jump to navigation

Mahasiswa Indonesia di Adelaide Jadi Korban Kekerasan 14 Maret 2008

Posted by Maman Firmansyah in Life in Adelaide.
trackback

Sebenarnya, berita ini sudah basi, ketinggalan hampir lima hari dari kejadian. Seorang temen Indonesia asal Malang di Adelaide, Airlangga, menjadi korban pemukulan. Pemukulan terjadi di Hindley Street, hari Minggu, 9 Maret 2008. Sehari sebelumnya, Sabtu 8 Maret 2008 gue ketemu, sama Angga di acara BBQ PPIA University of Adelaide. Saya sendiri baru tau soal kisruh ini pada hari Selasa, setelah dikasi temen dan buka milis MIIAS. Dasar gak punya bakat jurnalistik, gak kepikiran buat nge-post-in soal ini di blog . Baru hari ini kepikiran.

Soal pemukulan ini sudah dimuat situsnya PPIA Australia pada hari Minggu, 9 Maret 2008; Media Indonesia hari Selasa, 11 Maret 2007 dan juga sudah dipost di Blognya Rahmad Nasution, Jurnalis Antara di Australia, Senin, 10 Maret 2007, dan Detiknews, hari kamis, 13 Maret 2008 (walau infonya rada kurang akurat, karena namanya kebolak-balik), dan juga (katanya) udah masuk beritanya TransTV.

Karena gak bakat ngelaporin perkara, jadinya saya copy paste aja urutan kejadian perkara berdasarkan laporan di milis MIIAS. Mohon maaf buat yang tulisannya di-copy, pastinya bukan untuk tujuan komersil.

Berikut ini keterangan kronologis kejadian oleh teman korban ditulis oleh Mika Halpin Hasanah:

The incident happened on 9th of March 2008, at 5.45 am in front of Rockford Hotel Hindley St. Me (Febrian Hidayat), and my friends (Airlangga, Oscar and Rian) was on our way to the car park on Rose Street to pick up my car. While we were walking on Hidnley Street we saw some group of young people (7 to 9 people) that looked like they were drunk.

We realize that they might look for some trouble because of that we tried to walk on the side of the road to avoid some trouble. I was walking side by side with Oscar on the left side of the side walk (near the main road), Airlangga and Rian was walking side by side behind me.

Oscar knew one of the person in the group, and he tried to approaches him to say hi and hoping that they will not start any trouble because he knew one of them. However, one of them still tried to hit Oscar, but Oscar’s friend stop him by saying “don’t hit him guys, I know him, he always playing Bongo (Brazilian drum) at Rundle Mall and Rundle st”. However, one of them said “Whatever!!”

I step a side to avoid them, but one of them do the same and approachesme, and then there was a physical contact with them (he purposely bump his right shoulders against me) to provoke me. He bump his shoulder against me quite hard, and then he (the same person that provoke me), tried to bump his right shoulder to Rian, however, Rian was aware of what he tried to do, and he dodge it.

At the same time the other person step up and hit Airlangga right in his face using his right elbow. Airlangga wasn’t aware of the situation so he cannot avoid it. He struck down and his face hit the road directly.

It seems that they didn’t satisfied with just hit him, the person that hit Airlangga tried to provoke us one by one and threatening to hit us as well. He said “what do u looking at? You wanna get hit as well?” while he was posing to hit us. He repeated what he said not only once but four or five times.

His friends didn’t do anything or even tried to stop him they just laughed at us. They start to say some racist comment and swearing words. One of the words that they were saying was “U f***ing Asian, what u doing in our country. Go back to your country C*nt, u all fucking c*nt.”

At that time there was 2 other people and one Adelaide Council staff that walks passed us and tried to help. Rian and those people tried to look at Airlangga condition because he wasn’t able to stand up. While they weremove his body, there was blood coming out from his face, however we didn’t know where which part of his face that bleed.

