Mimpi Jadi PhD

Entah karena tetangga di Adelaide sini gak rese dan gak ngomongin, “bajunya Athifa koq jelek-jelek begitu sih..” (kayak tetangga yang di Tangerang Selatan sono) atau karena pengen suaminya bisa santai-santai lagi kuliah S3 (jadinya bisa disuruh-suruh bantuin pekerjaan rumah), yang jelas istri saya berkali-kali bilang, ” Udah Pa, Papa S3 lagi aja di Adelaide sini. Jangan ngambil di Adelaide Uni, entar stress lagi, S3-nya di Flinders ajah, biar bisa kerja kebun.” Halah…

Saya sendiri tidak terlalu antusias dengan ide nerusin kuliah S3 lagi. Alasannya?

  • Saya ini orang pesimistis.

Kalo ditanya: “gelas itu setengah penuh atau setengah kosong?” saya bakal jawab: “Bergantung. Kalo tadinya gelas itu penuh dan saya minum setengahnya, maka gelas itu jadi setengah kosong. Sebaliknya, kalo tadinya gelas itu kosong dan saya isi dengan air setengahnya, maka gelas itu setengah penuh. Bingung kan?

Buat para trainer, jawaban atas pertanyaan gelas itu setengah penuh atau setengah kosong menunjukkan apakah seseorang itu pesimistis (setengah kosong) atau optimistis (setengah penuh). Saya sendiri gak merasa saya ini black or white begitu, cuma dalam target hidup terus terang saya ini orangnya gak ngoyo. Mengingat ‘masalah’ itu sendiri timbul ketika “kenyataan itu berbeda dengan harapan’, maka saya berusaha tidak membuat harapan yang terlalu muluk-muluk, biar kalo ternyata kenyataannya gak bagus-bagus banget, saya bisa santai. Kalo ternyata nanti kenyataannya begitu indah, gak masalah toh? Gak akan jadi ‘masalah.’

Saya ingat dulu pas kelas 3 SMU, ketika ditanya sama temen-temen: lulus SMU mau kuliah di mana? Saya selalu bilang: “saya gak tau, kalo ada uang ya kuliah, kalo gak ada ya gak kuliah.” Kalo kenyataannya saya bisa kuliah gratis di STAN, dan akhirnya ngelanjutin S2 di Adelaide sini, itu di luar ekspektasi saya. Hasil akhirnya, gak ada masalah timbul. Analogi yang sama bisa diterapkan di urusan S3 ini. Saya gak ngarep bisa kuliah S3, dapet ya syukur kalo nggak bisa ya gak masalah… Gitu aja koq repot?

  • Kuliah S2 saya postgraduate coursework

Dari segi hierarki sistem kependidikan di Australia, program Postgraduate Coursework tidak didesain buat orang yang mau ngambil riset di PhD. Jalur kependidikannya justru dari Postgraduate Research yang bisa langsung ke PhD. Kalo dari coursework pathway-nya justru harus ke Postgraduate Research dulu, baru bisa ke PhD. Tambahan pula, nilai-nilai saya pas kuliah Master juga, menurut saya, tidak cukup ‘layak’ buat ngelanjutin PhD.

Dari sudut pandang beasiswa, ngambil postgraduate research dilanjut Ph.D tentu ‘tidak bisa diterima.’ Program-program beasiswa semacam AusAID hanya mengenal PhD, atau Master. Akan sulit kalo kita bilang: saya pengen Master by Research dulu, terus lanjut ke PhD, mau gak Bapak biayain saya?

Alternatif lainnya tentu dengan ngambil kuliah Ph.D di luar Australia, bisa di luar negeri atau bahkan di Indonesia. Cuma ya itu tadi: ‘saya ini orang yang pesimistis’  8)  buat nyobain hal-hal yang baru.

