porno tersebut pada saat sidang paripurna, di mana seharusnya dia berkonsentrasi mewakili konstituennya, maka bagi saya semua reaksi media, twitterland, kaskus, dan lain-lain menurut saya wajar saja.

Semua penghalusan (bahwa Arifinto itu manusia biasa) dan bahwa lantas Arifinto lantas mengumumkan pengunduran dirinya, tidak lantas menjadikan perilaku Arifinto menonton video porno pada saat sidang paripurna lantas dibenarkan, secara etika maupun hukum.

My initial reaction when I read about Arifinto was like, “Geez, what the hell is he thinking?”

Hipocrisy at its best

Hypocrisy is an unconscious self-contradiction: a state of incongruence between one’s professed beliefs and feelings and one’s actual beliefs and feelings, or an application of a criticism to others that one does not apply to oneself.

Kasus Arifinto ini menjadi contoh nyata inkonsistensi antara pencitraan dan kelakuan. Saya tidak bisa menemukan data terkait kegiatan Arifinto sebelum kasus ini terjadi. Almost nothing, selain fakta bahwa dia juga pendiri majalah Sabili dan kontributor di majalah Waqfah. Hipocrisy terjadi karena apa yang dilakukan oleh Arifinto ini tidak sesuai dengan risk profile-nya.

Saya tidak bisa berandai-andai: apakah reaksi media dan kekecewaan banyak orang juga akan terjadi kalo yang mengkases video porno di sidang paripurna ini adalah anggota dewan dari PDIP yang mantan, atau masih, seorang preman? Banyak orang mencibir: kelakuan tidak sesuai dengan citra yang ditampilkan, dan tambahkanlah hipocrisy ini dengan teori ekspekstasi sebelumnya, jadi lah reaksi hebat, yang menurut saya sudah sewajarnya.

Conspiracy Theory at its best

Not a single (bad thing) terkait PKS yang tidak menimbulkan teori konspirasi. Sebagian besar kader PKS juga berkomentar, “ini pasti jebakan”, “ini pengalihan isu”, atau “ini adalah makar keji”. Sejak awal memberikan pernyataan, Arifinto sudah melansir adanya teori konspirasi ini. Tambahkanlah dengan teori konspirasi terkait @vicky_vette yang secara bercanda mengakui telah mengirimkan link email, teori konspirasi rekayasa foto yang ini dan yang ini, serta tuduhan bahwa ini untuk menggoyang PKS,  yang kurang hanya teori bahwa agen Mossad juga terlibat dalam kasus ini. Untung sudah ada @benny_israel…

Inconsistency at its best

Beberapa daftar inkonsistensi yang saya temukan terkait kasus arifinto:

  1. Saya tidak yakin jika terhadap kasus Ariel Peterporn (dan Max Moein dan juga Yahya Zaini), para kader dan simpatisan PKS berkomentar, “sudah lah, jangan dicari-cari terus kesalahannya, toh Ariel/Max/Yahya JUGA MANUSIA.”
  2. Kenapa FPI, yang begitu getol merazia pornografi dan berdemo agar Ariel dihukum seberat-beratnya, tidak berdemo menuntut agar Arifinto juga diadili, sesuai dengan Pasal 5 UU ITE?
  3. Para liberalist yang tidak setuju Ariel dihukum dan menuntut agar segera dibebaskan, justru menuntut agar Arifinto dihukum?

Permasalahan Sudut Pandang?

Di postingan yang ini, Ferdian menulis bahwa ada 3 subjek pandang untuk kasus yang melibatkan PKS,  yaitu:

1. Subjek bebas nilai

Ucapan subjeknya: “Ah masa iya PKS kayak gitu?”

Tindakan subjeknya: Mencari dan membandingkan berita dengan tag PKS dari sisi pro dan kontra.

2. Subjek pro PKS

Ucapan subjeknya: “Kita tunggu saja klarifikasi dari internal partai, tetaplah berhudznuzon” atau istilahnya tabayun.

Tindakan subjeknya: Mencari tau ke murobi, membuat tulisan bijak dan tetap berhudznuzon.

3. Subjek anti PKS

Ucapan subjeknya: “tuh kan, semua partai sama saja! Munafik”.

Tindakan subjeknya: Mencari pembenaran.

Kalo saya sih emang karena kecewa sama PKS koq, tapi saya tidak anti PKS. Kekecewaan saya semakin bertambah denganbanyaknya amunisi ‘berita buruk’ terkait PKS, sebut saja: Misbakhun, Nunun A. Daradjatun, Bung Mantap, Yusuf Supendi, sama Arifinto ini. So please PKS, berhenti dengan teori ‘anti PKS’, ‘serangan’, ”fitnah jahat’, dsb! Bagaimana kalau PKS berhenti memberika amunisi bagi kami untuk terus bertambah kecewa?

Mundur pun Bisa Jadi Pencitraan!

Senang mendengarnya bahwa pengumuman mundurnya Arifinto juga jadi ‘amunisi’ buat pencitraan, fair saja namanya juga partai politik. Komentar lengkapnya bisa diliat di postingan yang ini. Saya kutipkan yang ‘luar biasa’ saja:
@Fahrihamzah: Mohon info, selain #Arifinto siapa aja pejabat Indonesia yg pernah mundur (karena kesalahan besar/kecil)?

@Fahrihamzah: Popularitas yg didapat PKS harus disyukuri. Ini semua baik buat PKS

@Fahrihamzah: Problem kita karena wilayah private dan publik sering tercampur. Nampaknya membawa HP ke ruang rapat hrs dilarang di kantor negara.

