Dokter Indonesia vs Dokter Australia

Baru-baru ini terjadi diskusi yang cukup seru di milis MIIAS seputar profesi dokter, khususnya dokter Australia dan, dibandingkan dengan, dokter di Indonesia. Dengan semangat untuk memperkaya wawasan, tidak gegabah meng-generalisasi, dan berbagi pengalaman, diskusi tersebut saya muat di postingan ini. Buat teman-teman yang e-mailnya di-copy paste di sini, mohon maaf dan kalo keberatan bisa menghubungi saya lewat e-mail.

Mulanya dari postingan seorang kawan:

Dokter Indonesia Belajarlah “Mental” dari Dokter Australia

Pernahkah anda melihat dokter ketika di depan Pasien di indonesia , kemudian dokter tersebut membuka buku catatan mengenai obat untuk Mengingat atau sekedar memastikan obat yang akan diberikan… ..???

Pernahkah anda melihat dokter ketika di depan Pasien di indonesia memakai Calculator untuk menghitung dosis obat dengan tepat…..?? ?

Kalau hal ini ditanyakan ke diri saya, sudah tentu jawabannya belum pernah saya melihat seperti ini di indonesia.

Tetapi, di Adelaide, South Australia, dari 4 sampai 5 kali, saya pribadi pergi ke dokter mereka membuka buku catatan obat di depan pasien-pasien termasuk diri saya sendiri, bahkan menggunakan Calculator untuk menghitung dosis obat yang akan diberikan.

So, Kesimpulannya ..???: Dokter Indonesia Pintar-Pintar, IPK kuliahnya punya nilai setinggi langit atau kualifikasi untuk menjadi dokter di indonesia sangatlah ketat. Selanjutnya Dokter-Dokter di Australia Bodoh-Bodoh karena selalu lihat Catatan dan Menggunakan Kalkulator.

Dokter bukanlah manusia super, dengan data memory di kepalanya yang pasti selalu benar. Membuka catatan/buku serta menggunakan kalkulator untuk menghitung dosis obat BUKANLAH suatu TINDAKAN YANG MEMALUKAN, TIDAK PROFESIONAL.

Demi Gengsi, sekedar kesombongan mempertaruhkan Nyawa dan keselamatan Pasien.

Seorang teman saya yang bermukim di Adelaide, adalah Apoteker di sebuah apotik terkenal di surabaya. Pernah menerima Resep ketika di Surabaya (Indonesia), Obat salep mata untuk seorang anak kecil, dimana pada resep obat tersebut Dokter yang memberikan Salah mengingat obat yang benar untuk penyakit tersebut. Sehingga apabila obat tersebut di berikan ke Pasien akan mengalami kebutaan. Maka ibu si anak kecil tersebut, datang kembali ke dokter dan memprotest resep tersebut, kemudian si dokter mengatakan dia Khilaf karena lagi ada masalah keluarga dan meminta Maaf.

Pernah ketika di balikpapan, anak saya sakit, kemudiaan di bawa ke ketiga orang dokter yang berbeda dalam hari yang sama. Maka yang saya dapatkan setiap dokter saling menyalahkan satu sama lain, mereka mengatakan obat yang diberikan dokter sebelumnya salah dosis dll.

Ini hanyalah sebagian kecil, dari ribuan kasus mal praktek yang terjadi di indonesia. Mungkin saja banyak dokter-dokter di indonesia yang lebih Pintar dari dokter-dokter di australia tapi akibat mental yang salah menyebabkan kondisi untuk menjadi Hati-hati dan waspada keselamatan pasien menjadi berkurang.

Hilangkanlah Mental Gengsi dan Sombong, karena hal tersebut merupakan bagian sifat-sifat syaitan. Ambilah sikap-sikap tawadhu, mau belajar, rendah hati.
Insya ALLAH akan mendapat berkah dan pertolongan ALLAH SWT.

