Toraja 2011 vs Toraja 1978

Section Tanah Air Kompas Cetak hari ini, Sabtu, 22 Januari 2011 mengulas mengenai Tana Toraja, di sini dan di sini. Dua-duanya nulis tentang budaya Tana Toraja terkait pesta, baik itu pesta kematian (yang paling wah, dan paling terkenal jadi obyek wisata), maupun pesta pernikahan. Sudut pandang artikel kompas hari ini lebih ke arah ulasan optimalisasi pesta adat Tana Toraja ke arah pariwisata.

Lucunya, baru semalem saya selesai baca buku kumpulan tulisan feature-nya Dr. Gabriel Possenti Shindunata, Dari Pulau Buru ke Venezia, yang juga nyajiin feature Shindunata tentang  pesta kematian di Tana Toraja, cuma dibikin 22 tahun yang lalu, tepatnya dimuat 18 – 21 Oktober 1978. Sudut pandang artikel Shindunata lebih personal, dan kalo diliat dari tone artikelnya (liat aja judulnya: Pembantaian Kerbau yang Dramatis, Rumput Jalanan Sampai Tertunduk-tunduk, Bila yang Mati Hanya Orang Sederhana, dan Pemborosan yang Berlebihan), keliatan banget  Shindunata gak nyaman dengan praktik-praktik yang ada.

Jadilah saya pun tertarik ngebandingin suasana ulasan Kompas atas Tana Toraja setelah 22 tahun, kayak gini hasilnya:

1. Prestise dan Jumlah Persembahan

Kompas (2011) menulis:

Sayangnya, tradisi yang luhur tersebut belakangan ini larut pada prestise dan jumlah persembahan. Tidak sedikit keluarga dari kalangan berada menggelar pesta Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’ dengan persembahan hewan dalam jumlah tidak terkendali. Dalam upacara Rambu Solo’, misalnya, sebuah keluarga bisa mempersembahkan ratusan kerbau dan babi yang nilainya miliaran rupiah.

Pesta kematian Ne’ Tapu’ di Kampung Deri, misalnya, menghabiskan dana sekitar Rp 3 miliar untuk penyediaan 108 kerbau persembahan dan ratusan babi.

Padahal, Shindunata (1978) udah nulis:

Pembantaian kerbau itu juga mempunyai fungsi “status sosial”. Semakin banyak kerbau yang disembelih, berarti semakin tinggi derajat dan makin kaya orang yang telah mati atau keluarga yang merayakan kematiannya.

Di sini orang berlomba-lomba untuk menunjukkan diri bahwa ia mampu, sehingga ia berusaha apa pun untuk dapat mencapai tujuan itu.

Sekitar 40 ekor kerbau disembelih pada pesta ini.

Pesta kematian Nek Atta mungkin sama harganya dengan lima buah mobil Mercedes.

2. Gengsi untuk Menyumbang

Kompas (2011) menulis:

…rela berdiri berpenat-penat di dalam bak truk yang disewa rombongan keluarganya dari Palopo, sekitar 50 km dari Rantepao, ibu kota Toraja Utara. Ia datang bersama 10 saudaranya dan membawa seekor kerbau untuk disumbangkan..

Shindunata (1978) juga nulis:

Bila misalnya nenek si A mati dan disumbang kerbau oleh si B, maka bila keluarga si B mati, si A pun harus mengembalikan utangnya berupa sumbangan kerbau. Menggadaikan sawah untuk menyumbang kerbau, atau menjual milik untuk membalas utang adalah hal yang umum terdengar di Toraja.

3. Hewan Persembahan

Kompas (2011):

harga babi: 4 juta-Rp 7 juta

Harga seekor tedong bonga bisa mencapai Rp 300 juta, sedangkan harga kerbau baliian Rp 150 juta per ekor.

Seekor kerbau Toraja paling murah Rp 25 juta.

Adapun babi dihargai Rp 5 juta-Rp 10 juta per ekor.