I contacted the ambulance straight away and Oscar contacted local police. After five to ten minutesone of the police car arrived with an ambulance car. The police asked us what happened and the ambulance officer tried to treat Airlangga injuries.

The police also asked us some details about the incident, our name and also contact number for future references. After awhile the police told us that they caught the group. The other police that caught the group came tothe place of incident and bring the person that hit Airlangga and when the ambulance officer brought Airlangga to the ambulance I saw that there is no remorse in his face. He just looks down at him without any sympathy.

They took Airlangga to Royal Adelaide Hospital for the first aid to treated his injury. Me, Oscar and Rian follow them to the hospital to found out about his condition. At that time the Police already contacted Airlangga sister, Astari.

The current condition of Airlangga that we knew from the plastic surgeon; Airlangga is suffering from bone fracture from the area between his eyes, down to his cheek bones and upper lips were fracture badly. His jaw also fractures from the middle part down to the chin. The doctor said they need to do a major plastic surgery and they will put a plate on the part of the damage area. Meanwhile, there are possibilities that they will put a tube from his face to help him gain the nutrition that he need from food.

At this moment I don’t know where the police held the offenders; however I will find out more and inform you as soon as possible.

One more thing that I would like to add; before the incident, my friend Oscar heard one of them said “hey guys, there’s an Asian people, wanna hit them” and most of the people in the group said “Yeah, why not!”

Above was the detail chronology of the incident that happened to Airlangga Hutomo on 9th of March 2008, at 5.45 am in front of Rockford Hotel Hindley St. I would like to apologize if there are any matters that not clear enough, however, Oscar and Rian can add and/or support some of the details that are needed.

Berikut ini tanggapan dari PPIA Pusat tentang ‘situation update’ pada hari Senin, 10 Maret jam 9:08:

  1. Semenjak kejadian insiden ini terjadi dan dilaporkan oleh saudara Ebi dan kawan2, PPIA Pusat dan PPIA SA telah berkoordinasi dan melaporkan hal ini ke pihak Kedutaan dan Konsuler Indonesia yang berada di Australia (Canberra dan Sydney). Dalam hal ini pihak PPIA Pusat dan PPIA SA telah berhubungan dengan Bapak Agus (Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI) dan Bapak Edi serta Bapak Meri (Pihak Kedutaan dan Konsuler). Pihak PPIA meminta pihak Kedutaan dan Konsuler untuk mengirimkan timnya secepatnya ke State SA untuk melakukan advokasi dan pendampingan bagi saudara Angga dan kawan2 dalam melalui proses hukum serta memberikan bantuan terhadap hal2 yg berkaitan dengan kejadian ini.
  2. Dari pembicaraan melalui telepon dengan Sekjen PPIA Pusat saudara Noor (Ocen), beliau menginformasikan kepada saya bahwa pihak KBRI dengan serius menyatakan akan memberikan komitmen dalam proses advokasi dan pendampingan bagi saudara Angga dan kawan2 sampai tuntas. Pihak KBRI akan mengirimkan tim mereka secepatnya ke Adelaide bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Jika situasi mengijinkan, pihak tim KBRI (Konsuler) serta pihak Atase Pendidikan dan Kebudayaan akan terbang ke Adelaide rabu siang ini. Kemudian, pihak Konsulat Jendral Indonesia di Sydney, pada hari ini sudah melayangkan surat resmi kepada Kepolisian South Australia yang isinya menyayangkan kejadian tersebut dan meminta Pihak Kepolisian SA untuk melakukan pengusutan dengan segera. Lebih lanjut, pihak KBRI juga menyatakan komitmennya untuk membantu mempercepat pengurusan visa orang tua Angga dan keluarganya, agar bisa dengan segera berada di samping Angga dan mendampinginya selama masa penyembuhan ini.
  3. Kami dan rekan2 dari PPIA Pusat, telah melakukan announcement melalui website resmi PPIA di http://www.ppi-australia. org/ tentang kejadian ini. Situation update dari kejadian ini juga akan di posting besok hari di web yg sama. Hal ini dimaksudkan sebagai rasa solidaritas dan rasa sesama warga Indonesia yang sedang berada di perantauan (Australia). Untuk sementara informasi ini telah menyebar ke berbagai PPIA wilayah state2 lainnya, dengan dimaksudkan untuk PPIA state lain dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kejadian ini.
  4. Kami dari PPIA, menghimbau teman2 dan rekan2 mahasiswa lainnya, untuk memantau proses hukum dari kasus ini. Sebagai informasi, kasus ini sudah ditangani Polisi State SA. Tetapi konfirmasi dari saudara Ebi, bahwa berita acara resmi dari pihak kepolisian belum dikeluarkan oleh Polisi SA sampai posting ini ditulis. Polisi SA menyatakan bahwa kejadian ini terjadi di weekend dan berbarengan dengan hari libur di state SA, jadi agak terlambat dalam mengeluarkan berita acaranya dikarenakan banyaknya ‘case criminal’ yang terjadi diakhir pekan (weekend). Mudah2an Polisi SA dapat dengan cepat menangani kasus ini. Doa dan perhatian teman2 mahasiswa serta dukungan moril sangat dibutuhkan dalam hal ini.
  5. Berkaca dari hal ini, kami dari PPIA menghimbau teman2 dan rekan mahasiswa untuk lebih berhati-hati lagi dalam berpergian. Khususnya di waktu malam hari dan melewati tempat2 yang lebih beresiko sebagai tempat yang banyak menimbulkan masalah akibat pemakaian minuman alkohol seperti Hindley Street dan Rundle Street (terutama di malam akhir pekan). Kejadian dan musibah bisa terjadi dimana saja, mudah2an dengan lebih berhati2 mungkin kita dapat menghindari musibah seperti yang dialami Angga dan kawan2.
  6. Dimohonkan teman2 dan rekan2 mahasiswa lainnya dapat tetap dengan tenang dan ‘berkepala dingin’ dalam menanggapi kejadian ini dan tidak terprovokasi secara negatif. Bersama-sama kita awasi proses hukum ini dan kita doakan semoga Angga cepat sembuh serta semua proses penyembuhan dan operasi Angga dapat berjalan dengan lancar.

