Penanganan Keterlambatan Bicara: Koleksi kearifan lokal (?)

On ‘Kearifan Lokal’ thing

Bagi saya, frase ‘kearifan lokal’ merupakan salah satu frase yang highly-over-rated digunakan di media massa belakangan ini, selain tentunya gedung baru DPR, dan the-one-and-only-our-beloved-dear Nurdin Halid. Dari mulai masalah perubahan iklim, menumbuhkan social enterpreneurship, desain rumah tahan gempa di Minangkabau, sastra, ekonomi islam, berternak ayam dan kembali menggunakan kerbau untuk membajak sawah, sampai dengan cara untuk memberantas tikus bisa diatribusikan sebagai kearifan lokal.

Apa sih kearifan lokal itu? Artikel di Majalah SWA mendefiniskan kearifan lokal sebagai nilai-nilai sosial yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, misalnya: gotong royong, kekeluargaan, musyawarah untuk mufakat, dan tepa selira (toleransi). Artikel yang sama, dan banyak penerjemahan lain termasuk The Jakarta Post, menerjemahkan kearifan lokal ke dalam bahasa Inggris sebagai ‘local wisdom.’ Akan tetapi, ketika googling frase ‘local wisdom’ bakal keliatan banget kalo frase ini sangat ‘khas Indonesia’.

Kalo berdasarkan contoh-contoh yang disajikan, saya cenderung lebih setuju dengan istilah ‘indigenous/traditional/traditional environmental knowledge’ sebagai padanan frase kearifan lokal. Googling indigenious knowledge menghasilkan entry yang lebih pas dengan bayangan saya mengenai kearifan lokal. Wikipedia bahkan punya entry khusus di sini, dan ada juga website khusus mengenai ini di sini. Berikut ini beberapa definisi indigenous knowledge yang ketemu:

Menurut Prof. Slikkerveer di artikel yang ini:

Indigenous knowledge menjelaskan sebagai pengertian yang mencakup kebiasaan, pengetahuan, persepsi, norma, kebudayaan yang dipatuhi bersama  suatu masyarakat (lokal) dan hidup turun-temurun. Kearifan Lokal itu bisa meliputi bidang etika, kesehatan, sosial-kemasyarakatan, kebiasaan bertani, menjaga kelestarian lingkungan, dll.

Merujuk United Nations Environment Programme (UNEP) artikel yang ini:

Kearifan Lokal dapat secara luas didefinisikan sebagai pengetahuan masyarakat (lokal) adat yang terakumulasi selama beberapa generasi, yang hidup dalam lingkungan tertentu. Definisi ini mencakup semua bentuk pengetahuan, teknologi, keterampilan teknis (know-how skills), praktek dan keyakinan, yang memungkinkan masyarakat untuk mencapai kehidupan yang stabil di lingkungan mereka.

Menurut wikipedia:

Traditional knowledge, indigenous knowledge, traditional environmental knowledge and local knowledge generally refer to the long-standing traditions and practices of certain regional, indigenous, or local communities.

Menurut Warren:

Indigenous knowledge is the local knowledge – knowledge that is unique to a given culture or society. Indigenous knowledge contrasts with the international knowledge system generated by universities, research institutions and private firms. It is the basis for local-level decision making in agriculture, health care, food preparation, education, natural-resource management, and a host of other activities in rural communities.

Menurut Flavier:

Indigenous Knowledge is the information base for a society, which facilitates communication and decision-making. Indigenous information systems are dynamic, and are continually influenced by internal creativity and experimentation as well as by contact with external systems.

Kearifan Lokal dalam Keterlambatan Bicara

Enough said with all this confusion regarding ‘kearifan lokal’,  perkenanlah saya untuk meng-abuse penggunaan frase kearifan lokal dalam postingan mengenai keterlambatan bicara anak saya, Athifa.

As-the-world-should-already-know-this, Athifa memang relatif terlambat perkembangannya dalam hal berbicara, sebagaiman pernah diulas di postingan saya yang ini dan yang ini. Setelah pulang dari Adelaide, saya tetep keukeuh peutekeuh dengan logika saya: Athifa normal, bisa mendengar dan pita suaranya berfungsi normal, keterlambatan berbicaranya hanya perlu ditunggu, dengan sabar.

Sayangnya kesabaran saya ini tidak selalu berjalan seiring dan seirama dengan lingkungan sekitar saya. Berbagai macam upaya, sebagian besar atas inisiatif ibu mertua saya, yang tidak jelas asal-usulnya atau pun tidak logis manfaatnya sehingga layak dikategorikan sebagai kearifan lokal (?), telah diujicobakan ke Athifa untuk ‘menyembuhkan’ keterlambatan berbicara. Saya berusaha untuk meredam sebisa mungkin upaya-upaya penyembuhan melalui kearifan lokal ini, takut salah percaya. Namun, sebagai menantu yang baik, dan tambahkan juga fakta bahwa saya pada saat itu masih numpang ngontrak di rumah mertua, saya akhirnya bersikap netral: “silakan dicoba, jangan kecewa kalo gak ada manfaatnya, dan juga jangan percaya ini sebagai sebab ketika ternyata Athifa lantas jadi pinter ngomong.”

