Pekerja Anak yang Artis

Beberapa media Australia seperti Sydney Morning Herald, Brisbane News sama News.com.au meliput berita tentang pelarangan model dibawah usia 16 tahun buat ngikutin acara Rosemount Australian Fashion Week. Kontroversi ini dimulai dengan rencana diikutkannya modal Monica Jagaciak, model asal Polandia yang baru berumur 14 tahun, dalam acara tersebut.

Beberapa pihak mengkritik rencana it dengan alasan: Monica masih dibawah umur, seharusnya masih dalam usia sekolah dan bersenang-senang dan belum saatnya dibebani stress pekerjaan sebagai model dengan tuntutan penampilan yang serba prima. Di lain pihak, pihak yang setuju berargumen, “Kalo ada anak 14 tahun pengen jalan di catwalk dan pake pakaian bagus, ngapain dilarang-larang? Asal dianya dijaga sama orang tua atau manajer, gak masalah lah.”

Pemerintah New South Wales sendiri gak keberatan dengan Monica, dengan alasan asal ada manajer yang bertanggung jawab dan tidak melanggar peraturan. Secara peraturan memang tidak ada yang dilanggar, secara umum memang Australia tidak memiliki batasan umur dalam untuk model.

Syukurnya, dan hebatnya di sini, kehebohan kayak gitu langsung ditanggapi secara positif. Organiser RAFW sendiri memutuskan untuk membatalkan kehadiran Monica, “In light of industry and community concern,” katanya. RAFW memutuskan untuk membuat batasan umur minimal 16 tahun bagi model dan musti diwakili oleh model agency. Vogue Australia juga ngikutin dengan ngebatalin rencana make Monica buat jadi model di cover majalahnya mereka.

Ada dua hal yang jadi concern gue dalam kasus ini, pertama adalah peranan media dan komunitas (warga) Australia dalam menyikapi suatu masalah. Yang ini yang gue salut. Seperti halnya dalam kasus James Hardie, media dan komunitas berperan penting dalam mengubah persepsi, dalam hal ini menurut gue ke arah yang positif. Jadi jangan dianggap di Australia tuh segalanya bebas dan bisa ngapain aja, nggak juga. Hal-hal yang ada dalam batasan koridor hukum aplikasinya pasti jelas, dan bahkan untuk hal-hal yang tidak diatur di hukum pun, peranan media dan komunitas tetep diperhitungkan.

Concern yang kedua adalah masalah model (dan pekerjaan sejenis seperti artis, bintang film, bintang sinetron, penyanyi, dsb.) yang masih di bawah umur. Di Australia sudah ada aturan di tentang Guardian of Children, di Indonesia juga sudah ada Undang-undang Perlindungan Anak yang sama-sama ngelarang pekerja anak di bawah umur, tapi kenapa model, artis, bintang film, bintang sinetron, penyanyi, nggak masuk dalam kategori itu ya? Toh mereka juga sama-sama pekerja juga kan?

Lebih miris lagi di Indonesia, banyak orang tua yang berambisi dengan sekuat tenaga biar anaknya jadi artis. Kecenderungan ini bisa diliat dari acara-acara reality show pencarian bakat yang ada di TV, Mamamia di Indosiar adalah contoh paling nyata. Maka, bejibun tuh anak-anak yang masih dibawah umur jadi penyanyi, bintang sinetron, bintang film, model dengan dukungan penuh dari orang tua masing-masing. Jelas-jelas mereka itu pekerja anak di bawah umur, ngelanggar peraturan, diperas tenaganya demi kepentingan orang tua. Seharusnya anak-anak di bawah umur itu waktunya sekolah, belajar, bersenang-senang, menikmati hidup?

Belajar dari pengalaman Australia, kasus-kasus kayak gini cuman bisa diatasin dengan peranan komunitas, media, dan industri terkait. Masyarakat harus sepakat bahwa ketika ada anak-anak yang belum cukup umur (di Indonesia batasannya adalah 17 tahun) yang bekerja, maka pada prinsipnya itu nggak boleh. Nggak peduli apakah itu kerjaannya jadi pemulung, pedagang asongan, pengamen, atau pekerjaan elite kayak model, artis, dan penyanyi. Nggak boleh ada standar ganda. Langkah selanjutnya, media dan komunitas harus sepakat dan menyerukan masalah ini. Media jangan cuma mengekspos UU Perlindungan Anak pas ada artis rebutan anak doang. Musti diliput juga soal artis yang masih anak-anak ini gimana sebenarnya?

Terakhir, dan yang paling penting adalah peranan industri, dalam hal ini industri modelling, televisi, sinetron, film, dan sejenisnya. Walaupun agak susah berharap kerja sama dari industri ini, namun yang jelas, tanpa dukungan dari industri maka isu ini jadi sia-sia belaka. Oh iya, dan jangan pernah berharap sama pemerintah ya! Mereka mah gak tau dan gak ngerti apa-apa.

Agak mimpi juga sih sebenarnya ngebayangin skenario kayak di atas. Makanya, gue milih cara yang bisa bisa gue lakukan sendiri, yaitu pengaruh ke keluarga sendiri. Maksudnya, gue bakal ngebebasin anak, dan keturunan buat milih pekerjaan apa ajah (yang halal tentunya), selain dua pekerjaan, yaitu jadi artis (model, penyanyi, bintang sinetron, bintang film, bintang iklan, dan sejenisnya) dan jadi tentara (termasuk polisi di dalamnya). Gampang kan? Berkurang satu keluarga dari ratusan juta keluarga di Indonesia yang berminat menjadikan anaknya jadi artis.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Inspired By. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s