Gayung bersambut, langsung dikomentari oleh kawan yang laen:

Jawabannya.. Pernah!
ketika di Gresik, dokter yang menangani anak saya, pak IP. punya buku panduan up-date terbaru u obat dari Farmasi Indonesia… beliau saya lihat sering kali membolak-balik buku tsb.

lalu dokter perusahaan kami dulu, pak SP, selalu membuka2 buku ttg daftar obat ketika hendak memberikan obat. (kebetulan saya sering ‘meminjam’ salah satu ruang klinik beliau u sholat). Dia salah satu lulusan FK terbaik di Univ A. dan ‘berpengalaman’

Mungkin beberapa dari mereka ‘memang’ ingin kelihatan tau segalanya (terutama yang senior). tapi insya Allohsaya bisa pastikan tidak semuanya saya setuju sepenuhnya. kita harus hilangkan mental sombong spt yang disebutkan.

analisa laennya..
kadang masyarakat kita tanpa sadar ‘meminta’ mreka u itu. Teman sekelas saya di SMA yang kemudian pernah di’protes’ pasiennya: “bapak masih baru ya..kok masih buka2 buku”. menurut teman saya…sekian persen dari proses penyembuhan adalah psikologi si pasien juga.

Kita tentunya pernah dengar cerita anak demam panas, begitu pulang dari pak Anu, bu Itu panasnya turun. Pdahal diapa2kan juga belum (baca: diberi obat). Akhirnya teman saya memilih u membaca buku pintar obat tsb tidak didepan pasien. beberapa pasien yang ’emosional’ hanya percaya kepada dokter yang ‘pede’

di kota kami, seorang dokter senior di kota S pernah membuat kesalahan fatal spt yang pak Agung sebut. dia melewati beberapa prosedur yang harus dilakukan untuk anestesi total. hasilnya alergi terjadi dan pasien meninggal. Pasien tsb adik saya sendiri.

However, kasus serupa juga pernah kita dengar terjadi di Australi.

So, pak Agung benar…
mari kita hilangkan sikap sombong kita

Kali ini, seorang temen laen yang berkomentar:

Salam…

Pak Agung, saya tinggal di Jakarta. Saya pernah mengalami hal-hal tsb. Dokter anak saya melihat “buku pintar” dan menghitung kadar obat antibiotika yg hrs diberikan sesuai berat badan dan usia anak. Pdhal dokter tsb sdh spesialis anak, msh ditambah lagi dg subspesialis. Dokter tsb mengajar di Fak Kedokteran UI (FKUI). Kemudian dokter anak saya di RSAB Harapan Kita Jakarta juga terus meng-update pengetahuannya lewat internet. Dokter jantung ibu saya, kardiolog yg pintar (lulus dari FKUI dg ranking 1, dan lulusan tercepat sbg kardiolog FKUI), juga msh melihat “buku pintar” ketika mengobati ibu saya, dan juga terus update pengetahuan lewat internet. Obsgin saya (kabarnya ranking 2 ketika lulus dari FKUI) juga tidak segan-segan buka buku pintar dan menghitung-hitung di atas kertas untuk memperkirakan usia kandungan utk menetapkan tanggal operasi.

Saya sependapat juga bahwa faktor psikologik juga mempengaruhi kesembuhan pasien. Di Adelaide, saya juga pernah mengalami dokter men”sugesti’ saya ttg obat tertentu. Di Jakarta saya sdh terbiasa bahwa sepulang dari dokter pasti diberi resep. Bahkan, seorang psikiater pernah memberikan resep isinya “hanya” vitamin stlh melakukan analisis thd kakak saya. Alasannya sembari bergurau, kurang lengkap bila dokter tdk memberi resep ke pasien. Pdhal memang sebenarnya si pasien tdk perlu obat utk penyembuhan. Psikiater memberikan resep dg pesan, kalau tidak diambil juga tidak apa-apa.

Kembali ke pengalaman anak saya ketika sakit di Adelaide. Berhubung saya single parent di Adelaide, maka kalau anak demam sedikit langsung saya bawa ke dokter. Saya bawa anak saya yg demam ke dokter yg sdh sering menangani anak saya. Dokter tanya sdh berapa lama, saya jawab 2 hari. Dokter tdk mau memberikan obat, saya diminta tunggu sampai 3 hari, bila blm membaik maka saya diminta kembali. Saya bersikeras minta obat. Lalu dia memberikan 2 resep. Dia mengatakan resep 1 ini sangat ampuh utk demam, namun sulit memperolehnya. Bila resep 1 sulit diperoleh maka carilah obat di resep 2, yg katanya nomor 2 ampuh.