Berikut ini pernyataan dari Pengurus PPIA Wilayah South Australia, pada hari Senin, 10 Maret 2008:

  1. Keprihatinan yang mendalam atas insiden yang menimpa salah seorang pelajar Indonesia, bernama Airlangga Hutama, pada hari Minggu, 9 Maret 2008, pukul 5.45 pagi waktu setempat. Saat ini korban sedang dirawat di Royal Adelaide Hospital untuk menjalani pemulihan. Kami berharap semoga korban dapat segera pulih dan beraktivitas sebagaimana biasanya.
  2. Mendesak pemerintah Indonesia melalui perwakilannya di Australia untuk melakukan pendampingan bagi korban, baik sebagai dukungan moral maupun sebagai upaya pemantauan hukum yang berkembang.
  3. Mendesak pemerintah South Australia untuk melakukan upaya hukum terhadap para pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku.
  4. Menghimbau segenap pelajar dan masyarakat Indonesia di South Australia untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi terhadap berbagai macam isu yang mungkin timbul sebagai akibat dari insiden ini, selalu melakukan perjalan bersama-sama dalam kelompok, tidak menyendiri, menghindari tempat-tempat yang ditengarai banyak masalah timbul sebagai akibat pemakaian alcohol seperti Hindley Street dan Rundle Street, utamanya selama malam panjang di akhir pekan.
  5. Hari Rabu siang, salah satu perwakilan dari KJRI Sydney Bpk. Fery Iswandy (sudah konfirmasi) akan tiba di Adelaide untuk melihat kondisi sdr. Airlangga dan menindak lanjuti kasus ini. Disamping itu, 2 orang perwakilan dari KBRI Canberra kemungkinan juga akan bertolak ke Adelaide, namun hal ini belum bisa dikonfirmasi lebih lanjut.
  6. Mengenai pelaku penganiayaan, pada hari itu juga (Minggu, 9 Maret 2008) telah ditangkap oleh pihak SA Police, dan saat ini telah diproses lebih lanjut. Seyogyanya kita sebagai “tamu” yang baik menyerahkan kasus ini sesuai dengan proses hukum yang berlaku di wilayah SA, dan senantiasa memantau perkembangan proses hukum yang sedang berjalan.

