Daylight Saving Time yang membingungkan

Tulisan ini udah lama mengendap di draft tulisannya WordPress dan karena berbagai kesibukan baru sekarang bisa kelar dan diposting. Siyalnya pas diposting udah gak aktual lagi karena Daylight Saving Time (DST) di wilayah South Australia udah lama kelar. Biarin ajah, yang penting ada postingan, he…he…😆

Emang DST tuh apaan sih?

Gini lho, buat orang-orang yang ada di belahan bumi utara sama bumi Selatan, pas musim panas tuh matahari lebih cepet nongolnya dan lebih lama tenggelamnya. Walhasil, siang itu jauh lebih panjang daripada malemnya. Buat orang di sekitaran khatulistiwa kayak gue tentu aja heran. Sebagai perbandingan, di Adelaide sini tanpa DST pas summer (10 Desember, misalnya) matahari terbit jam 4.54 (shubuh itu jam 03.09 pagi) pagi dan tenggelam jam 19.22.

Nah, karena panjangnya siang itu, Benjamin Franklin resah dan gelisah, bukan karena semut merah tapi karena ngeliat kalo orang-orang itu waktu tidur dan aktivitasnya berdasarkan jam, bukan berdasarkan kapan matahari terbit dan tenggelam. Mau summer atau winter orang tetep bangun jam 7 sesuai dengan jam kerja mereka, dan sebagai orang yang bersemboyan, “Early to bed, and early to rise, makes a man healthy, wealthy and wise” Bang Ben sampe punya ide buat ngebangunin orang-orang pake bel gereja atau kalo perlu pake meriam. Tega banget ya?

Dan akhirnya, Bang Ben pun punya ide,💡 gimana kalo pas mulai summer, waktu dimajuin sejam (dari jam 2 pagi ke jam 3 pagi). Efeknya, waktu terbit matahari jadi jam 5.54, jadi orang-orang beraktivitas pas pagi hari.

Jadi deh dimulai abis Perang Dunia I kebijakan daylight saving time. Masing-masing negara punya aturan tersendiri soal DST ini.

Secara umum, buat negara-negara yang ada di belahan bumi Selatan, DST dimulai pas hari Minggu terakhir bulan Oktober dan selesai pas hari Minggu terakhir bulan Maret. Di Australia sini kebijakan daylight saving time ditentuin sama masing-masing state. Jadi, tiap state bisa beda-beda kebijakannya. Daftar lengkap jadwal DST di Australia bisa diliat di sini.

Nah repotnya, mulai summer 2007, South Australia tuh ngikut-ngikut Victoria, Canberra sama New South Wales buat memperpanjang DST. Alih-alih selesai pas Minggu terakhir bulan Maret, justru diperpanjang sampe Minggu pertama bulan April atau tanggal 6 April 2008. Akibatnya, komputer-komputer, HP, organizer elektronik pada bingung (sebenernya sih yang bingung orangnya, komputernya sih gak bingung), kata si komputer: “DST udah selesai, jam dimundurin lagi dari jam 3 pagi ke jam 2 pagi”. Sementara kata Mike Rann (‘gubernur’-nya South Australia), “DST belum selesai, Coy! Minggu depan baru selesai.” Orang bingung, jadwal penerbangan ditunda, orang telat datang kuliah, dan sebagainya.

Emang ngaruhnya apaan sih DST itu? Pikirin cemen gue mikir: “ngapain repot-repot maju mundurin jam segala, toh totalnya sama aja. Mendingan juga jadwal kerja, sekolah atau kuliahnya aja yang disesuaikan. Semester ini kuliah mulai jam 7 pagi, soalnya matahari udah keburu tinggi. Gitu aja kan beres?”

Ternyata nggak sesederhana itu, sodara. DST diklaim bisa bermanfaat lebih, katanya:

  • Tujuan utama DST ini katanya buat mengurangi penggunaan cahaya buatan pas malam hari. Sayangnya apakah tujuan ini tercapai atau nggak masih dalam perdebatan karena hasil penelitiannya saling berlawanan.
  • Mengurangi tingkat kecelakaan di jalan raya, soalnya pas orang-orang pulang kerja jalanan masih terang. Emang kecelakaan jalan raya di Australia tuh karena jalanannya gelap ya?
  • Menguntungkan usaha-usaha retail, karena pas jadwalnya pulang kerja masih terang jadi orang-orang bernafsu buat belanja (?)
  • Orang-orang masih bisa berolah raga, dan aktivitas laen yang bermandikan sinar matahari sepulang kerja. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi usaha yang bergerak di bidang peralatan olah raga, misalnya.
  • Efeknya ke kesehatan masih belum jelas. Dengan aktivitas olah raga pas sore hari misalnya diklaim bisa bikin orang tambah sehat, cuma masalahnya risiko kanker juga ada.

Dan seperti biasanya, kalo ada yang diuntungkan pasti juga ada yang dirugikan (Game Theory), contohnya:

  • Para petani jadi rugi. Masalahnya, panen buah-buahan atau sayur itu pas embun udah menguap. Thanks to DST, buruh-buruh kebun itu datengnya kepagian dan pulang kesiangan (terlalu siang) jadi gak maksimal hasil panennya.
  • Usaha hiburan yang biasanya beroperasi pas malem, contohnya bioskop layar tancep😆 , rugi.
  • Kerepotan dan kerugian karena jadwal pertemuan, perjalanan, tagihan, dan catatan medis yang jadi berantakan.
  • Bikin bingung orang-orang yang kerjanya jalan-jalan lintas-negara, perlu nyesuain jam. Tambah repot lagi karena masing-masing negara punya aturan DST sendiri.

Kali ini, “Gitu aja emang repot!”🙂

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Life in Adelaide. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s