Does (Formal) Education Matter?

Di bukunya yang pertama, Does IT Matter? – Information Technology and the Corrosion of Competitive Advantage, Nicholas G. Carr berhipotesis kalo Information Technology (IT) itu ‘gak penting’. Kerangka berpikirnya? IT bukan (lagi) sesuatu hal yang penting dan bakal meningkatkan keuntungan kompetitif suatu perusahaan karena IT sudah menjadi barang ‘umum’ dan ‘biasa’. Carr mencontohkan: kalo ada suatu perusahaan yang mengaplikasikan suatu teknologi informasi baru, maka perusahaan yang laen dengan cepatnya mengimitasi strategi tersebut biar gak kalah kompetitif.

Kalo kerangka berpikirnya Carr itu bener, maka pendidikan formal berada pasa posisi yang sama dengan IT. Kerangka berpikirnya? Pendidikan formal sudah menjadi hal yang ‘umum’ dan ‘biasa’. Orang gak lagi ngambil pendidikan formal buat meningkatkan kualitas kependidikan, nambah ilmu, atau bikin ‘competitive advantage’ dibandingkan orang laen, bla..bla.. Sebaliknya, orang kuliah lagi (S2, S3, Postdoc, Professorship, dan selanjutnya) cuma biar gak ketinggalan sama orang laen. Pendidikan formal sudah menjadi kebutuhan primer… Ayah saya cuma lulusan SMP, sementara ibu saya cuma lulusan SD. Dan ternyata cuma butuh satu generasi, saya sudah merasa perlu ngambil kuliah S2, buat meningkatkan ‘kebutuhan’ pendidikan formal. Di akhir tahun 70-an, lulusan SD aja masih bisa dapet kerjaan ‘bener’ di Jakarta. 20 tahun-an kemudian, sarjana S1 saja sudah kerepotan nyari kerjaan.

Tentu saja kadar penting atau nggaknya pendidikan formal bergantung sama lingkungan keluarga, lingkungan kerja, atau falsafah hidup orang itu sendiri. Di lingkungan kantor saya, level pendidikan S2 itu udah biasa, sebagian besar malah lulusan S2 luar negeri. Pada posisi seperti ini, bagi saya ‘S2 itu doesn’t matter’, karena setelah saya, Insya Allah, selesai kuliah S2, tidak ada keuntungan kompetitif saya dapet di lingkungan kantor. Saya hanya ‘mensejajarkan’ diri dengan teman-teman yang laen di kantor. Kalo saya ngambil kuliah S3, yang kayaknya ‘very highly unlikely’, baru lah ‘S3 does matter.’ Sekali lagi, ini sangat kasuistik dan spesifik kepada permasalahan masing-masing orang.

Yang perlu digarisbawahi dari logika berpikir ‘formal education doesn’t matter’ adalah bahwa tidak bisa diambil logika kebalik: karena formal education itu gak penting, kalo gitu gak perlu kuliah dong? Gak bisa begitu, karena dasar pengambilan logikanya nggak cocok.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Campus Life. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s