‘Group of 8’ Rasa The University of Adelaide

Awalnya adalah hasil Indonesia International Roundtable Marketing i.e. rapat promosi Adelaide Uni di Indonesia, yang katanya begini:

  • Adelaide Uni dalam melakukan rekruitment students lebih memprioritaskan kualitas dibandingkan jumlah. Walaupun diupayakan keduanya bisa berjalan simultaneously.
  • Terdapat beberapa excellent selling points dalam upaya promosi Uni Adelaide di Indonesia:
    1. Strong and innovative research
    2. Wide range of fields
    3. Member of group 8
    4. Low cost of living
    5. Friendly environment/ secure
    6. minimal distraction
    7. Noble award banyak diterima oleh researchers Adelaide Uni.
  • Salah satu aspek yang kami berikan masukan dan stressing dalam diskusi kemarin adalah keluhan Indonesian Students akan beratnya standard kelulusan (grade) di Uni Adelaide; oleh karena itu disepakati kedepan akan diupayakan penyediaan supporting services (bentuknya masih didiskusikan) untuk membantu student deal with Adelaide Uni standards dangan tidak menurunkan standard sebagai member group 8.

Note: Huruf tebal dan garis miring adalah penambahan dari saya pribadi.

Dalam hidup ini sangatlah wajar kalo kita punya beberapa persepsi dalam menilai suatu kondisi yang sama.   Dengan semangat menjembatani persepsi, saya pun mengirimkan e-mail begini:

Dear all,
Terkait dengan postingannya pak Yxxxx sebagai hasil dari pertemuan Indonesia Roundtable Marketing, yang salah satu hasilnya adalah bakal adanya supporting service untuk “membantu student deal with Adelaide Uni standards dangan tidak menurunkan standard sebagai member group 8”, saya terus terang masih bingung dengan ‘Standar Group of 8’ atau spesifiknya ‘Adelaide Uni standards’, itu seperti apa sih? Bagi saya, ‘Adelaide Uni standards’ itu, if there are such thing as ‘Adelaide Uni standards’, adalah:

  • Dari 200-an student dalam satu subject, cuma satu orang (0.5% saja) yang dapet HD, 5 orang saja dapet D (2.5%).
  • Di subject yang laen, tutor dengan bangganya meyakinkan students, “semester ini Edward (sang dosen) bakal nggak nge-lulusin 50% dari student yang enroll.
  • Di subject yang laen lagi, ada tutor Chinese yang dengan lancarnya ngajar dalam bahasa Chinese, ke kelas yang kebetulan semua students-nya emang orang Chinese kecuali satu orang temen Indonesia yang kebetulan pindahan dari tutorial laen. Saya sih berhusnu-dzon, mungkin ini program dual-language The University of Adelaide yang belum sempet digembar-gemborkan di mana-mana.
  • Di subject terakhir, dua jawaban assignment saya (yang saya haqqul yakin dengan kebenarannya) disalahkan sama tutor. Ketika dikonfirmasi, sang dosen membenarkan jawaban saya tapi dengan embel-embel. “I see that xxx (tutor) did not penalise you much at all for the issue you’ve raised.” Oooh, ‘based on the standards’ yang penting tuh nilai dan penilaian, proses mah gak penting?
  • Ada dosen yang dengan meyakinkannya menjamin students, “kalo situ bisa dapet Pass di sini, elu bisa dapet Distinction di ‘Universitas Sebelah’.
  • Ada tutor yang dengan menyarankan, “Don’t bother ask (and learn) that matter. That’s not examinable.”
  • Students kena penalti kalo telat ngumpulin assignments, tapi kalo dosen telat nyediain Handout ke students (sampe hari Jumat minggu pertama kuliah, baru satu dari empat subject yang tersedia Handout-nya)?
  • Jadi, seperti apa sih ‘Standar Group of 8’ atau spesifiknya ‘Adelaide Uni standards’ itu? Mohon saya diberi ‘pencerahan’.

