There’s No Such Thing as a Superior Parenting System

Selama ‘mengikuti’ perkembangan Athifa, baik itu secara motorik kasar maupun halus, saya tidak pernah punya dan menetapkan target apa pun. Istilah jadulnya mungkin, mengikuti gimana air (Athifa) mengalir saja (tumbuh dan berkembang), minim intervensi. Dari mulai masanya belajar jalan, sampe dengan perkembangan kemampuan bicara, peranan saya sebatas membimbing  dan mengarahkan.

Dalam kasus kemampuan bicara misalnya, seperti sudah diulas di sini, Athifa relatif terlambat berbicara. Hingga sekarang, 3 tahun 3 bulan, Athifa masih belum melafalkan kata-kata dengan jelas, campuran antara cadel dan mumbling gak jelas. Dengan kosakata terbatas dan hanya sanggup 2 kata berurutan, kayak: ayo cepat.., ada ayam…, plus ketidakmampuan untuk menanggapi pertanyaan yang panjang, perkembangan kemampuan berbicara Athifa kalah dengan rata-rata anak usia 2 tahun. Cuma bagi saya, apalah arti rata-rata bagi perkembangan anak? Dengan berbagai usulan untuk intervensi, dari mulai yang jelas (datang ke psikolog) sampe yang gak jelas (bibir disabet pake sirih dan ngasih garam hasil ‘colongan’), saya masih santai saja.

Kenapa? Karena bagi saya, tugas saya hanya memberkan fasilitas sebatas kemampuan fisik dan nalar saya bagi perkembangan Athifa. Dalam kasus kemampuan bicara Athifa, hal ini berarti aktif ngajak ngomong, beliin dan dongengin buku, ngasih tontonan yang sesuai umurnya, cukup. Saya tidak resah karena perkembangan kemampuan bicara Athifa ‘tidak setara’ dengan teman-teman seumurnya. Prinsip saya, selama pita suara dan indra pendengaran Athifa normal, dan saya meyakininya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya akan sabar menunggu sampai Athifa lancar berbicara.

Saya selalu memegang teguh patron bahwa setiap anak dilahirkan berbeda, dengan kemampuan dan tahapan perkembangan yang unik khas masing-masing. Saya meyakini mendidik anak itu lebih dominan ‘seni’-nya, bukan ‘ilmu-‘nya. Itulah kenapa frase ‘seni mendidik anak’ lebih nyaman di telinga saya daripada ‘ilmu mendidik anak.’

Tapi setelah hebohnya cara mendidik Amy Chua, saya rada sedikit mikir ulang metode saya ngikutin perkembangan Athifa. Amy Chua, dengan artikel di Wall Street Journal yang ditulisnya, Why Chinese Mothers Are Superior (disarikan dari bukunya sendiri Battle Hymn of the Tiger Mother), intinya mau bilang:

“…the Chinese believe that the best way to protect their children is by preparing them for the future, letting them see what they’re capable of, and arming them with skills, work habits and inner confidence that no one can ever take away.”

yang diejawantahkan lewat kebiasaan Amy Chua mendidik anaknya, Sophia dan Louisa, kayak gini nih:

  • gak mau nerima anaknya dapet nilai lebih rendah dari “A”;
  • selalu pengen anaknya nomor satu di kelas;
  • gak ngizinin anaknya ikut pertunjukkan di sekolah, terutama kalo cuma jadi ‘figuran’;
  • mementingkan matematika sama logika;
  • segala sesuatu tentang membiarkan anak jadi individu itu crap;
  • gak ngizinin anaknya nonton TV dan maen game komputer ;
  • gak ngizinin anaknya maen instrumen musik selain piano dan biola;
  • ngelatih anaknya maen piano selama berjam-jam, dan gak ngizinin Louisa ke toilet sebelum bisa mainin “The Little White Donkey” – Jacques Ibert dengan baik pada usia 7 tahun (dengan pembanding kakaknya Sophia yang bisa memainkan lagu itu pas seumuran) – emh, sementara saya pas umur 7 tahun? ingusan dan maen tanah;
  • tanpa ragu ngebilangin anaknya ‘garbage’ di depan umum.

Artikelnya Amy Chua ini sempet bikin heboh di blogoshpere, setidaknya kalo itu diliat dari reading list saya di Google Reader. Tidak kurang dari Rob Baiton di artikelnya, Battle Hymn of Tiger Mother; Ian Ayres di Freakonomics lewat artikelnya The Economics of Tiger Parenting; Jenny Anderson dari Spousonomics lewat artikelnya Tiger Mothers and Tough-Love Incentives; Bryan Caplan dari Econlog bahkan sampe bikin dua posting terkait Amy Chua, Does Asian Parenting Cause Asian Success? dan Temptations to Cruelty; bahkan Tech Crunch, yang nyata-nyata ngeblog soal teknologi pun sampe punya guest post dari AnnMaria De Mars, Why American Mothers are Superior. Di timeline twitter saya, tidak kurang dari Dewi Lestari yang ngomentarin artikelnya Amy Chua ini.

