Mall sebagai Pusat Kebudayaan (?)

“Once again, we come to the Holiday Season, a deeply religious time that each of us observes, in his own way, by going to the mall of his choice.”
— Dave Barry

Seperti halnya Dave Barry bilang di quotation di atas, ritual suci yang tidak boleh ditinggalkan oleh banyak orang Jakarta maupun Jakarta coret, seperti halnya saya,  adalah… mengunjungi mall. Sayangnya, lebih parah dari definisi ‘holiday season’-nya Dave Barry,  bagi orang Jakarta dan sekitarnya mengunjungi mall tidak lagi terbatas musim liburan ataupun hari libur, kapan pun bisa dan perlu dilaksanakan. Didukung dengan jumlah mall yang tersedia di setiap penjuru Jabodetabek, yang menurut artikel ini, Jakarta bahkan di-‘vonis’ punya mall terbanyak di dunia, ritual kunjungan ke mall ini dengan mudah dilaksanakan.

Kalo pas hari kerja makan siang perlu di mall dekat kantor, dan pas hari Sabtu – Minggu ajak jalan-jalan keluarga ke mall juga… Sampai-sampai saya khawatir, kalo seandainya seluruh wilayah Jabodetabek ini terkubur abu vulkanik letusan gunung (gunungnya milih sendiri yang mana, sebagai pembanding boleh ditoleh sejarahnya Pompeii) dalam waktu sangat singkat tanpa sempat orang-orang dievakuasi, korban paling banyak rasa-rasanya bakal ditemukan di.. mall. Yup, terkecuali bencana itu terjadi jam 11.30 – 12.30 hari Jumat siang (yaitu waktunya orang sholat Jumat), saya pikir prediksi saya ini cukup valid.🙂

Kolom gaya hidup Kompas Minggu tanggal 9 Januari 2011, pun mengulas fenomena ini. Orang Jakarta memusatkan kegiatannya, dari mulai sekadar jalan-jalan, makan, belanja, belajar, ketemu klien, pacaran, pertunjukan musik, sampai bulutangkis pun sudah merambah mall. Kementerian Pendidikan Nasional bahkan sudah merencanakan untuk bikin taman bacaan di mall. Pokoknya mall sweet mall, lah…

Karena mall sudah jadi pusat kegiatan dan kebudayaan (?), tidak berlebihan kiranya kalau saya mengusulkan agar kiranya mall dapat dijadikan sebagai cagar budaya. Tidak perlu semua mall ditetapkan sebagai cagar budaya tentunya, hanya yang punya ‘kontribusi’ besar dalam membentuk karakter manusia Jabodetabek ini. Masing-masing wilayah bisa mengusulkan mall of their own choice.

Bagi warga Bintaro, Bintaro Plaza layak menjadi kandidat. Bagi alumni STAN kayak saya, tentu tidak boleh melupakan peran Bintaro Plaza dalam membentuk karakter semasa jadi mahasiswa STAN (yang meliputi: baca gratis di Gramedia sampe diliatin satpam, nyobain makan di ‘tempat modern’ kalo pas dapet rapelan, dlsb). Perkenalan saya dengan Bintaro Plaza bahkan terentang 12 tahun, dari tahun 1999 sampe dengan sekarang, dengan musholla yang telah berpindah-pindah dari mulai di pokok kiri dekat tempat parkir, sempet naek di lantai 3, sampai akhirnya di tempat sekarang. Dari mulai saya belum punya pacar, pacaran, menikah, hamil, Athifa bayi sampe sekarang Athifa usianya 3 tahun pun Bintaro Plaza menjadi saksi bisu perjalanan hidup saya. See, it’s getting better, right?