Oh, tapi tentunya ada banyak sekali sisi positif dari Adelaide Uni yang bisa dibanggakan, seperti:

  • Akes internet super cepat. Tapi tunggu sebentar, rupanya kita cuma dapet jatah internet quota 500 MB per semester alias 2.7 MB per hari (cukup lah buat buka e-mail yahoo), dan Universitas Member Group of 8 yang paling rendah jatah internet quotanya (dan juga paling mahal biaya kelebihan quotanya = $50 per GB). Jauh dibandingkan dengan ‘Universitas Sebelah’ yang ngasih 32 MB per hari dan kelebihan jatahnya di shape ke 64 KB/s, bukan dengan di-charge mahal.
  • Akses ke journal online yang bejibun banyaknya…. cuma sayangnya Postgraduate Coursework kayak saya mah gak bikin essay (dari delapan subject yang saya ambil, cuma ada satu essay 1500 words, dengan proporsi 15% doang). Jadi gak begitu kerasa manfaatnya akses ke journal online.
  • Library dengan ribuan koleksi buku… sayangnya lagi, tiap subject saya cuma butuh satu textbook (doang) dan saya pun perlu bersaing dengan ratusan students laennya. Ribuan koleksi Library dikurangi empat textbook yang saya butuhkan, gak kepake sama sekali.
  • Biaya hidup di Adelaide kan murah? Iyaah, tapi kan universitas di Adelaide bukan cuma The University of Adelaide doang?

Warms regards,

MAMAN FIRMANSYAH
Mahasiswa postgraduate Commerce yang tertatih-tatih mengejar ‘Standar Group of 8’

Gayung bersambut, perspektif saya yang agak ‘beda’ ini langsung  disambut oleh temen yang laen:

Dear Mas Maman Firmansyah,

kok sepertinya pengalaman mas di adelaide uni lebih banyak pahitnya ya?

saya mau komenin tulisannya mas ttg kelebihan2ny adelaide uni:

# Akses ke journal online yang bejibun banyaknya…. cuma sayangnya Postgraduate Coursework kayak saya mah gak bikin essay (dari delapan subject yang saya ambil, cuma ada satu essay 1500 words, dengan proporsi 15% doang). Jadi gak begitu kerasa manfaatnya akses ke journal online.

postgraduate coursework kayak saya (with 2 subjects) tiap semester saya punya 1 essay 2000 kata (30%), 1 essay 3000 kata (40%), sisanya exam 30%, dan 1 project 9000 kata (100%), jd obviously jurnal online sangat berguna sekali buat saya.. lagi pula, kayaknya untuk bikin essay 1500 words tetep butuh lebih dr 1 jurnal deh. oyah, jurnal itu kan juga gak cuma berguna buat bikin tugas, menurut saya fungsinya lebih untuk upgrade info terbaru ttg field kita. gak musti punya tugas baru cari jurnal kan? saya justru mumpung masih di adelaide, saya puas2in download dan baca jurnal internasional, buat upgrade ilmu. soalnya uni saya yang di indonesia (Universitas Indonesia), gak punya akses ke jurnal internasional sebanyak yg adelaide punya

# Library dengan ribuan koleksi buku… sayangnya lagi, tiap subject saya cuma butuh satu textbook (doang) dan saya pun perlu bersaing dengan ratusan students laennya. Ribuan koleksi Library dikurangi empat textbook yang saya butuhkan, gak kepake sama sekali.

idem kayak jurnal, iseng2 baca buku kan juga gak salah?

required reading saya juga gak lebih dr 3 buku per course, tapi every week at least ada chapter2 dr buku yg beda2 yg hrs dibaca buat weekly reading. blom lagi buat assignments. lagipula yang kuliah di adelaide kan bukan cuma mas maman doang.. saya yakin ribuan buku lainnya kepake kok sama students yg lain.

mungkin kita semua hrs mencoba merubah mindset indonesia kita: dimana sekolah atau kuliah itu untuk semata2 cari nilai. yang saya pelajari selama 1 thn saya di oz, disini saya kuliah untuk cari ilmu

cheers,
Axxx Axxxx
Postgraduate Student of Adelaide University
Art History (Curatorial and Museum Studies)

Dan juga dari Mas yang ini:

Dear to Every one

Waaahh sepertinya setelah mendapatkan nilai semester ini, mahasiswa indo yang baru, bisa merasakan “ketangguhan” the Uny Adelaide. Saya rasa baik maman maupun mbak ayu ada betulnya, akan tetapi bagi maman sebaiknya memberi penilaian lebih objektif lagi, karena saya kira nilai maman ngak jelek kan. Untuk mbak ayu, gambarnya ( ) sepertinya kurang cocok deh, he….he…. .

kalo dari segi kemampuan sih menurut saya, semua mahasiswa yang masuk di Uny Adelaide, semuanya akan mampu lulus dari Uny Adelaide, karena ketika kita masuk, kita sudah diberikan semua potensi untuk lulus dari uny ini. tapi masalahnya kita ini memang berusaha/sunguh2 belajar, apa ngak. soalnya banyak kasus yang saya dengar saat pertama memang saat yang cukup sulit, akan tetapi setelah beberapa semester akan lebih baik. dan juga apa bila tetap ngak bisa, akan selalu ada jalan terbaik memecahkan masalah nya. itu bukan berarti kita ngak mampu/ngak pintar akan tetapi minat, pengetahuan, dan pengalaman kita yang berbeda dengan apa kita pelajari di Uny Adelaide.