PPIA Pusat juga sudah mengeluarkan Surat Pernyataan Sikap sebagai berikut:

  1. Sungguhpun harus dibuktikan melalui proses hukum yang memadai, namun berdasarkan pada penelusuran dan konfirmasi kami kepada Sdr. Angga dan kawan-kawan yang menjadi saksi dan korban pada waktu kejadian, maka kami menyatakan bahwa insiden ini adalah murni sebagai sebuah tindakan kriminal.
  2. Pihak Rumah Sakit Royal Adelaide Hospital telah menangani hal ini secara professional. Namun tentunya perlu bagi kita semua untuk terus mendampingi proses pemulihan ini sampai tuntas.
  3. Kami mengajak pemerintah Indonesia melalui perwakilannya di Australia untuk melakukan pendampingan bagi Angga, baik sebagai bentuk dukungan moral maupun dalam kepentingan melindungi warga negara Indonesia.
  4. Kami mengajak semua elemen pelajar dan mahasiswa Indonesia di Australia beserta pihak perwakilan Indonesia di Australia, dalam hal ini Konsulat Jenderal Indonesia di Sydney untuk terus memantau proses pengusutan perkara dalam rangka penuntasan kasus hukum ini secara berkeadilan oleh aparat kepolisian Australia khususnya di Negara bagian South Australia.
  5. Bercermin dari kejadian ini, kami menghimbau seluruh pelajar dan rekan mahasiswa Indonesia di Australia untuk senantiasa berwaspada untuk menghindari kejadian serupa agar tidak terulang kembali. Solidaritas dan kesetiakawanan diantara seluruh pelajar dan mahasiswa Indonesia di Australia untuk saling mengingatkan dan menjaga, menjadi sangat berarti untuk mengurangi resiko. Juga untuk mengingatkan apabila kejadian yang sama menimpa rekan-rekan pelajar dan mahasiwa, agar dengan segera menghubungi perwakilan RI terdekat.

Update-20/03/2008:

Berdasarkan informasi dari Mas Agung Prabowo, pelaku pemukulan malah dibebaskan dengan uang jaminan (tahanan kota).

About these ads

Komentar»

1. Bantenz07 - 17 Maret 2008

Sebelumnya salam kenal dulu ya mas. Nama saya banten. Saya satu SMA sm ergot (airlangga/angga). Domisili saya sekarang di Bandung.

Jujur aja saya kaget mendengar berita ini. Saya bner2 kesal soal bule bangsat itu. Saya dengar, dia bahkan bilang ke saya sampe operasi plastik. Jujur saja, saya sedikit tidak menyenangi perlakuan negara tetangga kita itu. Mereka menganggap sebelah mata INDONESIA. Apa semua itu benar ?? Lalu kasusnya sekarang bgmna mas ??

salam kenal, maaf bila ada kata2 yang tidak menyenangkan

2. Maman Firmansyah - 18 Maret 2008

Soal operasi plastik emang bener, soalnya tulang rahangnya patah. Temen-temen yang nengok aja sampe gak kenal lagi karena wajahnya bengkak gak karuan. Saya denger sih, Kamis kemarin operasinya udah dilaksanakan.

Soal pelaku, seperti yang udah ditulis emang udah ditangkap sama Polisi sini cuma kelanjutan kasusnya masih belum tau. Nanti, kalo ada update info pasti dikasi tau.

Satu hal yang emang sangat disesalkan adalah sama sekali tidak ada blow-up dari media lokal soal pemukulan Angga. Gak koran, gak TV, sama sekali gak nyinggung soal ini. Gak tau kenapa?

