Memprediksi Prediksi

It is tough to make pre­dictions, especially about the future.
– Yogi Berra –

Pas pertemuan pertemuan kuliah Corporate Investment and Strategy tanggal 4 Maret 2009, dosen saya, seorang Dr. di bidang finance, sempat mengajukan pertanyaan kepada mahasiswanya: kalo mau investasi, bagusan mana antara Ford (F) sama General Motors (GM)? Sebagian besar isi kelas, termasuk saya memilih Ford dengan alasan kondisinya yang ‘mendingan’ dibanding GM (tahun 2008 Ford rugi US$ 14.6 million dibanding GM yang ruginya nyampe angka $30.8 million; kondisi neraca sama laporan laba rugi Ford juga lebih mending dibanding GM;  harga saham Ford waktu itu $1.90 sementara GM diperdagangkan seharga $2.05).

Sementara itu, sang dosen ternyata lebih milih GM. Alasannya? GM udah di ‘bail-out’ sama pemerintah US, udah dijamin dari kebangkrutan, nilainya gak mungkin lebih rendah lagi dari harga sahamnya sekarang. Lain masalahnya dengan Ford yang gak minta penjaminan pemerintah US, nilai sahamnya bisa lebih jatuh lagi daripada sekarang.

Kenyataan berbicara lain, GM ternyata malah minta Chapter 11 bankruptcy protection. Harga saham GM terakhir diperdagangkan seharga $0.75, turun, atau lebih tepatnya terjerembab, $1.30 atau 62.5%. Ford sendiri terakhir pas saya postingan ini dipublish diperdagangkan seharga $6.15! Bergelar Dr., di bidang finance, ternyata tidak memberikan keuntungan tersendiri dalam urusan head versus tail, GM versus Ford ini.

Mark Crosby punya cerita laen di sini. Economist di Westpac memprediksi kalo AUD$ bakal terdepresiasi nilainya menjadi sekitar 60 cent per US$, dari 71 cent. Pas mark bikin postingan, AUD$ bernilai 75 cent. Hari Jumat, 29 Mei 2009, AUD$ bernilai 80 cent!!!

Dunia ini penuh dengan prediksi yang meleset. Dari mulai Sir Thomas Watson, pendiri IBM, yang bilang, “I think there is a world market for maybe five computers” sampe Bill Gates yang bilang, “640K ought to be enough for anybody.” Worse still, kita teuteup aja dengan yakinnya memprediksi sesuatu. Semakin merasa ‘expert’, semakin yakin seseorang dengan kemampuannya memprediksi. Kita sebagai manusia merasa ‘butuh’ buat memprediksi.

Sebagian dari kita yang sudah belajar finance, dan juga economics, memprediksi adalah makanan sehari-hari. Berbekal ilmu econometrics, berbagai istilah keren, Gaussian, bell-curve, variance, standard deviation, mean reverting, menyertai analisis prediksi seorang ‘expert’. Sayangnya, tidak ada satu expert-pun yang memprediksi ‘Black Monday’ – 19 Oktober 1987, ketika stock market di seluruh dunia crash, tergelincir minimal 20%, dalam sehari perdagangan! Begitu pun tidak satu pun ‘bright mind’ di LTCM (dua orang peraih Nobel economics, dan sekumpulan Dr. di bidang Finance dan Physics) yang memprediksi kalo hedge fund yang mereka kelola bakal rugi US$500 million dalam sehari perdagangan. Pun ketika global financial crisis dimulai pertengahan 2007, hampir tidak ada economist dan finance expert yang memprediksi bahwa dunia bakal digoyang krisis kayak sekarang.

Saya tentu juga tidak menafikan kalo ternyata ada juga prediksi expert yang gak meleset. Seberapa akuratkah prediksinya? Study-nya David Dreman dan Michael Berry (1995) melaporkan bahwa tingkat error prediksinya para security analyst dalam memprediksi quarterly earning selama periode 1973 sampe dengan 1990 bervariasi dari mulai 25% error sampe dengan 65%, dengan rata-rata 41.27%! Bukan catatan yang mengagumkan bukan? Siyalnya, ketika prediksinya meleset para ahli tersebut, bakal berkomentar, “I was ‘almost’ right”, “Wheew.. that’s was close”,”it’s a bad luck!” Sebaliknya, ketika prediksinya ‘kebetulan’ cocok, mereka dengan gagahnya berkesimpulan, “Look, how skilled I am..” Bagaimana kalo kita balik logikanya, ketika prediksinya cocok, that was ‘luck’, dan ketika ramalannya meleset, “look how un-skilled you are.”

