jump to navigation

Nilai Itu Gak Penting! Juni 13, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life, Inspired By, On Finance, Pribadi.
add a comment

Musim ujian pun tiba. Bagi saya, ini adalah periode final examination saya yang terakhir, mudah-mudahan, kalo lulus semua. Teman-teman mahasiswa menyambut datangnya musim ujian ini dengan reaksi yang beragam. Studi cross-sectional atas status facebook teman-teman saya menyiratkan setidaknya ada teman-teman yang teramat serius menghadapi ujian (belajar di library, bahkan sampe berniat nginep segala; ngamuk-ngamuk, di status facebook, karena ada rekan di ruang belajar bersama yang berisik, dan mengganggu konsentrasi belajar; atau bahkan menghilang dari dunia per-facebook-an demi berkonsentrasi menghadapi ujian), biasa aja menghadapi ujian (masih bingung memilih antara belajar atau tidur, belajar atau nonton DVD, belajar atau nonton TV; kurang konsentrasi menghadapi ujian karena juga masih berkonstrasi berburu AUD$; masih bisa belajar sambil ngasuh anak; dan juga masih sempet posting tulisan di blog, like myself), dan ada juga yang gak ngerasain ada bedanya antara musim ujian atau pun bukan (biasanya temen-temen yang kuliahnya gak pake sitting exam, jadi cuma ngumpulin assignment doang, berasa sibuknya cuma H-3 sebelum due date; atau juga mahasiswa Ph.D). Permasalahannya, seberapa penting sih sebenarnya ujian itu? Atau lebih filosofisnya lagi, seberapa penting sih sebenarnya nilai yang kita peroleh semasa kuliah?

Mike Slackenery (2004) berargumen bahwa segala hal di dunia kuliah itu bersifat binary. Anda diterima kuliah di universitas harapan (1) atau ditolak (0), Anda lulus subject tertentu (1) atau tidak lulus (0), Anda selesai bikin tesis (1) atau tesisnya gak selesai (0). Gak akan ada yang peduli sama IP/GPA. Anda gak musti ‘Good’, melainkan, Anda hanya perlu ‘Good Enough’.

Lebih lanjut, artikel yang ini juga menyatakan bahwa nilai yang diperoleh semasa kuliah ‘have no effect’ pada masa depan student. Jerry Yang, trilyuner dan pendiri Yahoo! Inc., menyatakan bahwa, “grades don’t count,” “I got mostly B’s in grad, which at Stanford was really, really bad.” Dinyatakan pula bahwa sebenarnya baik pemberi kerja atau pun orang tua student gak peduli apakah Anda dapet nilai Distinction atau Credit di subject Portfolio Theory and Management. Akhirnya disimpulkan kalo nilai itu hanya, “feed the ego of the smart students, and break the spirit of the mediocre ones.”

Wah, gak sia-sia ternyata saya belum sempet belajar selama minggu pertama Swot Vac ini.

Notes:
* As, some of, you might have already realised, this post is a prank. In fact, this post was fully plagiarized from phdcomics.com post on 21/06/2004 and 23/06/2004. And, unfortunately, Jorge Cham has no intention not to joke this time. Needless to say, I, desperately, hope that ‘grades doesn’t matter’. A wish from a ‘credit student’ who will face ‘the real world’ in less than 42 days.

Utang Baca April 12, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life, Pribadi, Review.
Tags:
add a comment

Gara-gara banyak mid-test, assignment, sama kecapean bagiin messenger, saya punya utang baca buku yang cukup banyak. Sebagian besar sih buku baru-nya Library yang sudah saya pesen tapi belum sempet saya sentuh. Daftar bukunya, antara lain:

