Anak (-anak) (Saya) Butuh Quantity Time

Pas saya berangkat ke Adelaide, 13 Januari 2008, Athifa baru berusia 3 bulan 8 hari. Selama 240 hari selanjutnya, saya gak ketemu secara fisik dengan Athifa, dan juga istri saya, tentunya. Selama periode gak ketemu keluarga itu, setiap hari saya selalu berusaha nelpon ke Jakarta, rata-rata bisa sampai satu jam per hari (sampai suatu saat istri ‘ngeluh’, “bosen juga tiap hari ngomong berjam-jam begini”). Saya berharap interaksi suara via telpon cukup menggantikan ketidakhadiran fisik saya mendampingi perkembangan Athifa.

Sampe akhirnya pas saya pulang, 9 September 2009, dan begitu ngeliat saya, Athifa pun nangis, ngamuk lebih tepatnya. Wajah Bapaknya yang gak pernah diliatnya selama 8 bulan memang gak familiar di benaknya Athifa yang kemampuan memorinya masih terbatas. Gak lama memang Athifa nangisnya, hanya butuh sekitar 3 kali upaya menenangkan Athifa dalam kurun waktu sekitar satu jam. Sejam berikutnya Athifa udah bisa dideketin tanpa nangis, dan dua jam berikutnya Athifa udah mau digendong. Gak lama memang, tapi cukup buat menyadarkan saya, “saya harus memaksimalkan quantity time saya dengan Athifa di Adelaide kelak.”

Dan begitulah jadinya, dengan waktu luang yang sangat berlimpah, ‘work hour’ yang hanya 12 jam per minggu, waktu perjalanan dari rumah ke kampus yang hanya setengah jam, Athifa yang sehari-hari gak di-child care-kan, menjadi faktor-faktor yang sangat mendukung upaya memaksimalkan quantity time saya bersama Athifa. Acara rutin ngeliatin Athifa bangun di pagi hari, bikin sarapan buat Athifa (mostly Indomie, jangan bilang-bilang eyangnya Athifa yah, pancake, atau roti tawar), memandikan Athifa, ngajak jalan-jalan ke luar rumah minimal setengah jam per hari, bikinin susu formula pas mau tidur siang, bacain buku, mainan bola, jalan-jalan ke library atau mall pas week end, menjadi rutinitas saya bersama Athifa setiap hari, sebisa mungkin. Dan akhirnya, saya pun berkesimpulan, “Anak (-anak) saya butuh quantity time.” Here are what I thought about this issue.


Quantity time itu hak anak, dan kewajiban orang tua

Sebelum berangkat ke Adelaide, saya udah sering dibecandain sama istri, “Mas, kalo nanti abis pulang dari Adelaide terus dipanggil ‘Om’ sama Athifa, gimana?” Saya selalu bilang, dan meyakinkan diri sendiri, “Gak mungkin lah, namanya anak pasti punya ‘ikatan batin’ khusus sama orang tuanya sendiri.” Dan memang benar, Athifa pasti gak mungkin lupa sama Bapaknya, walau pun harus didahului dengan acara nangis karena gak kenal. Cuma apakah ‘ikatan batin’ itu akan tumbuh dan kuat dengan sendirinya atau harus dengan interaksi rutin, dan sering, setiap hari, setiap saat?

Postingan yang ini memberikan peringatan buat saya, mengabaikan quanitity time bersama anak sama saja dengan memilih menjadi seorang ‘stranger’ bagi anak-anak kita sendiri. Jika kita tidak meluangkan waktu dengan anak-anak kita sendiri, apa bedanya orang tua dengan orang asing? Maukah Anda sendiri meluangkan quality time dengan ‘orang asing’?

Ilusi quality time
Selama ini, isu quality time versus quantity time sering diperdebatkan dengan pernyataan kayak, “Daripada menghabiskan waktu sepanjang hari bersama anak tapi gak berkualitas, mendingan juga sebentar tapi berkualitas.” Bagi saya, argumen ini sama saja dengan pas saya ditanya, “Mendingan dipukul atau mendingan dikasi uang satu juta?” Jawabannya jelas, dan bukan analogi yang tepat. Argumen ini menjadi pembenaran orang tua sibuk yang berangkat sebelum anak-anaknya bangun, pulang setelah anak-anaknya tidur, dan ingin memaksimalkan quality time bersama anak-anaknya di akhir pekan ke.. mall. Yak, benar sekali memaksimalkan quality time di mall, dengan memilih tempat sesuai keinginan… orang tuanya, bukan anak-anaknya.

Awalnya saya curiga dan berteori konspirasi kalo konsep quality time itu dibikin sama bapak-bapak super-sibuk (dan juga super-pinter) yang jarang ketemu anaknya (atau bahkan gak punya anak sama sekali), dan pengen mencari pembenaran buat kesibukannya dia (teori konspirasi bahwa konsep quality time ini dibikin sama kaum Yahudi khusus buat umat islam biar umat islam tambah mundur sebenarnya lebih menarik. It seems that Yahudi are responsible for almost everything in the world of conspiracy theory).

