Junk Mailers

Once again, we come to the holiday season, a deeply religious time that each of us observes, in his own way, by going to the mall of his choice (Dave Barry)

Liburan christmas dateng dan, seperti yang dibilang Dave Barry dan juga didorong abis-abisan sama Kevin Rudd agar Australia terhindar dari resesi, tiba masanya buat belanja. Ngeliatin orang-orang Adelaide ngadepin Christmas jadi inget-inget orang Indonesia pas mau lebaran, i.e. sibuk belanja, beli baju baru, nyari hadiah buat dikasi keluarga, cuti bareng-bareng sampe kantor pada kosong gak bisa ngapa-ngapain, dll. Siapa yang meniru siapa, apakah lebarannya orang Indonesia meniru christmas-nya orang bule atau christmas-nya orang bule yang niru lebaran orang Indonesia, saya kurang paham…

Aroma christmas di sini malah udah kerasa sejak 4 bulan sebelumnya (pernak-pernak christmas udah tersedia di toko-toko sejak berbulan-bulan sebelumnya), dalam hal ini orang Indonesia masih mending kali ya? Sampe-sampe, bisa jadi buat orang yang baru tersesat dari lorong waktu selama lebih dari 2 milenia bakal nyangka kalo  christmas itu artinya waktu buat berbelanja (dan bukan waktu religius buat merayakan sesuatu) atau bahkan karena adanya waktu berbelanja khusus makanya dibikin christmas (yang ini contoh post hoc ergo propter hoc fallacy dari buku Economic lho?).

Buat gue sendiri, yang nggak ngerayain christmas dan juga bukan warga Australia (jadi ngerasa nggak punya kewajiban buat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Australia), christmas saatnya buat mengintensifkan kerjaan gue yang satu ini: pengamat junk mails, kita sebut aja = junk mailers.

Udah tau kan apa itu junk mail?

junk_mail_collection1

Itu lho, selebaran promosi dari supermarket-supermarket yang ada di sini. Di sini rutin, minimal tiap dua kali seminggu, kumpulan berbagai junk mail beginian dimasukin ke kotak surat. Buat sebagian orang, selebaran promosi itu sangat mengganggu, mirip sampah, menuhin kotak surat doang, dan hampir nggak pernah dibaca. Walhasil, sebagian besar kotak pos ditempelin tulisan: “No Junk Mail!”, “Australian Postage Only”, “Mail Only” dan tulisan-tulisan sejenis.

Buat gue, pengangguran nggak jelas dan gak punya kerjaan, junk mail adalah hiburan tersendiri. Membandingkan barang-barang yang lagi diskon, ngeliat harga-harga barang elektronik dan membandingkan harganya dengan barang sejenis di Indonesia, motongin kupon-kupon promosi jadi hiburan tersendiri yang menyenangkan buat gue. Walhasil, kotak surat gue yang sebelumnya ditulisin “No Junk” sama penghuni sebelumnya, gue tutupin pake spidol dan diganti, “Junk Mail, Please”.

Kalo lagi sibuk jadi pengamat junk mail, celetukan-celetukan kayak begini jamak keluar:

“Ma, nih camcorder Canon HF10 lagi diskon di CameraHouse…”

“Pa, nih pampers lagi diskon di Foodland…

“Wah, iPod dapet bonus dock speaker-nya di Dick Smith…

Belanjanya sendiri? Jarang atau malah hampir nggak pernah, lha wong judulnya ajah pengamat junk mail bukan tukang belanja…

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Life in Adelaide. Tandai permalink.

3 Balasan ke Junk Mailers

  1. Ping balik: James Hardie and Asbestos: A Case of Moral Liability « My Mind

  2. Salim Darmadi berkata:

    Hehe… waktu baca judulnya, kirain Papahnya Athifa udah kerja jadi junk-mail deliverer. Lumayan tuh Mas…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s