3. antick - 19 Maret 2008

iya maman aku jadi ngeri kuliah di adelaide bukannya men-generalisir tapi rasanya kok berita-nya mulai kurang kondusif ya?

4. Maman Firmansyah - 20 Maret 2008

Buat Antick,

Kondisi kayak gini emang perlu dipertimbangkan sebelum dateng kesini. Kalo memang ada alternatif kota yang lebih menenangkan hati dan pikiran, ya gak ada ruginya koq gak jadi dateng kesini.

5. Adelaide Gak (lagi) Aman? « My Mind - 21 Maret 2008

[...] Maret 21, 2008 Posted by Maman Firmansyah in Life in Adelaide. trackback Setelah kejadian pemukulan Angga, banyak orang yang khawatir soal keamanan buat mahasiswa asing, terutama Asia di Adelaide. Ada [...]

6. zidanie - 26 Maret 2008

2 berita kekerasan yang mengejutkan dalam waktu yang berdekatan..

jadi penasaran nih Kang Maman, kalau memang kekerasan itu mulai sering terjadi karena ekonomi dan kehidupan yang lagi sulit, berarti di seantero Australia kecenderungannya gitu ya? Kalo gitu, kota lain juga tidak lebih aman donk ya…

tadinya kirain Adelaide termasuk safest place.. any insights or tips for choosing the best place to study regarding this matter?

7. Maman Firmansyah - 27 Maret 2008

kalau memang kekerasan itu mulai sering terjadi karena ekonomi dan kehidupan yang lagi sulit

Ya nggak juga, perlu penelitian mendalam tentang itu, variabelnya pasti banyak, say it: pengaruh alkohol (ini yang dominan di kasusnya Angga dan kasus-kasus kekerasan di Australia lainnya), rasisme (ada unsur ini pas kasusnya Angga), pendidikan yang terbatas (gak semua orang Australia itu well educated), sistem hukum yang gak bikin jera (bisa bebas pake uang jaminan), bisa jadi juga ekonomi.

berarti di seantero Australia kecenderungannya gitu ya?

Ya pastinya gak bisa diambil kesimpulan bahwa kecenderungan kekerasan di Australia meningkat hanya karena 2 berita kekerasan itu doang lah! Sampelnya tidak signifikan secara statistik (yang ini jawaban sok tau!).

Kalo gitu, kota lain juga tidak lebih aman donk ya…

Kalo yang ini aku setuju. Risiko kekerasan ada di semua kota di Australia, dan di dunia, apalagi di Jakarta. Yang bisa kita lakukan hanya waspada, menghindari risiko jadi korban kekeraasan (gak keluar malem-malem, sendirian), and selalu berdoa, abis itu pasrah. Kadang adakalanya kita berada pada posisi wrong time and wrong place.

8. Kerja sambil kuliah atau kuliah sambil kerja? « My Mind - 4 Mei 2008

[...] Cleaning service di gedung-gedung, kerjanya bersih-bersih di gedung-gedung. Kerja beginian biasanya sekitar 3 jam pe hari, dibayar $13-15 per jam. Repotnya kerja beginian biasanya kalo gak malem-malem ya pagi-pagi subuh, jadi musti punya mobil sendiri, kalo nggak bisa berakhir kayak gini. [...]

9. Lagi, Pemukulan terhadap Mahasiswa Indonesia… « My Mind - 22 Mei 2008

[...] mahasiswa Indonesia di Adelaide. Kali ini mahasiswa riset UniSA yang menjadi korban. Gak separah kasusnya Angga yang dulu cuma tetep aja bikin gak nyaman. Kejadiannya udah dua minggu yang lalu, pertama di-blow [...]

10. hardy - 3 Maret 2012

hahahahahaha,,, kasian banget dech

ehhhh,,, mau nanyak mas,,,kuliah di australia gmna caranya?,, dapet beasiswa ato biaya sendiri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: