jump to navigation

Berulang Tahun di Negeri Orang Juli 12, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Keluarga, Pribadi.
3 comments

Saya terlahir dan dibesarkan di keluarga yang tidak ‘menjunjung tinggi’ makna ulang tahun dengan baik dan benar. Seinget saya, pas saya kecil nggak pernah keuarga kami ngerayain acara ulang tahun-ulang tahunan segala macem, buat siapa pun anggota keluarga kami. Begitu pun juga, acara lucu-lucuan kayak di siram pake air kolam atau di lempar pake telor busuk gak pernah jadi rutinitas di keluarga kami. Bahkan untuk yang sederhana semacam ngucapin selamat ulang tahun pun, seinget saya, gak pernah.

Saya tentu tidak bersedih dengan tiadanya kebiasaan merayakan ulang tahun di keluarga kami, dan kayaknya juga, minimal menurut perasaan saya sendiri, tidak berpengaruh ke perkembangan psikologis saya. Kalau pun ada pengaruhnya, kayaknya sih saya jadi gak sensitif sama momen ulang tahun, siapa pun itu yang berulang tahun (saya hanya antusias kalo ada acara makan-makannya doang). Ketidaksensitifan ini juga melanda pas acara ulang tahun saya sendiri! Saya terus terang gak berminat ngerayain ulang tahun saya, selain karena males bakal ditodongin nraktir, momen ulang tahun juga semakin mengingatkan betapa tuanya saya… Intinya, momen ulang tahun (siapa pun) bagi saya, “too boring to bother with…”

Setelah merebaknya dunia per-facebook-an pun, saya tetap gak sensitif abis. Kalo di bilangin sama facebook: XXX’s birthday-Today: Send a gift, saya cuma bakal bereaksi: Ooh, okay, XXX berulang tahun… abis itu saya pun lupa. (Ini sekalian buat permintaan maaf buat temen-temen yang berulang tahun dan gak pernah dapet ucapan selamat ulang tahun dari saya, percaya lah, saya berminat ngasih ucapan selamat, cuman saya lupa..). Begitu terus…

(lagi…)

The (1.5 Years) Holiday is, soon to be, Over Juli 11, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Life in Adelaide, Pribadi.
4 comments

Last Thursday, 2/07/2009, was my last final exam. It was the hard and difficult one, Portfolio Theory and Management (M). When the Portfolio examination finished, it just struck on my mind that it was probably my last sitting exam I’ve ever had. Since I am not considering, and brave enough to dream, to continue my education further to PhD level, it was indeed probably my last sitting exam I’ll face.

On the broader picture, the last exam was also mark the end of my 1.5 years of holiday postgraduate education. Well, I have to admit, it was indeed a long, lazy, and nice holiday, except during the examination period and when an assignments was due.

(lagi…)

Nilai Itu Gak Penting! Juni 13, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life, Inspired By, On Finance, Pribadi.
add a comment

Musim ujian pun tiba. Bagi saya, ini adalah periode final examination saya yang terakhir, mudah-mudahan, kalo lulus semua. Teman-teman mahasiswa menyambut datangnya musim ujian ini dengan reaksi yang beragam. Studi cross-sectional atas status facebook teman-teman saya menyiratkan setidaknya ada teman-teman yang teramat serius menghadapi ujian (belajar di library, bahkan sampe berniat nginep segala; ngamuk-ngamuk, di status facebook, karena ada rekan di ruang belajar bersama yang berisik, dan mengganggu konsentrasi belajar; atau bahkan menghilang dari dunia per-facebook-an demi berkonsentrasi menghadapi ujian), biasa aja menghadapi ujian (masih bingung memilih antara belajar atau tidur, belajar atau nonton DVD, belajar atau nonton TV; kurang konsentrasi menghadapi ujian karena juga masih berkonstrasi berburu AUD$; masih bisa belajar sambil ngasuh anak; dan juga masih sempet posting tulisan di blog, like myself), dan ada juga yang gak ngerasain ada bedanya antara musim ujian atau pun bukan (biasanya temen-temen yang kuliahnya gak pake sitting exam, jadi cuma ngumpulin assignment doang, berasa sibuknya cuma H-3 sebelum due date; atau juga mahasiswa Ph.D). Permasalahannya, seberapa penting sih sebenarnya ujian itu? Atau lebih filosofisnya lagi, seberapa penting sih sebenarnya nilai yang kita peroleh semasa kuliah?