Benar saja, obat tsb tidak ada ketika saya cari di 4 pharmacy di sekitar Flinders Uni. Kabarnya tdk diproduksi lagi. Saya tebus resep di obat kedua. Laaah.. ternyata isinya hanya paracetamol. Ketika tahu isinya seputar paracetamol, saya berpikir dan “ngomel-ngomel” .. wah, saya diberi sugesti aja nih oleh dokter tsb. Ternyata yg diberikan ke saya itu juga buka resep krn saya minta copy resep utk arsip, tetapi menurut pharmacist tdk bisa krn yg ditulis dokter bukan resep melainkan saran saja. Dia memberitahu saya kode yg ditulis dokter yg menunjukkan bahwa itu bukan resep.

Sekian pengalaman saya. Mohon maaf bila ada yg tidak berkenan.

Komentar berikutnya dari suami seorang dokter:

Salam,
Memang doketer-dokter di tanah air harus belajar banyak dari dokter Indonesia. Namun itu bukan berarti dokter-dokter di Oz lebih hebat dari dokter Indo.

Dari pengalaman sy pribadi, sy melihat ada perbedaan antara dokter di Oz dan di Indo:
○ Dokter di Oz sngat berhati-hati memberi obat kepada pasien. Tak heran jika beberapa student sedikit hopeless jika berobat di sini. kalo demam2, paling2 mereka bilang, ” Do you have paracetamol? “. Kalo pun dikasih resep, obatnya pasti antibiotik. Kalo ga sembuh2, mereka bilang balik ke sini ya.. Pernah, istri sy (kebetulan dokter) sempat kecewa dengan dokter di salah satu health centre, Adelaide, karena diagnosa mereka salah. Sy pernah terkena gejala typhoid dan harus bedrest 2 minggu. Dokter yang sy kunjungi yakin, sy terkena malaria, dimana dokter suspect bibit penyakit sy dari Indo (beliau udah tahu sy student dari Indo). Saking yakinnya, sang dokter meminta saya blood test. Alhasil, hasil tes nya negatif. Namun. Sy masih belum sembuh-sembuh, hingga 3 kali bolak-balik dengan dokter yang sama, dan sudah mendapat 2 resep antibiotik dari yang biasa hingga yang complete. Terakhir, istri sy bilang bedrest aja, soalnya obat typhoid di Indo mudah dapatnya, di sini sulit banget. Alhamdulillah, sy sembuh dalam 3 minggu.
○ Lain halnya di Indo, dokter mungkin terbiasa bertindak cepat, dan kalo kasih obat, berjibun deh. Bagus sih. Cuma ada juga sisi negatifnya. Di Indo, bisnis farmasi sudah sangat mempengaruhi keputusan dokter.. Cuma kita berjalan-jalan di RS, sekalian pasien, juga ada detailer obat. Mereka mengadakan kerja sama dengan dokter untuk bagaimana suatu merk tertentu bisa laku. Akibatnya, satu penyakit obatnya berbagai merk. Harganya ada yang murah dan ada yang mahal. Kalo pasiennya tajir sih OK-OK saja. Namun kalo pensiunan PNS, dapat merk obat mahal, padahal bisa sembuh dengan obat murah..itu sama dengan penipuan. Semakin dokter “memasarkan obat mahal ini”, semakin banyak pula fulus yang mereka terima. Pernah di suatu kongres KOPAPDI, (dokter ahli penyakit dalam Indonesia) di Manado 2003, sy melihat sendiri bagaimana industri farmasi memberikan “service yang ruarr biasa” bagi dokter-dokter. Pabrikan obat menanggung biaya pesawat, hotel, makan di restauran, jalan-jalan, bagi dokter plus keluarganya yang juga ikut.

Secara kualitas, sy rasa sama saja. Cuma dokter di Oz terbantu dengan sistem komputerisasi, data pasien, dan segala perlengkapan mutakhir. Kalo di Indo, mungkin karena bertugas di pelosok desa, pulau-pulau terpencil, hingga terbiasa dengan sarana yang ada.

Yang menarik di sini, ad perbedaan dalam hal “keterbukaan informasi bagi si pasien dan keluarganya” . Di Indo, dokter-dokter kurang terbuka dalam menjelaskan bagaimana penyakit si pasien, dan bagaimana penyembuhannya. Biasanya periksa, tanya apa gejala-gejala, dan obat plus berapa kali sehari konsumsi obatnya.

