Menjalani Hidup Vivere Pericoloso

Pas zaman-zamannya isu bom teroris, Jakarta ambles sama banjir, kakak saya di Majalengka sana berkomentar, “serem banget sih hidup di Jakarta itu, udah banyak ancaman bom, mau ambles karena air tanah disedotin melulu, belum lagi pas musim hujan kebanjiran melulu.” Ujungnya malah pesen, “udah pindah ke Majalengka ajah!”.

Respon saya sama kakak, “statistically speaking, saya harusnya lebih khawatir kena kecelakaan pas naek motor daripada teroris yang bawa bom, Jakarta mau tenggelam, ataupun banjir.” Artikel Kompas yang ini bilang kalo dalam sehari terjadi rata-rata 21 kali kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda motor, angka sesungguhnya tentu bisa lebih besar karena banyak kecelakaan sepeda motor yang tidak dilaporkan ke polisi. Kalo kata artikel yang ini, tiap hari di Jakarta dan sekitarnya ada tiga orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

See, dibandingkan dengan korban meninggal karena bom teroris, dengan tidak mengurangi rasa berduka untuk yang menjadi korban, ataupun ancaman banjir yang tidak tiap hari keliatan, apalagi ancaman amblesnya Jakarta yang masih abstrak, ancaman karena berlalu lintas di Jakarta itu lebih nyata, dan lebih besar, setidaknya secara statistik. Ini membuktikan konsep bahwa secara umum manusia gagal dalam menghitung risiko yang sebenarnya dihadapi. Kalo kata Peter Sandman di Freakonomics, “The basic reality, is that the risks that scare people and the risks that kill people are very different.”

Kami orang Jakarta dan sekitarnya sudah mulai terbiasa melihat sepeda motor yang kehilangan keseimbangan, lalu jatuh. Juga mulai terbiasa melihat sesama sepeda motor, atau sepeda motor dengan mobil, saling serempet, lalu berantem. Dan yang terakhir, kami juga mulai terbiasa dengan berita orang meninggal, dengan penyebab: naek motor, kehilangan keseimbangan (senggolan, keserempet, licin, dsb.), orangnya jatuh, lalu kelindes apapun yang lagi melaju kenceng di belakangnya (kalo Busway masih masuk berita). Kami mulai kehilangan sensitivitas… And that’s very, very bad…

Tanpa perlu nyobain naek motor pun orang tau, naek motor itu sangat tidak safety. Dengan kecepatan yang bisa menyamai mobil, sepeda motor sangat rentan terjatuh. Dengan senggolan atau serempetan pada kecepatan dan kondisi yang sama, kalo naek mobil paling hanya baret-baret di body mobil, sementara naek sepeda motor menghasilkan terjatuhnya sang pengendara, dan berdoa moga-moga gak  ada kendaraan di belakang.

Karena kerentanan sepeda motor inilah, kemacetan di Jakarta pas jam berangkat dan pulang kerja itu adalah blessing in disguise. Dengan kecepatan melaju maksimal 20 km/jam, dan jarak antar-kendaraan yang mendekati 0 cm, serempetan atau senggolan motor hanya berbuah lecet, dan mungkin orang adu mulut, sementara mobil di belakangnya pun belum sempet ngegas. Hal ini pun dibuktikan dengan data bahwa kecelakaan fatal yang dialami pengendara sepeda motor biasanya terjadi di malam hari saat jalanan lengang, dengan urutan kejadian:  oh..jarang banget nih di Jakarta gak macet -> ngebut dikit ah.! -> kehilangan keseimbangan terus jatuh -> di belakang ada motor/mobil/bus/you name it -> kecelakaan fatal.

Lantas, setelah tahu actual risk dari naek sepeda motor, kenapa saya tetap nekat naek sepeda motor?

Karena sebagaimana manusia laennya, saya merespon insentif, dan juga dis-insentif. Dari tempat tinggal saya di daerah Japos, alternatif pergi-pulang ke tempat kerja hanya dua, entah itu naek sepeda motor, atau naek angkutan umum. Ini pembahasannya:

1. Naek Sepeda Motor

Insentif:

  • Lebih murah dibandingkan dengan naek bus, dengan mengoptimalkan subsidi BBM yang dikasi pemerintah (and, still, I respond to incentives, yes?), ongkos BBM naek motor saya pergi pulang ke kantor sama jalan-jalan pas weekend, hanya perlu dua kali isi bensin @Rp14.000, alias Rp28.000 seminggu, alias sekitar Rp110.000 sebulan, sebelum biaya servis bengkel.
  • Waktu tempuh lebih singkat. Dengan naek motor, perjalanan pergi pulang kantor saya tempuh sekitar 2 jam 20 menit.
  • Ketepatan waktu yang terjaga. Semacet-macetnya Jakarta, melintasi perjalanan dengan naek motor masih bisa selap-selip. Deviasi waktu pergi pulang ke kantor dengan naek motor hanya sekitar +/- 10 menit. Seumur-umur naek motor, baru sekali saya telat absen di kantor pas naek motor, itu pun karena ada kemacetan parah yang saling mengunci dan gak memungkinkan motor buat selap-selip.

Dis-insentif:

  • Bagi sebagian orang, gak perlu diliat di-insentifnya naek sepeda motor, ngeliat insentifnya sudah bikin terkagum-kagum.
  • Tingkat safety yang sangat rendah, seperti udah diulas di atas.
  • Kalo hujan kepanasan, kalo hujan kehujanan.

2. Naek Angkutan Umum

Dis-insentif:

  • Lebih mahal dibandingkan dengan naek sepeda motor, jauh lebih mahal bahkan. Kalo naek angkutan umum, saya ngeluarin biaya rata-rata Rp24.000 buat ongkos, sehari. Hampir setara dengan biaya naek motor seminggu.
  • Waktu tempuh lebih lama. Dengan naek angkutan umum, saya harus berangkat satu jam lebih awal, dan nyampe 1,5 jam lebih lama, secara total 2,5 jam lebih lama, per hari.
  • ‘Ketidaktepatan’ waktu yang terjaga. Sekali-kalinya saya naek angkutan umum pas naek ada kewajiban absen, saya nyampe pas menit terakhir. What a ride…

Insentif:

  • Kalo beruntung, bisa dapet tempat duduk nyaman, yang  memungkinkan untuk: waktu tidur tambahan, baca buku, browsing, dll.

Sepintas lalu, jelas keliatan kalo analisis insentif dan di-insentif naek motor vs naek angkutan umum bagi saya hasilnya sangat jelas, yaitu: naek sepeda motor. Rencana pemerintah untuk membatasi penggunaan BBM bersubsidi buat mobil, tapi gak ada pembatasan buat sepeda motor juga insentif tambahan. Dan ituefeknya bisa sangat buruk buat kemacetan Jakarta.

Tanpa adanya dis-insentif yang cukup kuat, seperti pembatasan sepeda motor masuk ke Jakarta (lewat plat nomor atau lewat warna), akan sangat banyak pelaku commuter Jabodetabek yang berpikiran seide dengan saya, dan tetap memutuskan untuk menjalani hidup dalam tahun (-tahun) vivere pericoloso

And what say you, bung Kumis?

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Itulah Indonesia, Pribadi, Sok Tau. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Menjalani Hidup Vivere Pericoloso

  1. Ping balik: Kenapa dan Kapan Harus Punya Mobil? « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s