Ngeliat hebohnya artikel Amy Chua ini, saya sedang mempertimbangkan untuk beli piano. Atau mungkin biola…

No, seriously. Siapa sih yang tidak pengen anaknya selalu dapet nilai A, nurut sama orang tua, sukses, pinter, berprestasi, tampil di resital piano?

Setelah merenung, membaca dan memikirkan kembali (makanya posting ini jadi basi, ngeles: mode on), here are my take on the issue:

1.  Life is a result of complex and complicated causes and effects

Tidak ada mesin, rumus, cara mendidik, pola pengasuhan yang bisa di-copy paste begitu saja ke dalam sistem pengasuhan anak. Seperti kata Jed Revolutia, “Apa yg sukses diterapkan dalam hidup seseorang, belum tentu aplikatif dalam kehidupan orang lain lagi. No exact chemical reaction.” Genetika, gizi, lingkungan, pola pengasuhan, dan sejumput keberuntungan sangat menentukan pola kesuksesan, dan ketidaksuksesan, seseorang. Meng-copy paste pola pengasuhan Amy Chua ke anak lain begitu saja, bisa ‘menghasilkan’ Louisa Chua dan Sophia Chua yang lain, tapi bisa juga menghasilkan anak bandel yang kabur-kaburan dari rumah (karena gak tahan dikerasin).

2. (This time), Index Investing is not Working

Dalam dunia investasi, index investing itu artinya pola investasi yang dilakukan dengan cara mereplikasi kinerja saham  atau kumpulan saham yang dijadikan index (acuan). Cara mereplikasi: dengan membikin komposisi investasi kita semirip mungkin dengan index, baik secara total replikasi maupun secara proporsional. Kalo ada perubahan di index yang dijadikan acuan, tinggal diikutin sepenuhnya, misalnya dengan menjual aset yang kita miliki dengan aset lain yang bakal bikin komposisi aset kita semirip mungkin dengan index.

Secara tidak sadar, saya sering memikirkan untuk melakukan pola pendidikan dengan index investing. Saya mengacu ke index dalam membandingkan perkembangan Athifa, misalnya: koq Athifa belum bisa diajarin nyanyi yah, padahal sepupunya seumuran segini udah pinter nyanyi?; koq Athifa belum bisa … padahal rata-rata anak lain sudah bisa… Life is not working like that, dude…

Perlu diinget, anak tidak bisa, dan tidak pernah bisa, memilih orang tuanya sendiri. Orang tua lah yang memutuskan untuk punya, atau tidak punya, anak. Bagi saya, ketika saya dikaruniai Athifa, tugas saya adalah mengoptimalkan potensi Athifa sebisa dan semampu saya, bukan untuk membentuknya sesuai keinginan saya, dengan benchmark dan index berupa pengarang buku-buku perkembangan anak, sepupunya, atau pun temen sekelasnya kelak yang ranking satu. Buah dari pola pengasuhan kita adalah ketika Athifa nanti ngasuh anaknya, yang saya yakini akan sangat dipengaruhi pola pengasuhan saya selama bertahun-tahun ini.

3. Re-define Success

Kalo Amy Chua, menilai sukses dengan nilai A, saya mungkin tidak bisa dan pengen menirunya. Meski selama saya sekolah SD-SMP-SMU, ranking saya di kelas yang terendah adalah ranking 2,  saya tidak pernah menargetkan dan bermimpi Athifa pun bakal mengikuti jejak saya, karena Athifa bukan cloning dan copy saya, Athifa itu pribadi unik yang tidak bisa dibandingkan dengan saya sebagainya ayahnya, maupun dengan ibunya, ataupun dengan sepupunya.

Melihat perkembangan kemampuan bicara Athifa, saya mungkin tidak bermimpi Athifa bakal jadi penulis misalnya, walaupun tentu tidak menutup kemungkinan Athifa bakal jadi penulis berbakat. Seperti yang sudah saya tulis di sini, yang penting bagi saya, Athifa itu sehat. Soal dapet nilai berapa, bisa maen piano atau gak, dapet ranking berapa di kelas, prestasi, kesuksesan, menikah dengan siapa, Athifa bakal nemuin jalannya sendiri.

4. Kita Mungkin saja Salah…

Amy Chua menempatkan dirinya sebagai ‘the mother of all commitment devices.’ Amy memastikan bahwa kehidupan anak-anaknya sesuai dengan rencananya. Amy Chua juga berargumen bahwa orang tua punya informasi yang lebih baik bila dibandingkan dengan anak-anaknya tentang apa-apa yang bisa dicapai dengan kerja keras.

