Kenapa dan Kapan Harus Punya Mobil?

Meski tak semengganggu pertanyaan, “kapan Athifa punya adek?,” pertanyaan: “kapan mau beli mobil?” juga kerap ‘menghantui’ kehidupan saya. Nah, karena saya kebingungan dengan filosofi mendasarnya, “kenapa saya musti beli mobil?”, dan “kapan saya dianggap sanggup beli mobil?” akhirnya postingan ini pun di-publish.

Okay, dimulai dengan pertanyaan yang pertama, “kenapa saya musti beli mobil?”, analisis, dari sudut pandang pengendara sepeda motor kayak saya, kira-kira begini nih:

1. Sendal yang Jatuh itu Annoying, Jenderal!

Begini skenario-nya, suami-istri-anak yang berbahagia pengen membuktikan kemetropolisannya dengan jalan-jalan ke mall, naek motor tentunya, sang anak duduk di tengah-tengah. Di tengah jalan, sang anak tertidur… dan secara gak sadar sendal yang dipakenya jatuh di tengah jalan. Nyampe di tujuan, which is of course a mall, barulah nyadar: sendal sang anak tinggal satu. Aargh… terpaksa beli lagi yang baru.

Nah, pada saat inilah sang suami harus beli mobil. Karena kalau naek mobil, peristiwa jatuhnya sandal hanya akan berujung komentar kayak: ooh.. itu sendalnya  di kolong jok. See, beli mobil itu penting sekali untuk menjaga kerukunan hidup rumah tangga. Dan mengingat kerukunan rumah tangga ini adalah fondasi kerukunan umat berbangsa dan bernegara, menjadi penting kiranya untuk mewujudkan impian membeli mobil.

And, you, yang duduk di pojok sana yang lulusan accounting jangan protes dulu. Memang berdasarkan itung-itungan saya pun, dengan harga sendal anak-anak yang sekitar Rp25.000 emang butuh sekitar 6.000 kali peristiwa jatuh (atau sekitar 20 tahun kunjungan ke mall, dengan frekuensi kunjungan tiap hari) agar nilai kerugian jatuhnya sandal itu menyamai harga sebuah mobil MPV murah meriah. Akan tetapi, coba itung nilai keselnya sang suami dan sang istri pada saat tahu sendal sang anak jatuh? Heck, kalo kesel-meter itu dikonversikan ke nilai tuntutan kerugian immaterial, bisa miliaran tuh! Coba deh tanya yang lulusan hukum!

2. Hari Ini Hujan, eh..Nggak Ding, eh…Hujan Ternyata!

Sebagai orang yang penuh persiapan, sebelum berangkat kantor saya sempetin liat ramalan cuaca di Kompas: hujan, suhu 25 – 32, kelembaban, 55%-96%. And you know what, hari itu, seharian semaleman, panasnya puol…, gak ada gerimis setetes-tetes acan. Seperti halnya sudah dibahas di postingan yang ini: perkiraan cuaca di Indonesia memang unik, kadang harus dibaca kebalikan…

Nah, sebagai pengendara sepeda motor, kondisi hujan-panas ini sangat mengganggu kenyamanan hidup. Pas berangkat dari rumah belum hujan, sampe sepersepuluh perjalanan gerimis -> cool aja, belum pasang jas hujan, seperempat perjalanan hujan tambah deras -> berhenti dan pasang jas hujan sama ganti sepatu yang butuh minimal 3 menit, setengah perjalanan ujan berenti dan panas lagi -> udah males lepas jas hujan, dan hasil akhirnya mandi keringet. Kesel-meter pun naek ke ubun-ubun…

Belum lagi kalo lagi jalan-jalan sama istri dan anak, ke mall atau pun bukan, dan di tengah-tengah perjalanan hujan deras, karena biasanya cuma bawa satu jas hujan akhirnya cuma Athifa yang pake jas hujan, saya sama istri pun hujan-hujanan. Suami macam apa sih yang membiarkan istri sama anaknya kehujanan? Jawabannya yaitu suami yang belum mampu beliin mobil. Dengan mobil, yang ber-AC tentunya, masalah hujan-panas ini tentu bakal terpecahkan.