@Fahrihamzah: Kader2 PKS harus berterima kasih karena publik memberikan perhatian luas, mungkin tinggal PKS yg diperhatikan…

@Onrizal: Salut & salam buat pak Arifinto, terlepas apakah beliau salah atw sial dijebak orang.

@Ray Rangkuti: “Kita menghukum orang ini sebegitu luar biasa. Tapi, kita seolah-olah membiarkan anggota DPR lain yang kelakuannya lebih buruk”.

@benhafez: persetan dgn pncitraan. klo sbg pejabat cacat moral & ato korup maka mundurlah! kepentingan bangsa lbh besar!! salut u kader #PKS.

@HamidBasyaib: “Yg sdh mengakui kesalahannya dan bersedia mundur, saya memberikan apresiasi. Bukan keputusan yg gampang..”

@suryadelalu: Mungkin surat pengunduran Pak Arifinto tak sempurna. Tetapi yg jelas beliau sudah mundur. Sempurna! Orang berbudaya pasti apresiasi hal ini.

@mughnihilman: Salut buat PKS yang kadernya mengundurkan diri.. ini etika yang baik untuk perpolitikan di Indonesia.. Mantabbzzz dah…

@ikrar_aulia: Bahkan dlm kesalahan pun, engkau tunjukkan sikap terbaik. Belum terbukti, sdh mundur. Pdhl, sebagian yg lain, terbukti pun masih berkilah.

@hafidz_ary: Yg khilaf porno mundur, yg judi dipecat, wakil ketua dewan syariah dipecat. Dan byk lagi kader dipecat yg diberitain. Partai lain berani?

@dedenmuhlisin: Tidak ada yg dominan di PKS, kecuali sistem. Luar biasa keren..

@yohang88: Salut pd Arifinto. Berani mengaku brsalah, minta maaf, dan mundur dari DPR. Hanya sedikit org yg mampu seperti itu. Harapan itu masih ada🙂

@indonesia_watch: sekian puja puji utk PKS. kita berIndonesia bukan utk PKS. tp yg positif dari partai putih ini kita kembangkan sebagai etika bersama.

Buat bung Mantap, kayaknya perlu dikasi tau juga kalo Yahya Zaini JUGA MUNDUR dari anggota DPR terkait kasus video mesumnya, begitu juga hakim MK Arwin Arsyad JUGA MUNDUR.

Saya tidak tahu bagaimana proses pencitraan ini berlanjut ketika kemudian diketahui Arifinto baru mau akan mengajukan mundur setelah reses, dan itu pun kalo disetujui partai? Beneran ikhlas mundur gak sih? Ah, sudah lah, saya menuliskan postingan ini pun cuma buat mengingatkan diri saya saja koq.

Enlighment of the Weeks

Beberapa hal menarik yang terkuak setelah kasusnya Arifinto, antara lain:

1. Bung Fahri Mantap baru tahu artinya bokep!

Luar biasa, @fahrihamzah ternyata baru tau kalo bokep itu artinya video porno, seperti yang diakui di akun twitternya, pada hari yang sama dengan kasus Arifinto:

Jadi bokep=video porno ya? Sorry aku nanya serius aja…kan istilahnya gak umum..

Dengan senang hati dan semangat pencerahan, @callm3edie menjelaskan proses semantiknya: blue film = bf = be ef -> bhs prokem jd bokep. Dan dengan bersemangat pula, beberapa tweeps yang laen menjelaskan definisi ‘bokap’, ‘bokek’, dan ‘boker’ ke @fahrihamzah, kali aja beliau belum tau.🙂

Nah, sebenernya bisa aja kita berhusnudzon bahwa @fahrihamzah emang beneran baru tau istilah bokep, tapi mengingat ‘kinerja’ sejawatnya Arifinto kita lantas tidak bisa lanjut berhusnudzon kalo @fahrihamzah, dan juga legislatif PKS lainnya ‘tidak tau’ bokepnya. Tidak tahu istilah tidak berarti tidak tau barangnya kan?

2. Mengakses porno bukan dosa besar!

Our beloved Menkominfo dengan lantang menjelaskan, “mengakses porno itu bukan dosa besar.” Cukup melegakan buat yang selama ini sering mengakses dan belum tau…🙂 Piss, ahhh!

3. Ikhwah Juga Manusia!

Senang mendengarnya bahwa selain si Richard yang Bule Juga Manusia, dan juga Deni yang manusia (ikan), ikhwah fillah juga bisa menjadi ikhwah khilaf!

4. Mengakses Porno Itu Ada Etikanya, Gan

Entah Arifinto ini pemain pemula atau bagaimana, yang jelas mengakses porno itu ada kode etiknya, ya ustadz. Gini loh:

  • Mengakses porno itu urusan privat orang dewasa! Mengakses porno pada saat sidang paripurna bukanlah pilihan bijak, apa pun motivasinya. Lebih bijak mengakses porno di kamar saat sendirian, tutup jendela dan gordyn, pake earphone atau headset.🙂
  • Pastikan tidak ada wartawan dengan lensa tele atau CCTV di sekitar Anda!
  • Pastikan dulu: link atau folder!🙂
  • Kalo kira2 ke-gep sama orang lain lagi buka video porno, siap-sial bikin alasan yang lebih masuk akal selain: dikirimin link dari e-mail! Basi tauk!😦

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Itulah Indonesia. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s