Masalah nilai sih menurut saya ngak ada yang salah baik itu pass atau pun HD, prinsipnya bagaimana dan sebanyak apa ilmu itu dapat kita terapkan pada keahlian kita masing2 di Indonesia. kan, ngak mungkin tu semua ilmu yang kita dapat disini kita terapkan semua di indonesia, karena ada yang sifatnya umum dan ada yang spesifik menunjang pekerjaan kita.

Untuk standar group 8, saya ingin bercerita pengalaman semester pertama saya di Plant Health and Biosecurity. Mungkin coursework yang saya ambil merupakan course yang paling aneh yang ada di Adelaide, karena course ini cuma mempunyai 1 student yaitu saya. Kalau dilihat secara pandangan umum tentunya itu kurang kondusif untuk belajar, akan tetapi setelah saya jalankan, banyak sekali kelebihan2 yang saya dapat dari Course ini :

  • Dosen yang mengajarkan saya rata2 prof., dan dosen2 ini benar2 profesional dalam mengajar walupun untuk satu orang stundent. bayangkan kalo di Indo, apa mau prof begitu ?
  • Saya lebih confidance untuk bicara, dan banyak sekali saya bisa tanyakan kepada dosen, yang mana mungkin itu tidak bisa didapat jika mahasiswanya ratusan…
  • Material yang diberikan sangat2 memuaskan. maksudnya, kualitas materi yang diberikan sangat baik, tentunya materi itu cukup susah untuk dimengerti dalam waktu yang singkat, tapi jika saya terus mengulang2 dikemudian hari saya rasa, saya akan mampu mengerti lebih baik. kan ngak menyenangkan tu bagi kita kalo materinya terlalu mudah untuk kita. kalo gitu ngapain juga kita jauh2 kuliah di luar negri, di indo juga banyak kuliah seperti ini.
  • mengenai penilaian, tidak ada nilai kasihan yang diberikan dosen, apabila saat ujian saya menjawab pertanyaan salah maka nilainya langsung 0, walaupun jawaban saya cukup panjang. akan tetapi tentunya mereka memberikan jawaban dan alasan yang masuk akal akan hal itu. dan juga mereka menilai kita dari banyak segi, baik itu di practical report, essay, exam, project report, etc.
  • Semua matakuliah saya adalah intensif course. dimana semua mata kuliah hanya butuh 1 bulan untuk belajar, lalu masuk mata kuliah baru. Intensif course memang cukup berat bagi saya, karena kuliah diselengarakan setiap hari dimulai dari jam 9.00 am sampai jam 3-4 pm dan apabila kuliah telah selesai hari jum’at, maka hari senin langsung ujian. tentunya kurang sekali waktu untuk belajar bagi saya. Akan tetapi, dengan adanya course seperti ini saya lebih focus dengan mata kuliah, dan lebih terjaga konsentrasinya dalam belajar.
  • Mengenai resources di Adelaide, saya setuju ama pendapat mbak Ayu, semua itu tergantung kita mau mengunakannya apa ngak. yang tentuny kalo ngak berguna sekarang mungkin disuatu hari nanti bakal ada manfaatnya.

Jadi Intinya, Kalo kita ingin benar2 belajar, tentunya Uny Adelaide salah satu uny terbaik di Adelide yang dapat dipilih. Kenapa salah satu, karena kita ngak tahu juga dengan kondisi sebenarnya di uny yang lain, kan kita bukan mahasiswa diuny yang lain, yang cukup mengherankan kenapa juga kita harus merasa lebih baik dari uny yang lain. menurut saya yang lebih penting sih seberapa besar ilmu yang kita dapat ini bermanfaat bagi kita maupun orang disekitar kita nanti. bagi teman2 Uny adelaide, janganlah disampaikan kepada teman2 di Indo bahwa belajar di Uny adelaide ini berat ataupun susah lulusnya, sehingga sedikit sekali teman2 di Indo yang berminat ke Uny ini, dan juga pernyataan tersebut dapat membuat jurang pemisah dengan teman2 dari uny yang lain di Adelaide.