So, next you feel obliged to predict, or feel obliged to listen some expert predictions, here are something to remember:
 

We know nothing about the future
Sepinter apa pun manusia, dia gak pernah tahu apa yang bakal terjadi satu detik mendatang. Kita hanya belajar sejarah, melihat dari kaca spion. Dari melihat apa yang telah terjadi, kita pun mereka-reka kira-kira apa yang menjadi penyebab semuanya itu terjadi, so-called narative fallacy.
 

History doesn’t necessarily repeat itself
Expert di bidang finance dan economics sangat gandrung dengan penggunaan data historis buat memprediksi masa depan. Harga saham, harga bonds, inflasi, tingkat suku bunga, GDP, adalah di antara hal-hal yang rajin diprediksi dengan menggunakan data masa lalu. Regression, correlation, OLS, R-squared adalah mantra sakti-nya econometrician. Soal akurasinya, silakan pelajari study-nya.

Sebagai perbandingan coba liat ilustrasi berikut ini:

Figure 1: Berdasarkan data historis kayak gini,

1Econometricians bakal memprediksi masa depan kayak gini,

2padahal bisa aja kayak gini,

3atau kayak gini,

4Filosofer Bertrand Russel menyadarkan bahwa history didn’t necessarily repeat itself dengan menggunakan pembandingan seekor ayam sebagai berikut: seekor ayam yang diberi makanan setiap hari dari mulai lahir sampai hari ke-100, kalo menggunakan data historis tentu bakal berharap bahwa esoknya, hari ke-101 dia (sang ayam) bakal di beri makanan juga, kenyataannya: sang ayam dipotong di rumah jagal. Who knows.. (Disclaimer: saya tidak tau dengan pasti kalo ayam itu sudah layak potong pas hari ke-101 atau belum lho, angka 100 itu hanya ngawur, but you get the point, I’m sure).

 

Anda patut skpetis dengan prediksi ‘para ahli’
Dalam memprediksi masa depan, para ahli yang bergelar Dr. sama buruknya dengan sopir taksi. Yang membedakan adalah: ‘para ahli’ itu lebih, atau bahkan sangat, yakin dengan prediksinya. Diperburuk lagi dengan prediksi ‘para ahli’ inilah yang dimuat di media massa, efeknya jauh lebih dahsyat, ketika prediksinya meleset, dibandingkan dengan prediksi sopir taksi, yang hanya sempat mampir di telinga kanan penumpangnya. Seandainya saya mempercaya prediksi dosen saya untuk berinvestasi di saham GM, saya sudah dijamin rugi 62.5%. Jadi, pergunakanlah prediksi ‘expert’ seperlunya saja. If I were having IDR 500 million (which I don’t), I wouldn’t believe the ‘expert’ prediction about stock market. Entah dengan Anda?

We could predict, while bearing in mind many limitations

Secanggih apa pun model yang digunakan untuk memprediksi, bear in mind, bahwa pasti ada kelemahannya dan, berdasarkan data historis (ini juga fallacy) gak selalu tepat. Jadi, silakan memprediksi yang gampang-gampang saja, seperti, “Look I predict tomorrow the sun will rise….”

Wallahu a’lam.

Note:

* Sebagian besar postingan ini terinspirasi, dan nyontek langsung, dari Chapter 10: The Scandal of Prediction, The Black Swan: the impact of highly improbable by Nassim Nicholas Taleb. This should be read: If something wrong with the idea, blame him anyway.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Inspired By, On Finance. Tandai permalink.

3 Balasan ke Memprediksi Prediksi

  1. Jojo berkata:

    Jadi sebenarnya untuk apa kita memprediksi kang?
    Sorry pertanyaan newbie nih..🙂

  2. Ping balik: Krisis Ekonomi Spanyol: (Berusaha) Dijelaskan « My Mind

  3. Ping balik: Krisis Ekonomi Spanyol: (Berusaha) Dijelaskan « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s