A Bad Explanation is Better Than None at All

Kegundahan saya dimulai ketika Athifa, yang sudah hampir berusia 20 bulan, belum bisa ngomong, satu patah kata pun. Dia cuma bisa ngomong, atau lebih tepatnya bergumam, ma..ma..ma.., dan itu bisa berarti apa saja: dari mulai mau minum, mau makan, mau jalan-jalan, pokoknya gumaman Athifa ini bisa berarti apa saja kecuali satu: memanggil mama-nya sendiri.

Mertua saya sendiri di Jakarta, eyangnya Athifa, setiap kali ditelepon dari Adelaide selalu dengan bersemangat nanya: “Athifa udah bisa ngomong apa?” Saya atau istri dengan tidak yakinnya menjawab: “belum bisa ngomong apa-apa…” Selanjutnya kami pun langsung membela diri, khas orang tua ketika ‘membela’ anaknya sendiri: “tapi sebenernya Athifa udah ngerti kalo kita ngomong apa; kalo disuruh buang diapers-nya sendiri, dia ngerti buang ke tempat sampah; kalo diajak mandi langsung lari ke kamar mandi; kalo pas ngompolin karpet terus disuruh ngambil koran bekas buat nutupin bekas pipisnya Athifa juga ngerti; kalo kita marahin dengan suara keras juga nangis.” Atau kadang membela dengan jawaban yang gak berkaitan sama sekali, kayak: “walau belum bisa ngomong Athifa larinya udah kenceng lho, giginya aja udah tumbuh semua..” Jaka sembung pake golok banget…

Gak perlu nunggu puluhan international call, hypothesis tentang penyebab Athifa belum bisa ngomong ini langsung meluncur bak mitraliur. Ini beberapa di antaranya:

  • Dari eyang putri: “Abisnya Athifa dikasi nonton video melulu sih..” Balesan saya: “Ya harusnya Athifa malah pinter ngomong bahasa Inggris dong, Bu. Kan tontonan video-nya Athifa pake bahasa Inggris semua.”
  • Dari eyang putri (lagi): “Gak pernah diajak ngobrol kali…” Balesan saya: “Ya Athifa pasti diajak komunikasi lah, Bu. Ditanya mau minum apa nggak, mau makan apa, diajak mandi, diajak jalan-jalan ngeliatin bus sama ngeliatin burung-burung terbang, tapi kan gak mungkin diajak ngobrol kayak sama orang dewasa, diajak ngobrol kenaikan harga minyak goreng (ibu mertua saya berjualan di warung), atau pun juga ngomongin validitas continuous time finance-nya Robert Merton kan?”
  • Dari eyang putri (lagi): “Abisnya di sana gak ada tetangga sih, jadi gak punya temen maen.” Kalo yang ini saya speechless. Emang di sini Athifa gak punya temen maen yang seumuran sama sekali. Dari 18 unit di apartemen saya, hanya saya yang punya anak kecil, yang laennya kalo nggak kakek-nenek, ya pasangan yang nggak punya anak. Dulu sempet ada tetangga berseberangan jalan asal Indonesia yang punya anak 6 taunan, cuma pas Desember kemaren udah pulang ke Indonesia.
  • Dari eyang kakung: “Gak pernah diajarin ngomong kali..” Balesan saya: “Athifa itu disini hobinya bolak-balik buku, terutama yang ada bunyi-bunyinya atau yang tokohnya dia kenal (Pocoyo atau In the Night Garden). Selama di Adelaide Athifa udah ngumpulin lebih dari 50 buku (50 kali lebih banyak dari jumlah buku yang dikumpulin Bapaknya). Tiap hari saya bacain lho itu buku-bukunya sama Athifa..”
  • Dari kawan akrab saya yang anaknya (lebih muda 3 bulan dari Athifa) juga belum bisa ngomong: “Kalo anak gue sih kayaknya gara-gara sampe sekarang makannya makanan halus doang.., gak mau makanan yang keras.” Saya langsung nimpalin: “Athifa itu udah makan segala macem makanan, kacang atom Garuda aja dimakan, kurang keras apa coba?”
  • Puncaknya, eyang putri menyarankan: “Dikasi makan lidah kambing sama lidahnya Athifa disabet pake daun sirih biar cepet bisa ngomong..” 😯 😯 Saya hanya bisa mengelus dada dan berkomentar balik: “Wah, saya nggak berani ngasih lidah kambing, Bu, takutnya Athifa nanti malah bisa ngomongnya mbek..mbek…” Dan hasilnya ibu mertua saya pun langsung ngomel-ngomel, “Udah biar nanti kalo pulang ke Jakarta aku yang nyiapin lidah kambing sama sirihnya…” Atur aja deh, Bu…