Mohon maaf apa bila ada kata-kata yang menyinggung perasaan.Selalu berpikir positif dan Peace…….

Warm Regards
Fxxx Nxxx

Secara khusus, gue memberikan tanggapan positif sama komentar yang pertama. Cuma, sekali lagi, demi kesamaan persepsi, saya nge-reply komentarnya Mbak Axxx Axxx, kayak gini:

Dear Mbak Ajeng,

Begini nih nasibnya sayah i.e. mahasiswa yang jarang nulis essay, mau nulis e-mail ke milis aja gak jelas isinya dan susah dipahami. Terima kasih atas tanggapan Mbak Ajeng. Ada beberapa hal yang perlu saya tanggapi:

  • Saya tidak berusaha meng-ekspose ‘penderitaan’ atau ‘kepahitan’ saya selama kuliah di Adelaide Uni. Yang sebenarnya mau saya sampaikan, walaupun mungkin gak nyampe, adalah betapa ‘Standar Group of 8’ itu sebenarnya sangat ‘vague’. Kalo pun ada ‘Standar Group of 8’ itu – dan saya yakin ada – saya gak tau dan gak memahaminya dengan baik (karena itu saya pengen masukannya dari temen-temen yang lebih memahami).
  • Selain itu, karena begitu beragamnya Program Studi yang ada (antara Commerce dan Curatorial and Museum Studies aja sangat berbeda requirements- nya, assessment-nya, jumlah mahasiswanya, karakteristik mahasiswanya, karakteristik dosennya, dll.) ‘pengalaman kuliah di universitas member group of 8’ itu bisa jadi sangat berbeda. Bagi saya sendiri, terus terang saya tidak ‘highly impressed’ dengan apa yang saya alami di sini. Bagi saya pribadi, kuliah saya di sini gak banyak beda sama kuliah saya di STAN dulu ( beberapa dosen yang killer, PR tiap minggu – itu pun diambil persis dari textbook yang kadang sudah ada kuncinya dan sama persis dengan semester sebelumnya, proporsi assessment final exam yang super gede, metode penilaian exam yang ‘strick’). Ini tentu berbeda jauh dengan ekspektasi saya tentang kuliah di luar negeri, apalagi di ‘universitas member group of 8.’ Sekali lagi, ini pengalaman masing-masing, tentu bisa sangat beragam, dan tidak ada manfaatnya diperdebatkan.
  • Saya juga sangat setuju kalo ‘sekolah atau kuliah itu bukan semata2 cari nilai’. Saya sudah merasakan gimana gak enaknya mengejar-ngejar IP 2,6 demi tidak dipulangkampungkan dulu semasa di STAN. Makanya saya kesini juga gak nyari nilai (apapun nilai saya, gak akan ngaruh ke karier saya, kalo pun saya gak lulus saya tinggal pulang ke Indonesia, kerja lagi, gak ada konsekuensi sama sekali), saya pengen nyari ilmu tapi kok ya’o pengalaman saya di sini menunjukkan kalo di program studi saya itu sangat mementingkan nilai. Coba liat pengalaman saya yang butir 2, 4, 5, dan 6. Gak enak banget dan, sekali lagi, jauh dari ekspekstasi saya sebelum kuliah di sini.
  • Saya juga pengen banget upgrade ilmu, tapi sayangnya soal tutorial di subject yang saya ambil sama terus sejak taun 2004 (selama dosennya sama ya soalnya juga sama), textbook yang saya pake edisi tahun 2008 tapi referensinya masih ke jurnal tahun 1957. Sementara sih, karena untuk yang empat subject per semester yang saya ambil aja saya masih terseok-seok ngikutinnya, saya sih cukup liat jurnal taun 1957 aja dulu.
  • Topik e-mail saya yang pertama adalah pengalaman saya pribadi, dan kesan saya atas ‘adelaide uni experience’ selama ini. Tentu saja ribuan buku di library dan akses ke ribuan jurnal akan sangat bermanfaat buat mahasiswa lain, seperti Mbak Axxx misalnya, poin saya: bagi saya sih, ‘biasa aja tuh!’
  • Mohon maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan. Hal itu karena semata-mata karena kekurang-pengalaman nulis essay, kayaknya.

Warm regards,

MAMAN FIRMANSYAH

Diskusi berlanjut, kali ini dari sesama se-nasib se-penderitaan, mahasiswa Commerce:

Dear to All teman seperjuangan di Adelaidde Uni

Cukup menarik tema ini, jadi saya ingin ikut menambah aja, maksud saya menambah dari pengalaman pribadi saya setelah selama dua semester berada disini.