Shindunata (1978) juga nulis:

Satu ekor kerbau harganya sekitar Rp300.000 sampai dengan Rp 600.000.

Satu ekor tedong bonga bisa mencapai satu juta rupiah.

Satu babi harganya sekitar Rp 40.000 sampai dengan Rp 75.000

4. Adat versus pariwisata

Kompas (2011) nulis:

Hal itu mencerminkan belum optimalnya pengelolaan pariwisata di Toraja.

Sayang, karakter warga Toraja yang kondusif bagi kepariwisataan itu belum diimbangi dengan kepekaan pemerintah setempat untuk menyiapkan sarana pendukung.

Shindunata (1978) juga nulis:

Tiba-tiba iringan itu berhenti. Orang bertanya-tanya apa sebabnya. Tahu-tahu ada pengumumdan dari panitia, iringan harus menunggu kedatangan Menteri Perhubungan Rusmin Nuryadin

…bisa saja upacara kematian itu dipergunakan untuk menarik wartawan. Namun hendaknya dijaga agar keluarga yang merayakan pesta jangan sampai dirugikan.

5. Intervensi Pemerintah dan Agama

Kompas (2011) nulis:

Menurut tokoh agama, Yoseph Pairunan (66), sebetulnya ajaran Aluk Todolo telah mengatur pelaksanaan Rambu Solo’ secara proporsional. Jumlah kerbau persembahan dibatasi paling banyak 24 ekor. Warga juga dilarang menjual tanah atau berutang untuk mengongkosi Rambu Solo’.

Menurut tokoh masyarakat Toraja, Jacobus Kamarlo Mayongpadang, pesta yang digelar secara jorjoran itu mencerminkan lemahnya kontrol Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toraja Utara. Peraturan daerah tentang retribusi pemotongan hewan dianggap kurang efektif membatasi jumlah hewan yang dipersembahkan dalam upacara.

Selama ini pelaksana upacara dikenai retribusi Rp 150.000 untuk setiap kerbau dan Rp 50.000 untuk setiap babi persembahan. Yang jelas, penghasilan retribusi tak cukup untuk membenahi infrastruktur desa.

Shindunata (1978) menulis:

Pemerintah daerah Tanah Toraja sebenarnya sudah berusaha mencegah agar pesta-pesta kematian disederhanakan. Yakni dengan cara mempertinggi pajak pemotongan kerbau sumbangan. Satu kerbau yang disembelih dikenakan pajak Rp1.000, hingga makin banyak kerbau yang disembelih makin besar pajaknya.

Kalo membandingkan kondisi sosial suatu masyarakat berdasarkan artikel feature Kompas ini, yang tentunya tidak valid (and I aint an antropologist, too), keliatan banget Tana Toraja tahun 1978 gak banyak beda sama Tana Toraja tahun 2011, terkecuali soal inflasinya. Yang lainnya serupa.

Pelajaran lainnya adalah mekanisme disinsentif yang diterapkan oleh pemerintah untuk membatasi pemborosan (retribusi dan pajak pemotongan hewan) sama-sama diakui gak efektif, apalagi sama-sama diakui bahwa pemerintah sendiri mengharapkan kontribusi pariwisata dari pesta adat ini.

Sebagai penutup, pemborosan dengan bungkus adat ataupun kebiasaan sebenarnya tersembunyi di setiap sisi kehidupan kita. Dari mulai resepsi pernikahan, pesta ulang tahun, sampe juga pemakaman (tengok saja harga kavling pemakaman di San Diego Hill, Karawang). Untuk mengubahnya? Perlu upaya beberapa generasi sepertinya..

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Book Review, Itulah Indonesia. Tandai permalink.

3 Balasan ke Toraja 2011 vs Toraja 1978

  1. rasakehidupan berkata:

    Reblogged this on Komunitas Geografi.

  2. FINA berkata:

    Pesta rambu solok sudah kehilangan makna yang sesungguhnya. Asal ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s