  • Harford, Tim (2008) The Logic of Life: Uncovering the new economics of everything, Little, Brown, UK.
  • Perkins, John (2004) Confession of An Economic Hit Man, Berret-Kohler, Inc., San Fransisco.
  • Pilkington, Doris & Garimara, Nugi (2002) Follow the Rabbit-Proof Fence, University of Queensland Press, Queensland.
  • Burka, Jane B. & Yuen, Lenora M. (2008) Procrastination: Why you do it, what to do about it now, Da Capo Press, Cambridge.
  • Lewis, Wendy (2005) Dumbest Criminal, New Holland Publisher, Pty Ltd, Sydney.
  • Funnel, Warwick, Jupe, Robert, Andrew, Jane (2009) In Government We Trust: Market failure and the delusions of privatisation, University of New South Wales Press, Ltd., Sydney.
  • Moore, Patric (2008) Can You Play Cricket on Mars? And other scientific questions answered, The History Place, UK.
  • Harford, Tim (2006) The Undercover Economist, Little, Brown, UK.
  • Orlov, Dmitry (2008) Reinventing Collapse: The Soviet example and American prospects, New Society Publisher, Canada.
  • Wyly, Sam (2008) Entrepreneur to Billionare: 1,000 Dollars & and Idea, Newmarket Press, New York.

Semoga masih sempet dibaca pas libur 2 minggu mid-break semester ini. Kalo pun ternyata belum sempet dibaca pas mid-break, semoga masih sempet dibaca sebelum ‘diusir’ keluar Australia pas Juli entar.

Kecanduan Komik … April 2, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Blogwalking, Campus Life, Pribadi, Review.
Tags: ,
2 comments

Entah karena stress mid-test yang gak karuan hasilnya, atau emang lagi pengen, semingguan ini saya lagi ngidam baca komik. Awalnya, pas jalan-jalan ke library sama Athifa ngeliat Asterix di bagian buku anak-anak. Kepikiran, ‘koq kayaknya asyik ya baca komik lagi..’ Akhirnya dipinjem tuh dua komik Asterix, ‘Asterix and the Normans’, sama  ‘Asterix and the Black Gold.’ Udah tuh selesai…

Udah gitu, salah seorang temen SMU saya berbagi link di facebook tentang comic strip bikinannya Jorge Champ di www.phdcomics.com. Lucu banget dan humornya cerdas, ngegambarin realita nyata mahasiswa. Walau yang digambarin lebih ke arah mahasiswa riset (phd di sini plesetannya Piled Higher and Deeper, seperti halnya BS buat Bullshit dan MS buat More Shit), humornya tetep nyambung ke kehidupan gue. Jadi berkhayal gimana rasanya jadi mahasiswa full riset, gak kayak gue yang coursework, kerjaannya kuliah sama tutorial melulu… Wikipedia punya ulasan yang lengkap soal phdcomics ini di sini.

Ya udah tuh, gue kecanduan bacain strip komiknya phdcomics.com, retroactive dari mulai edisi terbaru yang taun 2009 sampe edisi awal yang tahun 1997. Belum lagi komik Asterix laen yang dipinjem dari library. Emh.. gak tau gimana nasibnya mid-test gue jadinya kalo begini terus mah…

Semester Baru… Maret 29, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life, university of adelaide.
Tags: ,
add a comment

Gak terasa, udah dateng semester baru (dan sekaligus semester terakhir, mudah-mudahan…) bagi saya. Sedikit review semester baru ini, antara lain:

  • Yang paling berasa, email kampus beralih ke Gmail…

Sejak tanggal 16 Maret 2009, Adelaide Uni mindahin hampir sebagian besar layanan emailnya, khusus buat yang student doang yang staff belum, dari server sendiri ke layanan Gmail Education. Good news bagi gue, karena gratis (jadi tau kalo tuition fee yang gue bayar udah dialokasiin ke resource yang lebih bermanfaat), Gmail kampus ini bebas iklan gak kayak Gmail yang biasanya, storage yang lebih besar (email kampus yang dulu cuma 1 GB, pake Gmail jadi dapet 7 GB, and counting…), dapet tambahan fasilitas calendar yang otomatis gabung sama calendar kampus, dan bakalan lebih nyaman diakses kalo gue udah pulang ke Jakarta entar. Sayangnya, Gmail kampus ini gak bisa pake Gmail Themes yang lucu itu…

  • Kuliah yang cuman tiga subject..