Saya setuju masing – masing pihak punya pengalaman dan pendapat yang berbeda, terus terang pada awalnya saya merasa kuliah di Adelaide berat sekali, buat saya seminggu masuk kelas sebanyak kurang lebih 12 kelas membuat aku kewalahan, belum tuntutan penyelesaian soal-soal ditutorial dan workshop plus assignment and additional reading yang kadang ndak terjamah, serasa ngak fair gitu,

Saya pernah punya pengalaman bertanya ke tutor dia jawabnya ” khan saya udah jelaskan di pertemuan kemarin”, atau waduh lebih parah lagi he said that he forget about last tutorial topic. Kacau khan. Bertanya ke Dosen dia malah ndak menyelesaikan masalah, kita disuruh tanya ke tutor, padahal tutornya tidak bisa menjelaskan sesuai harapan kita. Puyeng deh

Tetapi ternyata dipikir – pikir mungkin aku sendiri yang kurang dalam artian kurang ngerti apa yang dimaksud maklum English is my second language.

Disini dari pengalaman aku berusaha untuk lebih memahami diri kita sendiri apa betul tutor ama dosennya yang kurang atau kitanya yang agak tulalit.

Tetapi perlu diketahui juga, kami pernah punya pengalaman dapat Tutor dari Chinese yang TOPBGT alias top banget deh, dia selalu berusaha memberikan jawaban yang memuaskan buat kami, bahkan dia berusaha mencarikan info dan refence lain manakala dia tidak bisa memberikan jawaban yang baik. Dia selalu minta maaf dan mohon diberikan waktu untuk mencarikan info tentang topic tertentu. Dosen mmmm, banyak memang yang kadang bikin jengkel seperti contoh Mas Maman, Edward, di mata kuliahnya kami pernah mengalami salah satu mahasiswa malah bertanya dalam bahasa mandarin, padahal khan isi kelasnya dari International student juga. Tetapi ndak sedikit juga Dosen yang berbaik hati mau meluangkan waktu untuk bertemu dan memberikan bantuan yang kita butuh khan. Dari pengalamanku ini aku bisa menyimpulkan tidak semua orang sama, meski mereka mempunyai standard kelulusan yang tinggi, setiap orang punya kebijakan masing – masing. Mungkin dosen berusaha keras untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas sehingga dia memberikan berbagai task yang lumayan menyulitkan.

Dari Axxx aku setuju banget tuh fasilitas yang ada di Adelaide Uni banyak banget dan banyak membantu kita dalam mencari info dan pengetahuan, selain yang udah disebutkan (library dan internet), kita bisa download sebanyak – banyaknya untuk tambahan reference ketika kembali ke tanah air, maklum aja kayak saya yang mengabdi di Irian Jaya Barat mana adalah kesempatan emas seperti ini.

Selain itu aku mau share nih ada kan fasilitas di Uni yang di depan Horrace Lamb lecture thetaer tuh. Saya sangat merasa terbantu sekali, mereka memahami betul kondisi kita, baik untuk kesehatan fisik dan mental, mereka siap menerima keluh kesah dan berusaha membantu kita dalam proses penyelesaian study kita. Kita bisa memperoleh bantuan sesuai dengan kebutuhan atas kelemahan yang kita punya (Disability) baik untuk kegiatan lecture maupun untuk exam time. Wow, bandingkan dengan di Indo, jarang kan ada institusi yang menyediakan bantuan buat mahasiswa yang kurang bisa berkonsentrasi belajar, kebanyakan kurang konsentrasi diaggap malas, padahal banyak faktor yang mempengaruhi. Well itu pendapat ku sih

Aku juga dukung pendampat Fxxx, mau Group of 8 atau tidak tergantung kita, bagaimana kita menerapkan ilmu yang telah kita peroleh.

Cheers

Dxxx Ixxx

Ada lagi tambahan dari mahasiswa riset:

Halo semuanya,

Sangat menarik ya diskusi + keluh kesahnya.

Btw, saya pernah konsultasi dengan supervisor dan entah mengapa pembicaraanya sampai pada keluhan-keluhan mhs international kayak kita-kita ini. Prof saya itu bilang, yang kurang dari mhs international itu (bkn cuma Indo ya), tidak bisa complaint, padahalkan “menyatakan keberatan” itu penting supaya orang tahu masalah kita, krn satu-satunya masalah yang tidak ada solusinya adalah masalah yang tidak disampaikan. Saya pikir-pikir ada betulnya juga sih. Jadi kalau ada dosen/tutor yang kayaknya kurang sreg gitu, seharusnya kita sampaikan keberatan kita. Kalau langsung di kelas mungkin kurang etis ya, tapi ada jalur-jalur lain misalnya ke school atau student representative. Dan di sini kan semua akan confidential sifatnya.