Nah, di Oz, dokter mungkin harus menjelaskan kepada pasien, dan kita boleh bertanya. Dua anak sy diimunisasi di Adelaide. Sy terkesan dengan cara mereka berkomunikasi termasuk care mereka untuk anak-anak. Sister menjelaskan apa jenis vaksinasinya, dan apa efek sampingnya termasuk cara menangani jika terjadi efek samping tersebut.

Seorang suami, yang laen, dari dokter, yang laen juga, berkomentar:

Kalo saya melihat dokter Indonesia lebih hebat (tp tdk dalam semua kasus lho ya) krn tantangan yg dihadapi, jenis penyakit yg beragam di Indo dan “inovasi” yg hrs dilakukan dokter Indo itu beda dgn dokter Aussie yg “textbook”.. .tp kesempatan dan fasilitasnya aja yg berbeda…tp memang godaan dokter dr perusahaan farmasi itu luar biasa.

Isteri saya pernah praktek di sebuah RS dimana dia bs aja minta semua gratis…ikut seminar, short-course ke LN, minta alat2 kedokteran bahkan jalan2 pun difasilitasi. ..tp ya itu, kontraprestasinya hrs ada setoran obat…jd kasihan rakyat kecil kita kadang dikasih obat yg diluar kemampuan… Alhamdulillah dia tidak tergoda…malah saya yg kena nalangin biaya krn dia suka ngasih obat gratis atau ongkos buat
pasien yg ga mampu…nasib2. ..

Jadi msg2 ada kelebihan dan kekurangan lah…Kita doakan agar dokter Indonesia makin kuat mentalnya… amiiiin

Kawan yang laen lagi berkomentar:

Tertarik juga comment nih. Saya dulu lebih suka ke dokter ahli dengan prinsip biar mahal asal cepat
sembuh. Ternyata hasilnya nihil. Dokter-dokter terkenal itu melayani pasien paling 5 menit, tanya2
sedikit, periksa sebentar, langsung ngasih resep. Dan, maaf saja, dari cerita2 lepas dengan teman2 yang juga dari kedokteran, ternyata tidak semua dokter itu pintar. Sama saja sih dengan fakultas lainnya, di Fak Kedok itu ada juga kok yang malas dan lamban dan lulus jadi dokter dengan nilai pas-pasan.

Sejak itu saya lebih suka ke dokter yang juga teman sendiri, jadi waktu konsul lama dan tidak perlu bayar, he…he, atau sms sepupu yang baru lulus dokter dan suaminya apoteker, jadinya lebih akurat keputusan pemberian obatnya. Apalagi sepupu dokter ini biasanya ngasih obat ringan yang tidak perlu resep, tapi karena kombinasinya klop dengan keluhan jadilah sakitnya sembuh tanpa keluar biaya mahal.

Satu hal yang saya pelajari dari dokter di sini mereka tidak hanya mengobati tapi mencari penyebabnya juga. Jadi yang diobati bukan hanya gejalanya tapi penyebabnya sekalian. Dan semua itu sebenarnya bisa kita dapat di internet.

Wah tambah menarik nih. Kabarnya memang dokter2 kita di Indo mendapat badai godaan yang sangat besar dari perusahaan2 farmasi. Bahkan, menurut info yang bisa dipercaya, ada yang sampai pusing tujuh keliling krn sudah ttd kontrak harus menyetor 7 juta sebulan, akhirnya sembarangan ngasih resep. Obat2 yang tidak perlu pun disuruh beli. Payah kalau begini.

Kali ini giliran dokter yang laen lagi berkomentar:

Selama hampir setahun mempelajari health system di OZ, sy melihat memang banyak perbedaannya dgn kondisi yg ada di Indo. Health system di OZ memiliki standar tersendiri untuk PROTAP (protokol dan tahapan) pelayanan kesehatan mereka jadi jangan disamaratakan dgn protap di Indonesia. Bukannya sy mau menjelek2kan standar yg ada di Indo, tp OZ ini, para dokter harus patuh terhadap aturan main yg sudah tetapkan oleh AMA (Australian Medical Association) yg menetapkan rangkaian prosedur pemeriksaan dan tes sebelum menegakkan diagnosa penyakit, jika tidak, medical ethic n law disini sangat ketat, para dokter tidak bisa dgn mudahnya dilepaskan oleh hukum klo menyalahi tahap2an pemeriksaan.