At best, Wikipedia mendefinisikan quality time sebagai, ‘an informal reference to time spent with loved ones (e.g., close family, partners or friends) which is in some way important, special, productive or profitable.’ Bagi saya, definisi punya kelemahan karena lebih menitikberatakn sudut pandang orang tua, bukan sudut pandang anak-anak. And, believe me, it could be pretty darn different. Apa yang penting, menarik, spesial, produktif bagi orang tua belum tentu dilihat dengan sudut pandang yang sama dari pihak anak-anak. Dan bagaimana ketika anak-anak belum bisa berkomunikasi, kita sebagai orang tua hanya bisa menebak apa yang sebenarnya jadi keinginan anak-anak.

Beruntungnya, artikel Wikipedia yang sama juga menyatakan kelemahan konsep quality time, ‘quality time itu sebagian besar tidak bisa dijadwalkan dan, most of the time, quality time hanya bisa diraih dengan quantity time’. Quality time is a matter of seizing the right opportunity. You have to be present at the right time to seize the opportunity and opportunities can rarely be manufactured. Nah loh…

Diskusi quality time vs quantity time ini ada baiknya ditutup dengan cerita dari postingan yang ini.

Let’s suppose you’ve looked forward all day to eating at one of the finest restaurants in town. The waiter brings you a menu, and you order the most expensive steak in the house. But when the meal arrives, you see a tiny piece of meat about one-inch square in the center of the plate. When you complain about the size of the steak, the waiter says, “Sir, I recognize that the portion is small, but that’s the finest corn-fed beef money can buy. You’ll never find a better bite of meat than we’ve served you tonight. As to the portion, I hope you understand that it’s not the quantity that matters, it’s the quality that counts.”

Apakah Anda keberatan dengan daging steak yang cuma seupil itu? Saya yakin iya, dan dengan alasan yang masuk akal. Quality time dan quantity time adalah dua hal yang sama pentingnya dalam hubungan orang tua dengan anak. Anak-anak butuh waktu kita sebagai orang tua dan adalah upaya terbaik kita untuk memberikannya. Concern saya adalah, argumen quality versus quantity time sering dikaburkan dengan rasionalisasi salah kaprah, yang pada akhirnya justru membuahkan hasil, ‘kita tidak memberikan quantity time DAN quantity time kepada anak-anak.’ Sangat disayangkan, bukan?

Kausalitas yang aneh
Diskusi quality time vs quantity time sering dikaburkan dengan argumen kayak gini, “Tuh, anak-anaknya Pak Y sama Bu Y (dua-duanya bekerja), anak-anaknya gak ketemu terus-terusan sama orang tuanya juga gak apa-apa. Anak-anaknya sukses, kuliahnya beres, dapet kerjaan, dan selanjutnya, dan selanjutnya..” Bagi saya, argumen ini menyesatkan karena kita gak pernah tahu apa sih yang bikin seseorang sukses? Quantity time, quality time, IQ, keuletan, keberuntungan? We’ll never know. Quantity time, among other things, bisa ngaruh, bisa juga nggak.

Argumen ini juga menyedihkan bagi saya karena seolah-olah meluangkan quantity time bersama anak-anak itu adalah dianggap sebagai cost, sebuah pengorbanan, dan orang tua menginginkan imbal hasil, return, dari ‘investment’-nya, berupa anak-anak yang manis, baik akhlaqnya, pinter di sekolah, sukses kariernya, dst..dst.. Pathetic… Our children need our time. Period. No matter how this will affect them in the future, we’ll never know…

Time will tell…
Seiring dengan berjalannya waktu, Athifa yang tambah gede, pemahaman saya mungkin berubah. Bisa jadi quality time itu memungkinkan tanpa quantity time. Bisa jadi setelah jadi pekerja keras di Jakarta nanti (bangun shubuh, ngantor jam 6 pagi, pulang ke rumah jam 6.30 malem, belum ditambah ngajar malem dan week end) pemikiran saya bisa berubah. Bisa jadi kalo Athifa udah lima tahun entar saya bisa bilang, “Teteh Athifa, this weekend we should optimise our quality time. We should discuss the appropriateness of efficient market hypothesis for the first half an hour, and then we continue with behavioral asset pricing model…” Who knows, we’ll never know… Yang jelas, sampe sekarang I’ll stick with, “Anak (-anak) saya butuh quantity time…”

Bagaimana pun, masalah ini adalah masalah personal yang tiap orang punya preferensi dan pengalamannya masing-masing. It’s an open discussion…

Wallahu a’lam…

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Life in Adelaide, Pribadi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Anak (-anak) (Saya) Butuh Quantity Time

  1. Ping balik: Mall sebagai Pusat Kebudayaan? « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s