Nah, kadang ada yang bilang, ngapain juga repot, bikin panjang urusan saja. Kalau kita hanya memikirkan diri kita sendiri, ndak mau mengorbankan sedikit dari waktu kita, memang tampaknya “tak ada gunanya” alias konyol. Tapi kalau kita berpikir sekecil apapun yang kita lakukan, manfaatnya bisa ke puluhan generasi berikutnya.

Dosen IBP saya bilang, skill terpenting dalam dunia global skarang, dimana berbagai kepentingan dan value saling berkontradiksi, adalah skill of negotiation. Jadi mungkin keberanian utk bernegosiasi inilah yang perlu ditingkatkan.

Issue2 seperti inilah yang perlu lebih diperhatikan lagi oleh PPIA menurut saya. Gimana caranya supaya kita-kita ini pengalaman belajarnya lebih banyak enjoynya daripada pahitnya gitu. Saya punya ide misalnya ada tutor2 informal atau peer support atau apalah istilahnya. Intinya yang senior2 dan lebih dulu tahu itu membantu yang junior2 atau yang belum banyak tahu. Ini kan semacam study club kalau jaman SMA dulu, sampe ada acara jatuh hati antara tutor dan yang ditutori itu!!!!! He-he-he, ingat kisah-kisah dulu, kayaknya menghibur ya.

Ok deh, selamat belajar dan keep move on.

Oh ya,tadi di Religious centre Flinders Uni saya baca notice bunyinya kira2 kalau ndak salah “Yang dibutuhkan utk sebuah keberhasilan itu adalah “Plan” dan waktu yang TERBATAS” Nah lho, justru waktu yang terbatas yang dibutuhkan, artinya waktu yang sedikit justru memacu daya juang, tapi sukses tidaknya tergantung apa kita punya planning atau tidak. Waktu seribu tahunpun, kalau tidak punya planning, sama saja tetap nggak maju-maju. Saya suka prinsip ini, soalnya saya sudah dujuluki suami “Mrs planning”, apa-apa serba direncanakan, kurang spontan katanya, he-he-he.

Selamat berjuang, semoga Allah memberkati.

Cheers,
Kxxx

 
Ada masukan berharga tentang group of 8 dari Mbak Gxxx, gini katanya:

Dear all,

Ikut nimbrung nih, sebagai pendatang baru di milist ini, Gxxx Wxxx dari School of Agriculture, Food and Wine discipline Plant and Food Science di Waite.

Ada file presentasi dari website Grup of 8 mengenai anggotanya, group of 8-nya, dan kelebihan group of 8 menurut pembuat presentasi ini. File-nya saya attach di email ini supaya semua bisa membaca dan memahami.

Topik yang didiskusikan ini sangat menarik. Mungkin saya ingin share sedikit mengenai pengalaman saya studi dengan Uni of Adelaide delapan tahun yang lalu dan sekarang.

Kalau Uni Adelaide mengutamakan kualitas dibandingkan dengan kuantitas, itu sangat terasa untuk saya pribadi. Berkali2 saya mendengar dosen di Uni of Adelaide mengatakan bahwa dalam pendidikan postgraduate, yang diutamakan adalah ‘learning skills’, ketimbang ‘content’ atau ‘knowledge’. Jadi, pendidikan yang kita terima dari universitas adalah lebih pada ‘skills’ yang bisa kita pakai untuk membangun ‘content’ atau ‘knowledge’ serta membangun ‘skills’ lainnya yang kita butuhkan di masa yang akan datang, secara mandiri.

Jadi, kalau ada di antara teman2 yang mungkin merasa kok yang diajari sama saja dengan yang sudah didapat di universitas di Indonesia, itu wajar. Justru sekarang mumpung ada di sini, gimana caranya kesempatan yang ada dipakai untuk belajar caranya meningkatkan ‘content’/’knowledge’ , sampai kita bukan cuma bisa mempelajari ‘content’ tersebut, tetapi bisa sampai dalam taraf membuat ‘content’ yang bisa diterima masyarakat ilmiah untuk kemudian dipelajari orang lain dan digunakan orang lain untuk membangun ‘content’nya masing2.