Ini nih, koleksi kearifan lokal untuk ‘menyembuhkan’ keterlambatan bicara yang sudah diujicobakan ke Athifa:

1. Lidah kambing

Manual:

Kasi Athifa makan lidah kambing.

Kenapa lidah kambing?

Saya sempet bercanda sama ibu mertua: “kenapa lidah kambing sih, Bu? Kambing kan bisanya ngomong: mbek..mbek.. doang. Kenapa gak lidah burung beo aja mendingan, kan lebih masuk akal kemampuan ngomongnya?”

Setelah tidak ada jawaban yang memuaskan, saya hanya bisa menduga bahwa: burung beo susah didapat dan mahal, lagian pembunuhan seekor beo hanya untuk diambil lidahnya tentu gak binatang-wi, kan?

Lantas, kenapa gak lidah sapi aja? Kan gampang dicari di sate Padang? Ah, sudah lah.

Kearifan lokal yang satu ini mendapat dukungan berharga ketika senior kampus yang seumuran dengan saya pun mengakui: pas kecil juga dikasi lidah kambing sama ibunya, biar lancar bicara. Dan temen saya ini menghabiskan masa kecilnya di Padang, 915 km jauhnya dari Jakarta. Kearifan lokal yang bertahan 30 tahun dan terentang ribuan km harusnya punya ‘sesuatu’ kan?

Apa yang terjadi?

Pas adik iparnya Athifa aqiqah, lidang kambing yang disembelih khusus diminta untuk Athifa. Setelah melalui perjuangan untuk ketemu sama si tukang kambing aqiqah, sang lidah kambing ditaro di kulkas, selama beberapa hari. Pas ibu mertua inget dengan programnya yang tertunda, sang lidah kambing pun disuapin ke Athifa, yang tentu saja… ditolak, upaya paksa hanya menghasilkan tangisan Athifa. Walhasil, sang lidah kambing yang sudah susah payah diupayakan gak sempet mampir ke tenggorokannya Athifa, barang seupil pun.

Patut dipahami bahwa pada saat itu, Athifa termasuk rewel dalam urusan makan. Seinget saya, ketika percobaan lidah kambing itu masanya Athifa hobi makan Hoka-Hoka Bento, di makan di tempat. Mengingat menu lidah kambing ini gak ada mirip-miripnya sama menu kesukaannya, jadilah kearifan lokal lidah kambing ini tidak sempat terujikan ke Athifa.

2. Sabetan Sang Sirih

Manual:

Sabetin daun sirih ke mulutnya Athifa pas hari Jumat, tepatnya pas adzan sholat Jumat. Inget, jangan sampe kelewat adzannya, dan juga jangan kenceng-kenceng nyabetinnya, sakit tauk!

Kenapa sirih? Kenapa hari Jumat? Kenapa pas adzan?

Paduan sirih, yang bersama-sama dengan tembakau sangat dekat dengan mulut, baca: nenek-nenek di Jawa, dengan adzan hari Jumat menjadikan ‘kearifan lokal’ ini menjadi keliatan logis dan agamis?

Apa yang terjadi?

Selama beberapa periode Jumat, upaya ‘sabet sirih’ ini berlangsung dengan sukses. Sempet beberapa kali kelupaan ketinggalan adzan Jumat, tapi akhirnya bisa dan boleh disusulkan. Upaya ‘sabet sirih’ ini berhenti dengan sendirinya setelah diliat-liat gak ada pengaruh nyata terhadap kemampuan bicara Athifa.

3. Air dengan 40 Al-Fatihah

Manual:

Gampang sekali, siapin air di botol Aqua, bacain al-fatihah, 40 kali, terus kasiin ke Athifa. Soal angka 40, keliatannya gak boleh kurang ataupun lebih, musti pas.

Apa yang terjadi?

Sukses, pemberian airnya.

4. Gosok Lidah dengan Bawang

Manual:

Gosokin bawang ke lidahnya Athifa, bersiap-siap untuk perlawanan. Kalo dari praktiknya, bawang yang dipake itu bawang merah. Tidak ada keterangan kalo metode ini bisa disubstitusi dengan bawang putih, atau bawang bombay.🙂

Apa yang terjadi?

Sukses, beberapa kali Athifa digosokin lidahnya pake bawang merah.

5. Gosok Lidah Garam (Curian)

Manual:

I am not sure with this rubbing tongue method related thing, tapi yang satu ini sangat luar biasa gak masuk akalnya. Mekanismenya:

  • Bikin MoU dulu dengan ibu warung sebelah rumah bahwa: akan ada upaya pencurian garam, sedikit saja bukan satu blok apalagi berkilo-kilo, untuk digosokkin ke lidahnya Athifa biar cepet lancar ngomong. Tanpa MoU ini, urusan bisa berabe di kemudian hari.
  • Ajak Athifa buat belanja, terus colong sedikit garam dari warung, gosokkin deh ke lidahnya Athifa. Beres!

Apa yang terjadi?

Sukses, beberapa kali Athifa digosokin lidahnya pake garam pas diajak jajan ke warung.

Begitulah, kisah sukses Athifa yang telah mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di republik yang, katanya, mulai kehilangan identitas bangsa inih.

And-the-whole-nation-should-say-thank-you-to-you, my dear…

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Itulah Indonesia, Keluarga. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s