Mike Slackenery (2004) berargumen bahwa segala hal di dunia kuliah itu bersifat binary. Anda diterima kuliah di universitas harapan (1) atau ditolak (0), Anda lulus subject tertentu (1) atau tidak lulus (0), Anda selesai bikin tesis (1) atau tesisnya gak selesai (0). Gak akan ada yang peduli sama IP/GPA. Anda gak musti ‘Good’, melainkan, Anda hanya perlu ‘Good Enough’.

Lebih lanjut, artikel yang ini juga menyatakan bahwa nilai yang diperoleh semasa kuliah ‘have no effect’ pada masa depan student. Jerry Yang, trilyuner dan pendiri Yahoo! Inc., menyatakan bahwa, “grades don’t count,” “I got mostly B’s in grad, which at Stanford was really, really bad.” Dinyatakan pula bahwa sebenarnya baik pemberi kerja atau pun orang tua student gak peduli apakah Anda dapet nilai Distinction atau Credit di subject Portfolio Theory and Management. Akhirnya disimpulkan kalo nilai itu hanya, “feed the ego of the smart students, and break the spirit of the mediocre ones.”

Wah, gak sia-sia ternyata saya belum sempet belajar selama minggu pertama Swot Vac ini.

Notes:
* As, some of, you might have already realised, this post is a prank. In fact, this post was fully plagiarized from phdcomics.com post on 21/06/2004 and 23/06/2004. And, unfortunately, Jorge Cham has no intention not to joke this time. Needless to say, I, desperately, hope that ‘grades doesn’t matter’. A wish from a ‘credit student’ who will face ‘the real world’ in less than 42 days.

Anak (-anak) (Saya) Butuh Quantity Time Juni 10, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Keluarga, Life in Adelaide, Pribadi.
add a comment

Pas saya berangkat ke Adelaide, 13 Januari 2008, Athifa baru berusia 3 bulan 8 hari. Selama 240 hari selanjutnya, saya gak ketemu secara fisik dengan Athifa, dan juga istri saya, tentunya. Selama periode gak ketemu keluarga itu, setiap hari saya selalu berusaha nelpon ke Jakarta, rata-rata bisa sampai satu jam per hari (sampai suatu saat istri ‘ngeluh’, “bosen juga tiap hari ngomong berjam-jam begini”). Saya berharap interaksi suara via telpon cukup menggantikan ketidakhadiran fisik saya mendampingi perkembangan Athifa.

Sampe akhirnya pas saya pulang, 9 September 2009, dan begitu ngeliat saya, Athifa pun nangis, ngamuk lebih tepatnya. Wajah Bapaknya yang gak pernah diliatnya selama 8 bulan memang gak familiar di benaknya Athifa yang kemampuan memorinya masih terbatas. Gak lama memang Athifa nangisnya, hanya butuh sekitar 3 kali upaya menenangkan Athifa dalam kurun waktu sekitar satu jam. Sejam berikutnya Athifa udah bisa dideketin tanpa nangis, dan dua jam berikutnya Athifa udah mau digendong. Gak lama memang, tapi cukup buat menyadarkan saya, “saya harus memaksimalkan quantity time saya dengan Athifa di Adelaide kelak.”

Dan begitulah jadinya, dengan waktu luang yang sangat berlimpah, ‘work hour’ yang hanya 12 jam per minggu, waktu perjalanan dari rumah ke kampus yang hanya setengah jam, Athifa yang sehari-hari gak di-child care-kan, menjadi faktor-faktor yang sangat mendukung upaya memaksimalkan quantity time saya bersama Athifa. Acara rutin ngeliatin Athifa bangun di pagi hari, bikin sarapan buat Athifa (mostly Indomie, jangan bilang-bilang eyangnya Athifa yah, pancake, atau roti tawar), memandikan Athifa, ngajak jalan-jalan ke luar rumah minimal setengah jam per hari, bikinin susu formula pas mau tidur siang, bacain buku, mainan bola, jalan-jalan ke library atau mall pas week end, menjadi rutinitas saya bersama Athifa setiap hari, sebisa mungkin. Dan akhirnya, saya pun berkesimpulan, “Anak (-anak) saya butuh quantity time.” Here are what I thought about this issue.

(lagi…)

A Bad Explanation is Better Than None at All Mei 30, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Inspired By, Life in Adelaide, Pribadi.
1 comment so far

Kegundahan saya dimulai ketika Athifa, yang sudah hampir berusia 20 bulan, belum bisa ngomong, satu patah kata pun. Dia cuma bisa ngomong, atau lebih tepatnya bergumam, ma..ma..ma.., dan itu bisa berarti apa saja: dari mulai mau minum, mau makan, mau jalan-jalan, pokoknya gumaman Athifa ini bisa berarti apa saja kecuali satu: memanggil mama-nya sendiri.