Saya sendiri cenderung memahami penyakir ‘gila mall’, (dengan resmi, saya mengusulkan kepada Andrea Hirata agar dapat ditetapkan sebagai penyakit gila nomor 122) ini hanya lah masalah insentif dan dis-insentif belaka, plus supply and demand mechanism. Sebagai orang kantoran, yang berangkat dari rumah jam 6.20 pagi dan pulang jam 18.30 dengan bermacet-macet ria di jalan, memiliki quantity time terbatas dengan anak, ide untuk mengkompensasikan segala kesulitan hidup dan kurangnya waktu bermain dengan anak pas weekdays dengan acara jalan-jalan pas weekend adalah niat yang sangat mulia. Am I right?

Pertanyaan selanjutnya: Mau jalan-jalan ke mana?

Nah, di sinilah insentif dan supply demand bermain peran. Dari rumah saya di daerah Japos, supply yang tersedia (dengan batasan mudah dijangkau, murah, dan bisa menyenangkan semua orang) adalah Ciledug Business District, Bintaro Plaza, dan Giant Sektor 7 Bintaro, yang semuanya dapat dengan mudah dikategorikan sebagai… mall.

Mau pergi ke taman kota? Emh, di mana yah? Hutan kota yang paling deket di daerah Meruya, sementara bunderan Bintaro juga tidak bisa dikategorikan sebagai taman kota saking kecilnya.

Mau pergi ke perpustakaan? Seriously, I have no idea do we have such public library here. Ritual suci kami sekeluarga selama ‘liburan’ di Adelaide yang tidak lagi bisa kami lakukan adalah pergi ke perpustakaan. Alasannya? Sepemahaman saya, tidak ada perpustakaan yang buka pas weekeend. Yang lebih krusial sebenernya, saya tidak tahu apakah ada perpustakaan di Jabodetabek ini yang koleksinya lengkap (buku, DVD, internet), tempatnya nyaman dan gampang diakses. Perpustakaan Kemendiknas di Sudirman, yang sebagian besar merupakan hibah dari British Council, memenuhi kriteria ini, cuma sayangnya pas weekend gak buka. Di Adelaide, public library gampang diakses karena ada di pusat kota, koleksinya lengkap, dan setiap hari buka, terutama yang di Adelaide City Council.

Sebagai kompensasi, saya pergi ke taman bacaan di deket rumah mertua, yang gak gratis, koleksi barunya cuman komik, dan gak ada DVD (karena ini taman bacaan, bukan taman tontonan), plus gak bisa lama-lama maen (baca di tempat bayar, Boss)..

Terakhir, ritual jalan-jalan pas weekend adalah mengunjungi mertua. Enough say what will I do here…

Alternatif jalan ke tempat wisata murah meriah, kayak Ragunan, museum-museum di daerah kota, ataupun momen car free day menjadi sangat mudah terlewatkan karena masalah aksesibilitas (pembenaran: mode on). Lucunya, saya melihat pola katrok terkait pola jalan-jalan warga Jabodetabek, yaitu: sibuk menjelajah mall setiap weekend dan weekdays, lantas  pas liburan sekolah, berjejalan dan bermacet parah di Ragunan, Ancol, sama Puncak. Padahal secara logika udah tau kalo pas liburan sekolah pasti jalanan ke tiga tempat wisata itu pasti parah, kenapa jalan-jalannya itu gak pas weekend aja sih?

Anyway, kalo menurut artikel yang ini, mall memang didesain oleh pemrakarsanya, yaitu Victor Gruen, seorang imigran Austria keturunan Yahudi (yaiy, yahudi.. calling intel @benny_israel dan para conspiracy theorist), bukan hanya sebagai tempat berbelanja, tapi juga menyediakan pusat interaksi, menawarkan komunitas alternatif, hiburan dan bahkan ‘pencerahan’. Mall juga digambarkan sebagai kombinasi seni dan perdagangan dalam memotret bagian terdalam dari kepribadian orang-orang Amerika.

See, apalah daya saya melawan grand design-nya Yahudi dan Amerika. So, patronnya adalah: saya memakmurkan mall, maka saya ada.

Wallahu a’lam.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Inspired By, Itulah Indonesia, Keluarga. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mall sebagai Pusat Kebudayaan (?)

  1. Ping balik: Mantap Bung Fahri! « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s