Unconditional Love

Seorang rabi di acara Oprah Winfrey, saya lupa namanya, bilang: mendidik anak itu terdiri dari dua sisi koin yang tidak terpisahkan, yaitu unconditional love dan larangan.

Soal larangan, kita bahas entar aja. Soal unconditional love ini yang menarik buat dibahas.

Wiki mendefinisikan unconditional love sebagai: konsep mencintai seseorang, dalam hal ini anak, tanpa memperdulikan tindakan atau kondisinya, singkatnya mencintai anak kita apa adanya. Singkat, gampang, dan mudah diucapkan tapi tidak mudah untuk dipraktikan, minimal bagi saya. Susah dipraktikkan, karena pada dasarnya saya, dan mungkin orang lain juga, pada dasarnya memang egois.

Dulu, ketika menanti kehamilan istri sampe 8 bulan lamanya, saya bertanya-tanya: saya menantikan keturunan karena memang benar-benar ingin mendidik seorang anak menjadi generasi yang lebih baik atau hanya untuk memenuhi ego agar dianggap normal, subur dan mampu ‘membuahi’? Sampe sekarang saya tidak yakin.

Ketika kemudian istri hamil, hampir sepanjang usia kehamilan saya was was: apa anak saya normal, apakah perkembangan janin sempurna, apakah nanti perkembangan bayi saya seperti perkembangan keponakan saya yang cantik dan pintar? Sekali lagi saya tidak yakin apakah perasaan was was ini karena saya benar-benar mengkhawatirkan anak saya ataukah saya bakalan malu dan tidak siap kalo ternyata kenyataan nanti tidak sesuai dengan harapan.

Pemahaman ala unconditional love menjadi penting. Konsep unconditional love, seharusnya, membantu saya mempersiapkan kelahiran anak pertama saya dengan lebih santai. Apapun yang terjadi, anak itu adalah titipan Allah dan tidak dikonsep untuk menjadi ‘alat pemuas ego’ saya, sebagai orang tua. Saya selalu berdoa, anak saya terlahir dalam kondisi normal, sehat wal afiat, pinter kayak bapaknya, cakep dan tinggi kayak ibunya. Akan tetapi, mudah-mudahan dan Insya Allah saya siap menerima apapun yang dititipkan Allah kelak, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Postingan ini mudah-mudahan dapat menjadi pengingat kelak pada saat anak pertama saya lahir.

Tentang Maman Firmansyah

Seorang pegawai yang gak jelas kerjaannya, selain apa yang disuruh atasan. Suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak.
Pos ini dipublikasikan di Pribadi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Unconditional Love

  1. Ping balik: There’s No Such Thing as a Superior Parenting System « My Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s