Para dokter tidak boleh asal menetapkan diagnosa hanya sekedar info dari pasien, meski pasien itu dokter ato keluarga dokter sekalipun. Dokter OZ (dokter2 Indo juga setahu saya) butuh pegangan medis, yg sah secara hukum kedokteran. Protap OZ lebih panjang dari pada protap Indo dikarenakan mereka telah memiliki segala macam fasilitas standar internasional yg hanya tersedia di rumah sakit2 besar di Indo. Blood test merupakan rangkaian dari protap itu jikalau dokter berusaha mendapatkan diagnosa pasti. Sekiranya dokter2 Indo juga paham klo kita memiliki protap, yg selain untuk menyelamatkan pasien, juga untuk menyelamatkan dokter itu sendiri jikalau terjadi sesuatu diluar dugaan. Protap tidak sekedar disusun melainkan telah melewati analisa mendalam dari para pakar kedokteran.

Komentar kali ini dari dokter, langsung di blognya kawan yang memposting pertama kali:

Salam kenal! Tulisannya menarik. Banyak hal memang kalau dibandingkan dengan Ausie, kelihatannya kita jauh lebih jelek. Jika kesimpulannya mental dokter Indo lebih jelek dari Ausie itu tidak sepenuhnya benar (sebagan mungkin benar :D). Ada beberapa determinants yang harus dilihat sehingga membandingkannya bisa dengan lebih fair. Jumlah dokter di Indo sangat banyak, jauh lebih banyak dari Ausie meskipun rasio per penduduk kita jauh lebih rendah, so jumlah kesalahan dr yang diekspose ke publik jelas lebih banyak.

Kemudian sistem pendidikan kedokteran di Indo terutama spesialis sangat mahal (bandingkan dengan Ausie, residency dibayar) sehingga ada kesan pengen cepat2 balik modal (ini harus diakui benar terjadi pada beberapa kolega).

Sistem pembiayaan kesehatan yang jelek membuat dokter Indo berusaha mendapatkan pasien sebanyak2nya sehingga kualitas pelayanan berkurang (bandingkan dengan Medicare di Ausie yang membuat kita harus bikin appointment dulu dan dr hanya membatasi beberapa pasien dalam sehari, karena GP di Ausie: fix-income).

Jauh dari hal2 itu di Indo masih banyak dokter2 yang mentalnya lebih baik. Saya pernah menjalani clinical part 2 minggu di ER di Melbourne melihat kalau keterampilan dokter Indo dengan Ausie tidak kalah. Bahkan kalau ditempatkan di daerah terpencil dengan fasilitas terbatas, saya yakin kita lebih baik, tapi kalau menggunakan peralatan canggih jelas kita kalah. Keterbatasn teknologi di Indo membuat dr Indo lebih mahir dalam diagnosis dengan metode pemeriksaan fisik (tentunya tingkat kesalahannya juga lebih besar) Sedangkan dr Ausie sering tidak berani mengambil keputusan tanpa pemeriksaan penunjang (Lab, Ro, CT scan dll), tentu tingkat kesalahannya pun jadi lebih kecil.

Tapi pada akhirnya lingkungan sosial, lingkungan kerja dan sistem di Indo mungkin benar seperti yang anda katakan mempengaruhi mental orang Indo. Tapi saya tidak setuju kalau hanya ditujukan untuk profesi dokter, tapi lebih jauh pada hampir semua profesi. Sama halnya orang2 yang pinter IT di Ausie dan di Indo mungkin sama2 pinter, tapi kenapa orang IT di Indo lebih pinter jadi hacker? atau membobol kartu kredit? dlsb..

Pengalaman seru lainnya:

Saya pernah, dan ada beberapa dokter yang saya temui begitu. Malahan, pernah saya harus menunggu dulu sampai beberapa waktu, hanya karena dokternya mau meyakinkan apakah obat itu cocok dengan saya karena saya ada alergi dengan beberapa macam obat. Menurut saya, kalo dokternya gak liat buku catatan, mungkin saja dia udah hafal betul obatnya dan bukan seperti yang Pak Agung katakan,

Demi Gengsi, sekedar kesombongan mempertaruhkan Nyawa dan keselamatan Pasien.

Apakah hanya sebatas itu penilaian dokter Indonesia dimata Anda? Mereka punya sumpah jabatan, bukan sumpah poncong, mereka punya tanggungjawab moral, bukan tetap mempertahankan gengsi dan ‘biasa-biasa’ saja kalau pasiennya semakin parah atau mati.

Anda benar, tidak semua dokter Indonesia sama seperti apa yang telah Anda alami. Dan tidak semua dokter Australia punya moral seperti yang anda ‘puja’.

Dari pengalaman saya disini, tidak semua dokter Australia yang bisa mengobati seperti dokters di Indonesia. Beberapakali anak saya sakit, respon mereka yang biasa-biasa saja membuat saya tidak puas sebagai orangtua. Suami saya juga yang harus menunggu selama hampir 4 jam di Emergency RAH menahan rasa sakit yang teramat sangat hanya karena sakitnya dianggap bukan emergency karena tidak mengeluarkan darah. Kerabat saya yang anaknya tiba2 muntah dalam perjalanan kesekolah dan terkulai lemas, langsung dilarikan ke Parkland Uni-Adelaide. Komentar dokternya:
“Maaf, ini bukan kondisi emergency. Anda harus buat appointment dulu!”

Kalau Anda mengikuti kisah2 di Televisi, berapa banyak pasien-pasien Australia yang kecewa dengan pelayanan medis disini? Contohnya di Sidney, bayi 18 bulan harus menunggu selama 6 jam karena dia hanya flu, tapi flu itu sampai membuat dia susah bernafas sehingga dia menangis. Kalau anda orangtuanya, bagaimana perasaan anda? Masih banyak kasus-kasus lain kalau Anda rajin mengikuti Current Affair, dsb. Tidak sedikit juga students Indonesia yang berkomentar kesal,

” Dokter disini bukannya ngasih obat. Udah bela-belain datang, cuma diperiksa doang. Kapan sembuhnya?”

Kenapa dokter Australia yang diomeli? Bukankah Dokter Australia adalah orang yang punya mental terpuji? Jawabannya tidak semua.

Mungkin profesi dokter yang saat ini menjadi topik, jelek, sombong, tidak bertanggung- jawab and entah apa lagi penilaian yang tidak baik lainnya. Bagaimana kalo kita mengangkat profesi-profesi yang lain?
Saya yakin, akan muncul seribu satu lagi kejelekan-kejelekan mengenai “mereka-mereka” termasuk dosens, polisis, buruhs, gurus, pegawais dan entah apa lagi yang profesi yang mungkin terpandang melanggar kode etik pekerjaannya di Indonesia.

Faktor2 apa saja yang mempengaruhi sehingga Adelaide dan Indonesia itu bisa sangat jauhh….. berbeda, ketimpangan ini tentu saja tidak membuat kita akan ‘menyesali’ punya punya orang-orang yang sangat berjasa ini.

Keterbatasan- keterbatasan dokter Indonesia seperti yang diungkapkan mbak Fitri tentu saja salah satu faktornya.

Dari pandangan saya, Australia bukanlah bandingan yang sebanding dengan Indonesia. Kita semua tau, bagaimana buruknya kondisi negara dan orang-orang di Indonesia (termasuk kita), dan kita-lah orang-orang yang diberi kepercayaan untuk belajar disini dan kembali nantinya memperbaiki dan merenovasi kembali negara yang telah retak. Bukannya malah memperparah kondisi negara.

Kawan yang laen menenangkan:

Saya melihat, meskipun semua opini sebelumnya berseberangan, tapi semuanya ‘ada’ benarnya.
NAMUN yang perlu jadi catatan adalah, “Jangan over-generalisasi. ” Inilah yg saya nggak setuju.
Buat Mas Agung, esensinya saya sependapat dan setuju banget; dokter-dokter harus meningkatkan moralnya. (Hm.. nggak cuma dokter, para peneliti, politikus, polisi, guru, pejabat dll.. semuanya harus senantiasa meningkatkan kualitas moralnya).
Janganlah pengalaman kita pribadi, satu atau dua kali menjadi patokan untuk generalisasi.
Saya kira contoh2 dan pengalaman Mbak Dianti dan Mbak Cut bisa menjadi perbandingan.

Saya (sebelum ke Oz), dekat dengan semua senior (golongan profesi) yg rentan godaan ‘suap’ perusahaan farmasi, dan tau benar bagaimana SIKAP dan TINDAKAN mereka. Kesimpulan saya: Ada yang nggak bener: tapi itu hanya beberapa orang, jauh lebih sedikit dari yg bener. Tapi sayang-nya, itu yg terlihat bagi orang lain, sekakan-akan mayoritas begitu.

