The-oh-I-(don’t)-think-the-whole-universe-should-know…

Disclaimer: Postingan ini termasuk dalam kategori the-oh-I-(don’t)-think-the-whole-universe-should-know…

Masalah dengan Facebook

Dengan berat hati saya harus mengakui, “saya hampir berhenti ber-facebook ria.” Really sorry, Mark, but here are the reasons why:

1. I don’t want to know everything in this whole world

SOP dalam ber-facebook adalah “request-and-accept-lah semua teman yang benar-benar Anda kenal, pernah Anda kenal, atau bahkan merasa Anda kenal“. Masalah selanjutnya yang terjadi setelah meng-accept atau me-request adalah: tidak semua teman yang sudah (terlanjur) di-accept atau (terlanjur) di-request itu benar-benar pengen kita tau keadaannya, benar-benar sempet dan perlu kita hubungi, ataupun bahkan benar-benar kita inget pernah kenal dulu, dan mari kita sebut kategori teman ini adalah sebagai ‘teman jauh’.

Di lain pihak, saya juga masih pengen tau sama kondisi, status update, bahkan sampe ke hal yang remeh-temeh dari saudara-saudara deket yang kepisah jauh, atau dari temen kantor (biar bisa diledekin, misalnya), dan mari kita sebut kategori teman ini adalah sebagai ‘teman dekat’.

Geez, facebook really represent our real life, right?

Dengan tingkat keaktifan kategori ‘teman jauh’ dan ‘teman deket’ ini juga beda-beda dalam mengupdate status, upload foto, ngasi komen, atau ganti profile, hasil akhir dari kondisi ini adalah: timeline status update kita dipenuhi sama status update dan informasi dari  teman-teman yang sangat aktif mengupdate status tapi sebenarnya kita gak terlalu kenal dan gak pengen terlalu tau. Di lain pihak, status update, komen, ataupun notes dari orang-orang yang bener-bener pengen kita tau jadi keselip dan gak pernah keliatan sama kita.

2. There are heck-a-lot-of marketing crap

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya terhadap teman-teman para enterpreneur di dunia per-facebook-an, jualan barang apapun di facebook itu beda dengan jualan di pasar kaget, di ITC, ataupun di Mall….!!!

Kenapa?

Karena jualan di facebook dengan cara status update, wall-to-wall, atau nge-tag temen itu mirip atau bahkan tidak ada bedanya dengan spam (karena langsung memenuhi timeline orang laen, meski itu update di wall sendiri), atau kayak ada telemarketer yang ngetok pintu kita atau nelpon nawarin barang tiap hari, tiap jam, atau bahkan tiap menit. And it sucks!

Dan sialnya, ‘teman jauh’ yang aktif nawarin jualannya ini cenderung sangat aktif, terlalu aktif malah, dalam meng-update status, seringnya bahkan dengan status update yang sama persis! Walhasil, news feed saya pun dipenuhin marketing crap kayak gini.

3. The-oh-I-(don’t)-think-the-whole-universe-should-know status

Saya selalu tersenyum getir dan ketawa palsu ngeliat ‘teman jauh’ di facebook yang selalu merasa bahwa dunia ini selalu berputar-putar di diri mereka sendiri, yang diejawantahkan melalui status update, comment, ataupun upload foto yang terkategorikan narsis atau bahkan status-freak, kayak diulas di postingan yang ini:

“Lagi makan… di…sama si…”

“I was HERE, guys !”

“Gw mo makan siang dulu ya ..”

“Duh, jam segini baru bangun tidur nih ..”

“Lagi kejebak macet euy!”

“Mau pergi ke salon dulu, terus nonton bareng anak tetangga sebelah”

“Still here, nongkrong di …”,

“Akhirnya bisa lega juga…”

“Duh, kenapa sih dia cuek sama gue?”

“Lg sedih”

“Berubah..”

Guys, knock it off!

Jenis status seperti ini yang bagi saya: gak nambah pinter buat yang baca dan hanya (mungkin) penting bagi ‘teman dekat’, kalo buat ‘teman jauh’ mah, ya EGP!

A Little Tweak would Help, Of course

Kesimpulan permasalahan terkait facebook di atas adalah: ber-facebook-ria itu kadang, atau sering annoying, tapi tetep ada manfaatnya. Sebelum saya memutuskan me-remove account saya, of which I think Mark will disagree, saya memutuskan untuk melakukan sedikit upaya, kayak gini nih:

1. List of Friends

Untuk membedakan antara ‘teman dekat’ dan ‘teman jauh’, memanfaatkan fungsi list mungkin ada manfaatnya. dari menu Friends, saya tinggal klik Edit Friends, lalu klik create list, dan silakan mengkategorikan teman sesuai dengan kebutuhan. Saya sendiri mengkategorikan teman dengan list SMU dan pra-SMU (yang jumlahnya paling banyak dan paling aktif, dan saya gak terlalu kenal), STAN, Adelaide, Bapepam-LK, sama Family (yang paling ingin saya pantau keadaannya.

Manfaat dari fungsi list ini adalah: kalo kita pengen tau news feed dari list kategori tertentu biasanya ‘teman dekat’, bisa ketauan secara langsung tinggal klik di kategori list-nya, gak perlu keselip sama news feed teman jauh lainnya. Kelemahan dari fungsi list ini adalah: gak ngefek kalo bukanya facebook mobile atau facebook lewat snaptu, di mana tetep aja yang disajiin adalah news feed yang umum.

Yang membuat saya langsung lari ke alternatif selanjutnya, yaitu…

2. Hide This Post

Sayang sekali fitur sangat penting di facebook ini saya taunya malah telat, caranya gampang: tinggal cari status update yang gak pengen diikutin lagi, klik di pojok kanan atas, tinggal pilih ‘Hide all by …’. Dengan cara kayak gini, semua status update, share link, upload foto dari ‘sang teman jauh’ pun gak perlu lagi kita liatin terus-terusan.

Dan jangan khawatir, untuk ngebalikin lagi status update temen yang udah di-hide pun sama gampangnya, tinggal scroll news feed kita sampe bawah, trus klik ‘edit option’ dan tinggal balikin lagi post dari teman jauh yang sudah di-hide.

Dan hidup saya pun, terkait facebook, kembali nyaman…

A Little More Introspection…

Setelah bikin draft postingan ini, saya pun langsung introspeksi dengan ‘perilaku’ saya dalam ber-facebook, yaitu: kebiasaan saya cross-post postingan di wordpress dengan notes di-facebook.  Setidaknya 2 (dua), dan bisa lebih,  postingan saya yang di sini dan di sini, dari 13 notes cross-post saya di facebook termasuk dalam kategori the-oh-I-(don’t)-think-the-whole-universe-should-know.

Bagi saya, ada perbedaan yang sangat nyata dalam posting di wordpress dan notes di facebook: postingan di wordpress tidak mengotori news feed orang laen, kecuali dalam rss feed atau Google Reader list orang yang sudah berlangganan. Sementara itu, notes di facebook langsung nongol di news feed orang laen, yang mungkin akan mengganggu kedamaian dan kebiasaan orang laen dalam menikmati hidup.

Sebagai solusinya, mulai saat ini dan ke depannya, untuk setiap postingan yang saya anggap termasuk dalam kategori the-oh-I-(don’t)-think-the-whole-universe-should-know, saya akan bikin disclaimer di awal tulisan, dan tidak akan saya cross-post di notes facebook, agar tidak ‘mengotori’ news feed temen yang laen. Postingan dengan kategori ini hanya akan jadi koleksi tulisan saya di masa mendatang.


Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Itulah Indonesia, Pribadi, Review. Tandai permalink.

3 Balasan ke The-oh-I-(don’t)-think-the-whole-universe-should-know…

  1. Ping balik: Kapan Athifa Punya Adek? « My Mind

  2. Ping balik: Kenapa dan Kapan Harus Punya Mobil? « My Mind

  3. Ping balik: Warning: Sotoy Detected! « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s