Tugas2 paper, essays maupun ujian essays sebenarnya latihan untuk mempraktekkan ‘skills’ tersebut, mulai dari mencari informasi, memahami informasi yang kita dapatkan dan menjadi familiar dengan istilah dan bahasa yang digunakan, serta mengelola informasi yang berhasil kita kumpulkan menjadi ‘content’ yang bisa dipahami, paling tidak oleh tutor atau dosen kita. Kalau memang bagus, biasanya dosen kita akan menyalurkannya untuk dipelajari orang lain, bila tidak kita diminta menjadi tutor, tulisan kita biasanya disarankan untuk dipublikasikan.

Kalau mahasiswa Indonesia merasa kesulitan mendapatkan nilai HD dalam menulis essay ataupun ujian essay, kemungkinan yang meriksa tidak bisa melihat ‘content’ yang original dari pemikiran kita yang bisa dipahaminya. Ini juga terkait dengan kebiasaan kita menulis essay ataupun mengerjakan ujian essay yang biasanya berdasarkan hafalan mati bahan kuliah dosen kita sampai titik koma. Tapi, ini hanya kemungkinan loh, yang pernah saya alami begini, tapi mahasiswa lain kasusnya mungkin bisa berbeda2 satu dengan yang lainnya.

Mengenai Go8, kelihatannya yang ditonjolkan sebagai kelebihan oleh Go8 adalah pendidikan ‘skills’ yang saya uraikan tadi. Terutama melalui riset. Ke delapan universtas anggota Go8 adalah ‘universitas riset’. Kita di Indonesia masih sangat ketinggalan jauh dalam pendidikan tinggi kita, karena tertinggal dalam hal ini. Selain kualitas ‘skills’ yang diajarkan sangat baik, universitas2 dalam Go8 ini termasuk jajaran universitas dunia yang banyak menghasilkan ‘content’ atau ‘knowledge’ di dunia ilmu pengetahuan.

Walaupun di sisi lain, kalau kita lihat peringkat dunia universitas dalam berbagai versi, Uni Adelaide sebenarnya tahun lalu peringkatnya masih di bawah ITB dan UI (Mohon dikoreksi kalau saya salah). Tetapi, untuk teman2 alumni ITB dan UI, jangan kecewa dulu, karena peringkat tersebut biasanya juga memasukkan point2 untuk segala macam kriteria termasuk jumlah gedung, fasilitas dan mahasiswa, dll. Uni2 dalam Go8 lebih umumnya unggul ketimbang ITB dan UI dalam hal Risetnya, termasuk penggalangan dana riset dan publikasi ilmiah dan patent yang tarafnya internasional.

Segitu dulu deh dari saya.

Mudah2 an nggak jadi pada bingung ya…. agak sedikit berfalsafah. ….

Please feel free to make any comment or to disagree..

Cheers,

Grace

Dan diskusi pun ditutup dengan postingan pak ketua PPIA University of Adelaide:

Salam,
Saya setuju Ibu Kxxx. Saatnya sekarang kita terbuka dan mengkomunikasikan masalah yang kita hadapi khususnya jika kita merasa bahwa proses academic yang kita jalani tidak sesuai harapan apalagi merasa kalau diperlakukan tidak fair.

Diskusi tentang hal ini bermula dari Forum Round Table on Indonesia yang bertujuan untuk melakukan promosi The UoA di Indonesia. Forum ini dihadiri oleh hampir seluruh head departments di Uni Adelaide yang student Indonesianya agak banyak, pimpinan Uni Adelaide serta pihak International Student + David Spiller sebagai Scolarship Linkage UoA dan beberapa lecturer asal Indonesia. Delegasi PPIA dihadiri oleh Saya, Mas Edy dan Mbak Wita (ketua,sekertaris dan bendahara).

Dalam forum ini didiskusikan bahwa salah satu the most effective ways to promote the UoA di Indo adalah melalui jaringan alumni dan studentsnya yang masih aktif, yang kemudian dapat menyampaikan hal-hal positif tentang the UoA dan mengajak calon students yang lain untuk kuliah di Uni Adelaide.