Soal, banyak-nya MedRep (Medical Representative) : yg dengan bahasa umum disebut Sales (tapi kawan2 yg bekerja sbg MedRep marah lho kalo disebut sales). (..Saya jg berharap ada kawan2 anggota milis ini yg pernah bekerja sbg MedRep, sehingga bisa memberikan tambahan info.
Mereka datang ke praktek dokter atau RS dan berkunjung ke dokter memang mepromosikan obat, dan minta td tangan sebagai bukti kunjungan, karena itu jg sebagi poin mereka. Tapi sebagi dokter, umumnya nggak ada tidak ada perjanjian apa-apa, dan itu pun tidak mempengaruhi cara memberikan obat.
KARENA, dari satu jenis obat yg sama misalnya, ada 5 MedRep yg datang, berarti ada 5 jenis obat, masak dokter bisa bkin janji dengan 5 orang yug berbeda.

Ketika kita ‘melihat sesaat’ apa yg ada di Australia, kita susah menganggap semuanya wah & bersih. Meskipun tentunya ‘sistim’ pelayanan di Oz memag akan lebih baih, tapi tentunya dipengaruhi oleh bermacam faktor selain dokter itu sendiri: ekonomi, history, politik pemerintahan & cara pandang masyarakat.
Maaf, saya disini jg bergaul dengan dokter-dokter Australi, plus ada beberapa kali workshop.
KALAU DIUNGKAPKAN, kesalahan fatal yg dilakukan oleh dokter2 disini tidak kalah lebih banyak atau parah bila dibandingkan dengan negeri kita. Kebetulan saat ini, saya sedang mebahas “Healthcare ethic” dengan teman dokter di Aussie tsb.

Sebagai catatan: (Saya tidak akan jelaskan: memang terlalu panjang).
Kalau masalah Protap: Protap itu milik profesi, fungsinya adalah acauan standar, tetapi tidak patokan kaku, karena penyakit sifatnya individal dan akan berbeda pada setiap orang (yg dipengaruhi umur, kondisi penyerta dll). Protap “DI NEGARA MANAPUN” hanya mempunyai fungsi standar untuk professional obligation, BUKAN legal aspect. Termasuk di Australi.

Sementara itu dulu,

Dokter yang pertama komen nambahin:

Sekedar info, rumah sakit2 di Indo ada protap kok (yg biasanya sering bikin pasien bingung). Kita para dokter bertindak dan patuh terhadap protokol itu. Selain itu, kita juga punya konsil kedokteran meski agak telat terbentuk (sertifikasi para dokter baru di mulai tahun 2006 dan diikuti dgn re-evaluasi tiap 5 tahun sekali untuk mengurangi kecenderungan medical error). Medical record pun sebagian besar masi manual, yg sering bikin repot rumah sakit pemerintah, apalagi yg di daerah. Cuman skali lagi sy kemukakan klo di OZ punya protokol tersendiri dalam menangani pasien, dan mau tidak mau kita harus ikut aturan main mereka meski kadang kita ng puas hasilnya. Sama seperti jika kita berobat di negara2 lain, mereka rata2 tidak mengakui hasil pemeriksaan (mis CT scan, blood test) yg dilakukan di Indo. Kita hanya bisa membawa hasil pemeriksaan di Indo sebagai past history, tapi untuk present history, mereka akan mengulangi pemeriksaan yg sama jikalau kita
berobat di negara mereka.
NB : Dokter2 Indo dikirim ke OZ agar suatu saat (insya Allah) sedikit demi sedikit bisa memperbaiki standar pelayanan kesehatan.

Suami seorang dokter yang pertama kali berkomentar menanggapi:

Sebagai orang awam di bidang medis, ukuran kepuasan seorang pasien kepada pelayanan seorang dokter adalah “apakah sy sembuh segera atau tidak, dengan treatment yang biayanya terjangkau” . Mengenai protap, ini dan itu, terserahlah. Masing2 negara punya standard masing.
Mengenai fenomena “detailer obat yang bisa mempengaruhi keputusan dokter memberi obat”, mungkin sy over-generalisasi. Sorry. Sy hanya berdasarkan pengamatan dan cerita dari teman yang udah 5 tahun lebih menjadi Med Rep. Khusus buat Pak Hardisman, sy sepakat dengan pendapat beliau.
Profesi dokter, dosen,insyinyur, birokrat, civil servants, ustad, politikus, ekonom, akuntan, apapun itu ada pasti sisi negatif dan positifnhya. Mudah2an kita diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk bisa berbuat yang terbaik bagi tanah air. Amin.