Mertua saya sendiri di Jakarta, eyangnya Athifa, setiap kali ditelepon dari Adelaide selalu dengan bersemangat nanya: “Athifa udah bisa ngomong apa?” Saya atau istri dengan tidak yakinnya menjawab: “belum bisa ngomong apa-apa…” Selanjutnya kami pun langsung membela diri, khas orang tua ketika ‘membela’ anaknya sendiri: “tapi sebenernya Athifa udah ngerti kalo kita ngomong apa; kalo disuruh buang diapers-nya sendiri, dia ngerti buang ke tempat sampah; kalo diajak mandi langsung lari ke kamar mandi; kalo pas ngompolin karpet terus disuruh ngambil koran bekas buat nutupin bekas pipisnya Athifa juga ngerti; kalo kita marahin dengan suara keras juga nangis.” Atau kadang membela dengan jawaban yang gak berkaitan sama sekali, kayak: “walau belum bisa ngomong Athifa larinya udah kenceng lho, giginya aja udah tumbuh semua..” Jaka sembung pake golok banget…

(lagi…)

Utang Baca April 12, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life, Pribadi, Review.
Tags:
add a comment

Gara-gara banyak mid-test, assignment, sama kecapean bagiin messenger, saya punya utang baca buku yang cukup banyak. Sebagian besar sih buku baru-nya Library yang sudah saya pesen tapi belum sempet saya sentuh. Daftar bukunya, antara lain:

  • Harford, Tim (2008) The Logic of Life: Uncovering the new economics of everything, Little, Brown, UK.
  • Perkins, John (2004) Confession of An Economic Hit Man, Berret-Kohler, Inc., San Fransisco.
  • Pilkington, Doris & Garimara, Nugi (2002) Follow the Rabbit-Proof Fence, University of Queensland Press, Queensland.
  • Burka, Jane B. & Yuen, Lenora M. (2008) Procrastination: Why you do it, what to do about it now, Da Capo Press, Cambridge.
  • Lewis, Wendy (2005) Dumbest Criminal, New Holland Publisher, Pty Ltd, Sydney.
  • Funnel, Warwick, Jupe, Robert, Andrew, Jane (2009) In Government We Trust: Market failure and the delusions of privatisation, University of New South Wales Press, Ltd., Sydney.
  • Moore, Patric (2008) Can You Play Cricket on Mars? And other scientific questions answered, The History Place, UK.
  • Harford, Tim (2006) The Undercover Economist, Little, Brown, UK.
  • Orlov, Dmitry (2008) Reinventing Collapse: The Soviet example and American prospects, New Society Publisher, Canada.
  • Wyly, Sam (2008) Entrepreneur to Billionare: 1,000 Dollars & and Idea, Newmarket Press, New York.

Semoga masih sempet dibaca pas libur 2 minggu mid-break semester ini. Kalo pun ternyata belum sempet dibaca pas mid-break, semoga masih sempet dibaca sebelum ‘diusir’ keluar Australia pas Juli entar.

Nyontreng Rasa Adelaide April 12, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Itulah Indonesia, Life in Adelaide, Pribadi.
Tags: , , , ,
2 comments

9 April udah dateng, dan saya masih bingung mau nyontreng apa golput ajah. Kebetulan pas hari pemilihan ada satu kelas tutorial, jam 11 siang, tambah males aja kalo harus bolak-balik ke kampus, balik lagi ke rumah buat jemput istri, terus balik lagi ke TPSLN.

Pas dikonfirmasi ke istri, “Ma, besok mau ikut nyontreng gak? Kalo mau ikut, nanti Papa kuliah dulu, terus langsung pulang jemput Mama.” Istri bilangnya, “Gak usah lah, males…” Ya udah, golput pun sudah di depan mata. Pas dilanjutin, “Niatnya Papa tuh, kita nyontreng di TPSLN, terus jalan-jalan ke State Library, pinjem buku buat Mama, soalnya hari Jumat sampe Senen kan public holiday tuh, kita gak bisa kemana-mana.” Disambut langsung sama istri, “Ya udah, kalo gitu  kita nyontreng ajah, biar bisa pinjem buku buat Mama…” Halah…, people do respons to incentives, don’t they?

