Book Review: Inventing Money

511fmb0yn3l Dunbar, Nicholas (2000) Inventing Money: The story of Long-Term Capital Management and the legends behind it, John Wiley & Sons, Ltd, Chischester

Kalo saya berniat, dan melaksanakan niat itu, untuk bikin postingan setelah selesai baca suatu buku, maka di-itung-itung saya udah berhutang 60 postingan blog tentang book review. Menurut catatan saya, selama Adelaide ini saja saya sudah selesai baca 62 buku (semuanya pinjaman dari libary), di luar teksbook kuliah. Dari sejumlah 62 itu, baru dua saja yang sempet, dan bisa, saya bikin postingannya, di sini dan di sini. Beragam alasan, dan pembenaran, mengapa saya males bikin postingan setelah selesai baca buku. Sebagian karena emang saya gak terlalu paham apa yang diomongin di buku itu (hal kayak begini mungkin cuma saya aja yang mengalami), saya gak tau mau bikin review kayak gimana (karena buku yang saya baca itu sering aneh-aneh dan gak jelas, dan gak ada kaitannya sama sekali) atau emang semata saya-nya aja yang males.

Mumpung lagi gak males, nyobain bikin book review yang ini. Buku Inventing Money ini dikarang sama Nicholas Dunbar, seorang jurnalis Wall Street, yang menceritakan tentang kebangkrutan yang hampir menimpa Long-Term Capital Management (LTCM). Dari ribuan kisah kebangkrutan suatu perusahaan, LTCM ini menjadi kisah yang unik karena orang-orang yang berada di baliknya (John Meriwether, Myron Scholes, dan Robert C. Merton), prinsip2 finance theory yang melandasi operasinya, keterlibatan LTCM dalam aksi spekulasi dan transaksi derivatives, dan nilai kerugian yang dideritanya (hampir US$1.3 trilyun).

LTCM sendiri merupakan hedge fund (mengelola dana dari investor untuk dikelola oleh partners dengan cara diinvestasikan) yang didirikan oleh John Meriwether. John Meriwether terkenal karena selalu merekrut akademisi (profesor, PhD di bidang finance, komputer, atau physics) dan keekslusifan group yang didirikannya.

Berawal dari ‘arb group’ yang dipimpinnya di Salomon Brothers, Meriwether mendirikan LTCM dengan back-up akademisi, yang paling terkenal tentu adalah bergabungnya Myron Scholes dan Robert C. Merton, dua orang penerima Nobel Ekonomi tahun 1997 karena kontribusinya mengembangkan Black-Scholes-Merton untuk menilai option. Selain Scholes dan Merton, tercatat partner lain dari LTCM adalah Profesor dan PhD seperti David W. Mullins Jr., Eric Rosenfeld, William Krasker, Gregory Hawkins, dan Larry Hilibrand.

Kombinasi SDM canggih, dana investor yang melimpah, program komputer canggih yang mereka desain, jenius di bidangnya, bikin LTCM rada ‘sombong’. LTCM meminta profesional fee 2% (umumnya 1%), dan profit share 25% (umumnya 20%), dan juga meyakini kalo hedge fund yang mereka kelola bakalan sukses, mustahil bangkrut.

Dan memang benar, pada awalnya. Profit setelah fee LTCM pada taun 1994 dan 1995 mencapai angka di atas 40%. Ketika profit tahun 1996 hanya 17%, mereka tetap meyakini akan kecanggihan dan kejeniusan mereka ‘beat the market.’

Kombinasi krisis Asia tahun 1997 dan kebangkrutan pemerintah Rusia tahun 1998 lah yang bikin LTCM kehilangan jumawanya. Dengan modal hanya US$2 milyar, mereka mengelola asset US$120 milyar, dan off-balance sheet liabilities senilai US$1,3 trilyun. Angka yang luar biasa besar, bahkan untuk ukuran ekonomi Amerika Serikat. Pada akhirnya, LTCM di-bail out oleh beberapa lembaga keuangan AS dengan perantara Federal Reserve New York.

Buku ini sendiri, lucunya, baru masuk menceritakan LTCM setelah hal 120-an (dari 270-an halaman buku ini). Bagian awal buku ini justru menceritakan tentang penggunaan derivatives dari zaman Mesopotamia, perkenalan dengan Meriwether, Scholes, sama Merton, dan juga sejarah teori Black-Scholes-Merton. Bisa jadi cara muter-muter buku ini karena memang sumber-sumber dan penjelasan tentang LTCM memang sangat terbatas. Keekslusifan dan arogansi LTCM memang menghambat penyebaran informasi tentang LTCM. Saya sendiri sedang ‘berburu’ buku sejenis, “When Genius Failed: The rise and fall of Long-Term Capital Management,” karangannya Roger Lowenstein.

Kelebihan buku ini adalah narasinya yang mengalir, beda sama teksbook. Buat yang gak ngerti Finance pun, kayak saya misalnya, gak akan menemui kesulitan kalo baca buku ini. Buat yang mau belajar gimana ‘kesombongan’ dikalahkan, bagaimana AS yang selalu keras kepala dan gak pernah belajar dari kesalahan, dan juga pengen merasa nyaman karena ‘peraih Nobel aja bisa bikin gagal dan bikin bangkrut apalagi gue,’ bisa baca buku ini.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Book Review, On Finance dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Book Review: Inventing Money

  1. Ping balik: Book Review: Barings Lost « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s