Sebenernya saya pun gak kurang pusing dengan Athifa yang belum bisa ngomong ini. Apalagi tipe orang tua kayak saya yang bentar-bentar nanya mbah Google kalo ada yang nggak sreg. Begini hasilnya: usia 12 – 14 tahun udah bisa ngomong dengan jelas kata sederhana kayak mama atau dad, usia 1 – 2 tahun: perbendaharaan kata yang nambah tiap bulan, menggunakan satu atau dua kata kata tanya (“Di mana kucingnya?” “Apa itu?”), menggabungkan dua kata, menggunakan konsonan yang berbeda di awal kata. Ooopsss…

Menyikapi ke-belum-bisa-ngomong-an Athifa ini, saya hanya yakin kalo setiap anak berkembang dengan tingkat kecepatan yang berbeda-beda. Pas Athifa sudah bisa jalan pas umur 12 bulan-an, saya dan istri pun kaget karena kami memperkirakan Athifa bakal telat jalan (Athifa baru bisa ‘tengkurap dengan ahli’ pas usia 8 bulan-an, dan merangkak dengan lancar pas 10 bulan-an). Saya hanya berpikir kalo sungguh tidak adil kalo kami sebagai orang tua berharap berlebihan dari perkembangan Athifa, sementara Athifa-nya sendiri gak paham sama sekali tentang harapan kami. Biarlah Athifa berkembang sebagaimana dia mau, mumpung masih anak-anak dan belum ngerti apa-apa. Soal ngomong ini, saya berusaha meyakinkan diri bahwa yang penting sistem pendengaran Athifa berfungsi dengan baik. Soal kemampuan bahasa, Insya Allah menyusul, mungkin ini trade-off dengan perkembangan giginya yang telalu cepet. 🙂

Yang membuat saya kesel adalah ketika orang-orang, you know who, yang dengan pedenya berusaha mencari penjelasan atas segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Kita sebagai manusia, yang merasa makhluk paling sempurna di jagad raya, selalu mencari penjelasan dan penyebab (causalitas) dari segala sesuatu. Terkadang penjelasan itu perlu, dan valid, akan tetapi terkadang ada hal-hal yang, menurut saya, seharusnya dibiarkan un-explored dan kita hanya bisa bilang, ” Wallahu a’lam, God knows.” Soal perkembangan bayi dan anak-anak termasuk dalam kategori ini. Dikembangin lebih luas, kenapa index harga saham turun, kenapa GDP Indonesia tetep positif, kenapa Partai Demokrat menang pemilu, adalah sekelumit permasalahan yang selalu berusaha dicari penjelasannya, dan selalu saja saya tidak yakin dengan ‘validitas pakar’ dan, lebih jauh lagi, validitas argumennya.

Nassim Nicholas Taleb, dalam bukunya The Black Swan menjelaskan dengan baik kecenderungan manusia untuk mencari penjelasan causalitas ini. Beliau mencontohkan kejadian ini:

One day in December 2003 , when Saddam Hussein was captured, Bloomberg News flashed the following headline at 13:01: U.S. TREASURIE S RISE ; HUSSEIN CAPTURE MAY NOT CURB TERRORISM.

Whenever there is a market move, the news media feel obligated to give the “reason.” Half an hour later, they had to issue a new headline. As these U.S. Treasury bonds fell in price (they fluctuate all day long, so there was nothing special about that), Bloomberg News had a new reason for the fall: Saddam’s capture (the same Saddam). At 13:31 they issued the next bulletin: U.S. TREASURIES FALL ; HUSSEIN CAPTURE BOOSTS ALLURE OF RISKY ASSETS.

Wallahu a’lam.

Note: Saya berusaha mencari judul bahasa Indonesia yang pas, cuma gak bisa. Akhirnya saya contek dari judul artikel review buku The Black Swan oleh Michael Duffy di The Sydney Morning Herald.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Inspired By, Life in Adelaide, Pribadi. Tandai permalink.

3 Balasan ke A Bad Explanation is Better Than None at All

  1. Ping balik: 20 Bulan « My Mind

  2. Ping balik: There’s No Such Thing as a Superior Parenting System « My Mind

  3. Ping balik: Penanganan Keterlambatan Bicara: Koleksi kearifan lokal (?) « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s