Awalnya ketika menerima undangan dari Andrew Bain (Senior Executive Officer to the Pro Vice Chancellor) untuk hadir dalam Round Table on Indonesia waktu itu, saya teringat akan beberapa diskusi kami dengan sebagian teman-teman (semoga tidak semua) merasakan beratnya deal dengan standar kelulusan/grade yang dijalankan di Uni Adelaide dan berupaya membawa masalah ini dalam forum tersebut untuk didiskusikan.
Ketika Kami mengungkapkan bahwa ada “rumor” dikalangan Indonesian Students bahwa untuk lulus sebuah mata kuliah di Uni Adelaide cenderung lebih sulit dibandingkan dengan Uni yang lain perticularly di Adelaide beberapa peserta forum kemudian berpendapat bahwa itu bukan rumor dan mengatakan “We do, because we are a member of Group of 8”. Walaupun menurut mereka adalah hal yang kurang ethis membiacarakan hal ini “diluar” forum the UoA.

Ada sebuah pertanyaan yang menarik yang diajukan oleh salah seorang head depatrment, “dalam upaya marketing ini, apa sih kita cari; KUALITAS or KUANTITAS?. ketika harus memilih the UoA akan memilih kualitas rather than number. Sehingga Kami mengusulkan bagaimana kalau keduanya berjalan simulatneously dengan tidak menurunkan “standar kelulusan/grade” tapi memprovide some supporting services untuk membantu Indonesian Students untuk membantu kita dalam upaya deal dengan standard tersebut. Sehingga keduanya bisa tercapai. Mereka mencatat hal tersebut sebagai sebuah point penting untuk kemudian kedepan akan ditindaklanjuti. Semoga.
Pelajaran yang penting dari hal ini adalah :

  1.  Pihak the UoA kemudian telah melibatkan Indonesian Students Association dalam merumuskan program-programnya.
  2. Pentingnya komunikasi dalam upaya memecahkan masalah. Mengutip Ibu Mila “masalah yang tidak ada jalan keluarnya adalah masalah yang tidak dikomunikasikan” . Dan ini harus terjadi baik secara individu student itu sendiri di department masing-masing maupun lewat PPIA.
  3. Menjadi tantangan buat Indonesian Students di UoA untuk lebih semangat lagi belajarnya. “Pelaut ulung selalu lahir dari ombak yang besar”. Saya kira hal ini bisa tercapai dengan melakukan apa yang disarankan mbak Ajeng dan mas Fuad; “belajar bukan untuk dapat nilai tapi meraup sebanyak-banyaknya ilmu”. 
  4. Menjadi student student di Uni yang merupakan member of G8 bukan jaminan bahwa kita lebih berkuailtas dari students di Uni yang lain. Kemampuan kita untuk memanfaatkan system dan resources (data base internet, lecturers dan researchers yang handal, dll) yang ada secara optimal akan memberikan kita peluang untuk menjadi student yang menikmati proses belajar di the UoA.
  5. Dalam upaya promosi Uni kita, perubahan mindset tentang The UoA yang hanya mengandalkan jargon G8 harus segera dilakukan oleh studentsnya sendiri dan kemudian akan lebih produktif jika kita fokus ke hal-hal yang positif di The UoA karena disinilah kita sekarang menimba ilmu untuk disampaikan kepada orang-orang disekeliling kita (jaringan masing-masing) .

Cerita mas Maman tentang sulitnya belajar di Uni Adelaide dibenarkan oleh head departmentnya: ). Semoga mas Maman dan kita semua kedepan bisa “menikmati” kuliah di Uni Adelaide dan dapat menjadi pelaut tangguh di tengah badai assigments, exams dan research yang berat.Sehingga cerita kita semua bisa “happy ending”..:).
Lama kami tunggu postingannya mas Maman di milis ini🙂.

Oh ya, untuk dapat info tentang Group of 8 bisa access disini : http://www.go8. edu.au/.
Mungkin ada tamen-teman yang lain yang mau menambahkan info dan ide-idenya tentang topik ini, disilahkan.
Sekian dulu.

Salam,
Yahya

Yap itu dia yang ditunggu-tunggu, “We do, because we are a member of Group of 8”. Selamat menikmati, Group of 8 rasa The Lovely One, The University of Adelaide.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Campus Life. Tandai permalink.

3 Balasan ke ‘Group of 8’ Rasa The University of Adelaide

  1. Salim berkata:

    Kalau saya lebih tertarik masalah cost of living Mas (he-he, maklum, newbie di Oz)… Tapi kok baru tahu ya kalau Adelaide Uni ketat banget assessment-ya.

    Btw, GPA semester pertama bagus kan Mas?

  2. Maman Firmansyah berkata:

    Soal GPA, tergantung definisi ‘bagus’-nya kayak apa? Pokoknya masih bisa melangkah ke semester berikutnya lah…🙂

  3. Ping balik: Is Google Making Me Stoopid? « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s