Demikian jalannya diskusi, semoga menambah wawasan kita.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Life in Adelaide. Tandai permalink.

5 Balasan ke Dokter Indonesia vs Dokter Australia

  1. uci berkata:

    Pantesan Mas Maman ga percaya dokter…

  2. Maman Firmansyah berkata:

    Tergantung dokternya sih, kalo dokternya emang asyik dan mau diajak diskusi, gak masalah…

  3. rayman berkata:

    Pengalaman saya dokter di australia mereka bertindak berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan, dan dalam memberikan obat mereka insist kalo emang bisa dilakukan dengan pengobatan / obat2an dosis ringan maka akan terus dianjurkan, mereka cenderung menghindari pemberian antibiotik berlebihan yang dapat mengakibatkan kita imune terhadap pengobatan biasa.
    Dalam melakukan analisa bisa disimpulkan dokter di australia (adelaide berdasarkan pengelaman saya) cenderung memberikan suatu keputusan berdasarkan analisa bukti laboratorium dan jarang memberikan suatu analisa yang tidak mendasarkan kepada acuan2 tersebut diatas
    Dokter diaustralia (adelaide) mereka sangat menghargai seorang pasien dan mereka tidak memberikan gap antara dokter dan pasien, bahkan merekapun yang langsung menjemput pasien hal yang amat sangat jarang ditemui di indonesia
    terakhir dokter dia australia lebih mau untuk diajak berkomunikasi berdialog dan berdiskusi dibandingkan dengan dokter di Indonesia

    Hal yang menjadi minus dokter diaustralia dikarenakan faktor alam kelembaban yang rendah sehingga penyakit akan sulit hidup dibandingkan dengan negara tropis yang lebih tinggi kelembabannya sehingga penyakit banyak berkembang dan bervariasi sehingga membuat dokter di indonesia banyak pengalaman dalam menghadapi penyakit2

    • Maman Firmansyah berkata:

      Terima kasih atas ulasan pengalamannya, Mas Rayman.

      Saya sendiri kurang begitu berpengalaman dengan dokter di Adelaide, selama 1.5 tahun di sini cuma sekali saja nganter Athifa pas sakit amandel.

    • pratiwi berkata:

      maaf mau nimpali.., kalau saya salah mohon maaf.
      sekali lagi, dokter tidak hanya 1 di Indonesia dan jangan menjadikan patokan ‘1 sama ya semua sama’. di Indonesia semua berjalan sesuai prosedur, dan textbook yg digunakan di Indonesia-pun sama dengan diseluruh dunia ini. tidak semua dokter memberikan antibiotik banyak, cukup pada kasus2 tertentu. dan tolong, percaya dengan dokter, beliau2 semua Insya Allah sudah mempertimbangkan baik buruknya. beliau bisa paham mana yang penyakit biasa mana yang penyakit berat. dokter sudah disumpah, tidak akan pernah dg sengaja membahayakan pasiennya. namun kembali lagi, dokter manusia, bukan tuhan.
      lagi, tidak semua dokter seperti itu, tidak mau berdialog, ada gap. kalau saya boleh suudzon, mgkn bapak di adelaide baru 5 dokter yg ditemui dan alhamdulillah seperti itu semua, sisanya bapak tdk tahu kan? coba bapak di indonesia menemui 5 dokter berbeda dan jika bapak beruntung pasti menemukan seperti yg di adelaide, mau menjemput, tdk ada gap, dll. begitu pak maksut saya.
      terakhir saya sangat setuju. indonesia negara tropis..wah yg namanya parasit, bakteri, dan kawan2nya senang sekali hidup disini. penyakit2 di asia khususnya indonesia lebih beragam, variatif, dan mirip2 hehehe
      begitu pak.. semoga dokter2 didunia ini terus meingkatkan kinerjanya, agar dunia ini punya prevalensi penyakit2 yg rendah.. aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s