Pengalaman hidup saya selama 30 tahun memastikan bahwa saya sangat mungkin membuat keputusan yang salah. Dari segi pemahaman hidup saja, apa yang saya pahami sekarang sangat berbeda dengan lima tahun yang lalu, sepuluh tahun yang lalu, atau bahkan hanya dengan yang saya pahami tiga tahun yang lalu. Saya mungkin tidak lebih tahu dari apa yang diketahui sama Athifa. Terkait keterlambatan bicara Athifa, bukan saya yang sedang mengalami hard time, tapi justru Athifa yang sedang ngalamin hard time. And I am here to support her, not to abuse her..

Dengan keyakinan seperti inilah, pentingnya untuk tidak memaksakan apa yang kita ketahui, pahami dan ingini ke dalam kehidupan anak-anak. Selamat berdiskusi dengan baik dengan anak kita masing-masing.

5. It’s an Incentives (and Disincentives) Mechanism

Sejauh ini, yang saya pahami, dan suatu saat bisa jadi berubah, dalam pola pengasuhan anak adalah: setiap anak dan setiap kasus adalah unik, dan cara terbaik untuk mengarahkan anak sesuai dengan pemahaman kita, yang sangat mungkin terbatas, adalah dengan mekanisme insentif dan dis-insentif. Insentif di sini bisa berarti insentif moneter (penghargan berupa hadiah, mainan, jalan-jalan, binatang peliharaan, dll.), atau pun sesederhana sebuah pelukan dan komunikasi yang baik.  Yang lebih penting tentu adalah contoh dan teladan, karena anak-anak adalah peniru yang paling baik. Apa artinya kita pengen anak kita rajin belajar baca kalo bapak  sama ibunya kerjaannya nonton TV?

Mengenai dis-insentif, Amy Chua memilih dengan caranya sendiri: mendidik keras, bilangin anaknya ‘garbage’, gak ngasih anaknya ke toilet sebelum bisa maen piano dengan bener. And it works for them, and clearly  not for me and Athifa. Saya sangat jarang sekali marah sama Athifa, dan sekalinya perlu marah pun, saya langsung nyesel ngeliat ekspresi Athifa yang bener-bener ketakutan pas ngeliat papa-nya marah. Saya seringnya malah terlalu loose sama Athifa, dalam hal rutinitas makan, bangun tidur, nonton TV dan maen laptop. Bagi saya, Athifa has her own option to grow. Kalo ternyata pilihan papa-mu ini salah, maafin ya Teh Athifa…

Terakhir, keahlian menjadi orang itu susah. Dan saya pun menikmatinya, mempelajarinya. Bisa jadi ini sebuah upaya trial dan error. Kita perlu melihat hasil dari pola pengasuhan yang ada, baik sendiri maupun pengalaman orang lain, dan kalo dirasa perlu, sesuaikan pola pengasuhan yang sudah dikerjakan. (Credit to Om Rob Baiton)

P.S:

  • Sempatkan baca pengakuan dari Sophia Chua-Rubenfeld, anak pertama Amy Chua tentang pengasuhan ibunya, Why I love my strict Chinese mom. Kata Sophia, “Every other Thursday, you take off our chains and let us play math games in the basement.” Geez, play math games? Seriously?

Update 20/02/2011:

It ain’t over till it’s over, kata Yogi Berra. Perdebatan soal gaya parenting Amy Chua ini terus berlanjut. Setelah saya postingan ulasan ini tanggal 30 Januari 2011, Bryan Caplan dari EconLog bikin 4 postingan lagi soal Amy Chua: The Tiger Mother versus Cost-Benefit Analysis, The Grateful Tiger Daughter, Gelman on Me, Chua, and Cowen, sama Jewish versus Chinese Parenting. Kompas bahkan punya ulasan di Opini Kompas hari Jumat, 18 Februari 2010, judulnya Mendidik untuk Kuat Bersaing, oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Mantan Gubernur Lemhannas dan Mantan Dubes RI di Jepang. Sayangnya, opini Sayidiman ini juga gak terlalu mengulas tentang buku Amy Chua sendiri. Akan tetapi, saya dapet kesan kuat kalau beliau mendukung pola pendidikan a la Amy Chua ini, agar anak-anak Indonesia mampu bersaing di dunia internasional, dengan China salah satunya.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Blogwalking, Keluarga. Tandai permalink.

Satu Balasan ke There’s No Such Thing as a Superior Parenting System

  1. Ping balik: Penanganan Keterlambatan Bicara: Koleksi kearifan lokal (?) « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s