3. Fasten-your-seat-bealt, please!

Seperti yang sudah diulas di sini, sepeda motor merupakan moda transportasi dengan tingkat safety yang sangat rendah. Orang-orang yang sudah punya mobil hendaknya jangan pernah diperbolehkan naek sepeda motor lagi, kalo perlu kita bikin undang-undang khusus soal ini. Mereka tentu bakal gegar budaya ketika naek sepeda motor, “eh, ini seat belt-nya mana sih?”

Dengan naek mobil, masalah safety tentu setidaknya bakal terpecahkan.  Dengan naek mobil, orang bakalan:

  • Pake seat belt, untuk semua penumpang;
  • Yang bawa bayi sama anak-anak, pake car seat, kan wajib tuh hukumnya;
  • Sang suami yang pegang kemudi, tentu gak sempet angkat telpon apalagi sms, update status facebook ataupun twitter, lebih aman;
  • Gak ngerokok dan buang sampah sembarangan;
  • Gak ugal-ugalan di jalanan;
  • Pokoknya gak ngelakuin semua hal buruk yang biasa dilakukan segala pengendara sepeda motor karena you, the car owner, are more civilized than us, the motor bike riders. Aren’t you?

4. Memajukan Perekonomian Nasional

Saya sebagai warga negara yang baik, tentu paham kalo pemerintah sudah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,4%. And, you, the economist all over Indonesia, pasti nyadar bahwa dengan membeli mobil, yang baru tentunya, akan mempercepat pemenuhan target itu kan?

Dan berita bagusnya gak berenti di situ aja dong, masih ada pengeluaran lain seperti:

  • Konsumsi BBM, non-subsidi tentunya kan udah kaya, yang juga meningkat, juga berkontribusi terhadap keuntung PT Pertamina yang sudah triliunan itu;
  • Asuransi kendaraan bermotor, syukur-syukur yang all risk, para agen asuransi tentu sudah senyum-senyum bombay ngeliat potensi komisi mereka;
  • Service mobil yang nilainya tentu beberapa kali service sepeda motor;
  • Oh, lastly, kalo udah punya mobil apalagi yang baru tentunya bakal semangat jalan-jalan dong: ke mall (seperti biasanya, tapi dengan pengeluaran yang lebih banyak dong! kan udah punya mobil), ke tempat wisata, atau sebatas makan bareng keluarga di tempat eksotis;
  • Aksesoris mobil, pengen GPS, pengen audio system, pengen DVD, pengen ganti ini dan itu.

See, pembelian mobil itu sangat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional kan?

Dengan segala penjelasan tentang betapa pentingnya mobil, analisis filosofis selanjutnya yang perlu dilakukan adalah atas pertanyaan, “kapan saya dianggap sanggup beli mobil?” Terhadap pertanyaan ini, analisisnya bisa sangat beragam karena untuk punya mobil peluangnya bisa karena:

  • Dikasi orang,
  • Kalo gak ada orang yang mau ngasi, beli mobil baru secara tunai;
  • Kalo gak sanggup beli mobil baru secara tunai, beli mobil baru dengan nyicil;
  • Kalo gak sanggup dengan harga mobil baru, boleh beli mobil bekas dengan tunai;
  • Kalo semua butir di atas masih belum bisa juga, dan masih ngebet punya mobil juga, beli aja mobil bekas dengan nyicil juga.

Cuma, bagi saya, dengan nyontek pendapat Azizi Ali, seseorang itu dianggap mampu beli mobil kalo: mampu beli mobil baru secara tunai, atau beli mobil baru dengan cara kredit dengan waktu cicilan maksimal selama satu tahun. Dan saya belum mampu kedua-duanya, baik beli secara tunai ataupun secara kredit maksimal setahun. Analisis selesai…

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Pribadi. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kenapa dan Kapan Harus Punya Mobil?

  1. Orin berkata:

    Ckckckck…analisa yang sangat sangat oke😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s