(lagi…)

‘Rahasia’ Air Beras kah? April 9, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Keluarga, Life in Adelaide, Pribadi.
Tags: ,
2 comments

Pas lagi nonton TV, istri tergopoh-gopoh lari, lantas cerita,

“Pa, tadi Pak RT ngajak ngobrol sama Mama pas lagi jemur, kayaknya sih nanyain kenapa tanaman yang di depan rumah itu jadi bagus…”

“Terus, Mama jawab gimana?”

“Nggak, Mama malah kabur, abisnya Mama takut… Jemuran aja belum Mama kasih jepitan udah Mama tinggal aja..”

Halah, ada orang nanya kow malah ditinggal kabur, ada-ada aja si Mama inih… 7 bulan di negeri orang ternyata gak bikin kemampuan bahasa dan keberanian ngadepin orang bertambah..

(lagi…)

Pemilu = (Gigantic) Negative NPV Project April 6, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Itulah Indonesia, On Finance, Pribadi.
Tags: , ,
4 comments

Pemilu tinggal 3 hari lagi. Sebagian orang sudah siap dan memastikan pilihannya, sebagian lagi belum pasti mau milih apa, sebagian lagi memutuskan buat golput.

Urusan golput ini sempet, dan tetep, bikin diskusi di milis MIIAS membara. Kesepakatan, tidak bulat, dari diskusi di milis MIIAS membuahkan hasil: “kalo bisa jangan golput lah, inget.. masa depan bangsa…bla..bla..bla… Kalo pun iya mau golput jangan ngajak-ngajak lah, nanti kita kritik sampeyan abis-abisan..” Belum lagi ditambah dengan fatwa haram golput yang dikeluarkan sama MUI (yang saya yakin hanya segelintir orang yang bener-bener baca salinannya dan lengkapnya fatwa tersebut kayak gimana). Mas Hatta membahas dengan dengan baik 5 argumen orang yang mau golput di postingannya yang ini. Mas Bayu malah menambah khasanah ‘pembenaran’ buat orang yang berminat golput dengan alasan ‘bosen’ di postingannya yang ini.

Saya sendiri? Terus terang saya sangat berminat buat golput. Saya ini males banget kalo dilarang-larang… Kalo dilarang-larang saya malah bersemangat, buat ngelakuinnya… Ketika dilarang-larang buat golput, jadinya malah pengen banget golput. Itu alasan kedua, alasan utamanya: saya ini orang males. Saya terlalu malas buat nyari informasi tentang caleg Dapil II Jakarta (untungnya buat yang nyontreng di luar negeri cuma DPR pusat, bayangin yang di Indonesia sana yang musti nyari informasi tentang caleg di DPR, DPRD tk. I, DPRD tk. II, sama DPD segala), males buat buat nyari informasi tentang parta-partai yang buanyak banget, males buat dateng ke TPS, ngantri, buka surat suara yang segede gaban, buat nyontreng, ngelipet surat suara lagi, dan masukkin ke kotak suara. Saya juga gak ikhlas kalo kelingking saya dikasi tinta item, kecil-kecil begitu mereka gak salah apa-apa…

(lagi…)

18 Bulan… April 5, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Keluarga, Pribadi, Ulang Bulan.
Tags: ,
2 comments

img_0967Hari ini, 5 April 2009 Athifa genap berusia 1,5 tahun = 18 bulan =548 hari =13.152 jam (pas jam 11 malem)…

Yang bisa diceritain pas 18 bulan ini adalah hobi baru Athifa, make celana sama naik turun tangga. Nggak tau kena motivasi dari mana, yang jelas Athifa sangat bersemangat belajar make celana. Kalo ngeliat celana, dan juga bajunya, sendiri yang lagi nganggur, pasti lantas berusaha dimasukkin ke kakinya. Kadang berhasil, artinya sukses masukkin dua kakinya ke dua lubang celana yang berbeda, lebih seringnya malah gagal, dua kakinya masuk ke lubang celana yang sama. Tidak ada petunjuk yang jelas kenapa Athifa belum bersemangat belajar make baju sendiri.

Soal naek tangga, di depan unit rumah  emang persis ada tangga ke lantai 2. Ya udah tuh maenannya naek turun tangga sendiri. Pas naek berani sendiri, sampe undakan yang ke-7 ajah udah berani. Pas udah di atas, turunnya yang gak berani, solusinya: nangis. Begitu juga pas jalan-jalan ke State Library, tempat yang dituju pertama kali masuk adalah, yep, tangga. Ya udah tuh rutinitas naek turun tangga, kalo ini musti dipegangin karena banyak orang laen yang juga make tangga, takutnya malah ngalangin orang jalan. (lagi…)