  • Saya gak punya ‘passion’ dengan finance

Seperti yang udah diulas di postingan yang ini, sampe sekarang saya gak punya ‘gairah’ buat mendalami finance. Buat apply dan ngejalanin program Ph.D, yang hampir 4 tahun itu, tentu butuh semangat dan kecintaan untuk mengembangkan, menemukan sesuatu hal yang baru, berkontribusi terhadap keilmuan finance, ‘terkenal’ dan jadi pengganti Black, Scholes, atau Merton, dan lainnya. Sayangnya, saya gak paham mau ngapain dan bakal jadi apaan kalo saya ikut program Ph.D di finance. Mencoba bidang baru di luar keilmuan saya sebelumnya, accounting atau finance, juga bukan pilihan yang feasible mengingat…, yak benar sekali, ‘saya orang yang pesimistis.’  8)

  • Saya udah capek mikir

Kuliah emang santai: bisa bangun siang-siang, bisa baca buku sepuasnya, bisa jalan-jalan, bisa ngasuh Athifa seenaknya, tapi butuh mikir. Pulang kuliah mikirin assignment, tutorial, soal ujian, paper. Santai tapi pikiran gak bebas. Di kantor kebalikannya, pas jam kerja ya sibuk, atau minimal dibikin sibuk, tapi pas pulang kerja ya gak ada urusannya ngerjain tugas kantor. Tugas kantor mah dikerjain di kantor lagi, besoknya, dan bukan buat dibawa pulang ke rumah. Mengkondisikan otak saya, yang udah mulai lemot dan kurang kreativitas buat nyelesain Ph. D sesungguhnya bukan hal yang mustahil, akan tetapi… ‘saya ini orang yang pesimistis.’ 8) Jadinya?….

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Campus Life, Keluarga, On Finance dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Mimpi Jadi PhD

  1. Ping balik: The (1.5 Years) Holiday is, soon to be, Over « My Mind

  2. muses berkata:

    nice…..honest…..sometimes i get similar feeling n thought as same as you. create placebo aja…he he eh

  3. tukang martabak berkata:

    wah memang jalan hidup orang macam-macam dan tidak ketebak.
    Saya malah kebalikannya pak Maman, saya optimistis dan ambisius.

    Dari SD hingga S3 saya selalu aim the best school, strive to attain the best grades…. Selalu dapat beasiswa dari SD sampai S3.

    Motivasi saya adalah menjadi seorang engineer kelas dunia. Saya lulus doktor dari salah satu lab terbaik di Eropa dengan pujian tertinggi. Riset saya adalah di bidang optomicromechatronics, perkawinan antara teknologi optik, nanoteknologi, elektronika dan mekatronika, satu penemuan saya telah dipatenkan dan dipakai oleh berbagai industri perminyan di dunia, saya kemudian bekerja sebagai specialist engineer di sebuah perusahan multinasional di Eropa.

    Kesalahan saya adalah saya balik ke Indonesia. Negara anti intelektual.

    Disini hanya ada 3 jenis pekerjaan : Makelar (sales, marketing), bean counters (akuntan, finance) dan tukang (teknisi, office boy,help desk). Coba silakan cek lowongan-lowongan pekerjaan di Indonesia. Perusahaan-perusahaan di Indo mengemas 3 jenis pekerjaan tersebut dengan nama yang kedengaran mentereng.

    Akhirnya saya nganggur dan kerja luntang lantung selama berbulan-bulan….daripada stres mending ikutin permainan aja..

    Bermula jadi makelar untuk peralatan instrumentasi pabrik yang saya kuasai, kemudian mencoba berbagai macam bisnis, sering sekali ditipu orang…..Dari punya BMW seri terbaru di Eropa hingga kini kemana-mana naik angkot.

    sekarang saya berniat untuk buka toko peralatan industri.

    Intinya pak, nasib orang tidak bisa dilihat dari pesimis atau optimis. Bapak yang pesimis bisa jadi justru nanti setelah PhD jadi menteri. Teman-teman bapak yang optimis dan ambisius, bisa jadi cuman jadi makelar, seperti saya hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s