Setelah ambil Options, Futures, and Risk Management di summer school, dan lulus…, semester ketiga ini dihiasi dengan tiga subject saja, Portfolio Theory and Management (yang ini subject wajib), Corporate Investment and Strategy , dan Money, Banking, and Financial Markets (yang dua terakhir ini elective). Temen-temen pada berkomentar, dan saya juga sering kepikiran, “Wah, enak dong kuliahnya cuma tiga subject, santei.., dapet lah kalo HD mah..” Kenyataannya? Kuliah yang tiga subject bakal lebih ringan dan hasilnya lebih meyakinkan kalo tipe belajarnya emang teratur, rajin ngerjain tutorial, assignment dikerjain duluan, gak Sistem Kebut Semalam, de-es-eb. Sementara saya? Kebalikan dari semua yang seharusnya tadi. Walhasil? Kuliah tiga subject atau empat subject sama saja, tetep kelimpungan, gak sempet ngerjain tutorial, assignment dikerjain sehari sebelum due date, pas ada mid-test SKS juga… Emh..nasib…nasib…

  • Portfolio yang bikin keder..

Setelah sebelumnya dibikin keder sama postingannya Mbak Intan yang ini, akhirnya tiba giliran saya bertemu dengan dosen horor yang satu ini. Subject ini merupakan subject finance wajib terakhir yang perlu diambil. Mudah-mudahan bisa lolos…

  • Kampus yang tambah rame…

Entah cuma perasaan gue doang atau emang kampus Adelaide Uni yang tambah rame ya? Di library, di student center, di jalan-jalan penuh sama mahasiswa. Hampir mustahil bisa dapet komputer nganggur di library atau di student center kalo pas waktu siang hari. Lebih rame dari semester-semester sebelumnya. Ada temen yang bilang, gara-gara global financial crisis, banyak Aussie yang dipecat terus kuliah lagi. Bener nggaknya, Wallahu a’lam…

Mimpi Jadi PhD Februari 24, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life, Keluarga, On Finance.
Tags: , ,
2 comments

Entah karena tetangga di Adelaide sini gak rese dan gak ngomongin, “bajunya Athifa koq jelek-jelek begitu sih..” (kayak tetangga yang di Tangerang Selatan sono) atau karena pengen suaminya bisa santai-santai lagi kuliah S3 (jadinya bisa disuruh-suruh bantuin pekerjaan rumah), yang jelas istri saya berkali-kali bilang, ” Udah Pa, Papa S3 lagi aja di Adelaide sini. Jangan ngambil di Adelaide Uni, entar stress lagi, S3-nya di Flinders ajah, biar bisa kerja kebun.” Halah…

Saya sendiri tidak terlalu antusias dengan ide nerusin kuliah S3 lagi. Alasannya? (lagi…)

Does (Formal) Education Matter? Februari 20, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life.
add a comment

Di bukunya yang pertama, Does IT Matter? – Information Technology and the Corrosion of Competitive Advantage, Nicholas G. Carr berhipotesis kalo Information Technology (IT) itu ‘gak penting’. Kerangka berpikirnya? IT bukan (lagi) sesuatu hal yang penting dan bakal meningkatkan keuntungan kompetitif suatu perusahaan karena IT sudah menjadi barang ‘umum’ dan ‘biasa’. Carr mencontohkan: kalo ada suatu perusahaan yang mengaplikasikan suatu teknologi informasi baru, maka perusahaan yang laen dengan cepatnya mengimitasi strategi tersebut biar gak kalah kompetitif.

Kalo kerangka berpikirnya Carr itu bener, maka pendidikan formal berada pasa posisi yang sama dengan IT. Kerangka berpikirnya? Pendidikan formal sudah menjadi hal yang ‘umum’ dan ‘biasa’. Orang gak lagi ngambil pendidikan formal buat meningkatkan kualitas kependidikan, nambah ilmu, atau bikin ‘competitive advantage’ dibandingkan orang laen, bla..bla.. Sebaliknya, orang kuliah lagi (S2, S3, Postdoc, Professorship, dan selanjutnya) cuma biar gak ketinggalan sama orang laen. Pendidikan formal sudah menjadi kebutuhan primer… Ayah saya cuma lulusan SMP, sementara ibu saya cuma lulusan SD. Dan ternyata cuma butuh satu generasi, saya sudah merasa perlu ngambil kuliah S2, buat meningkatkan ‘kebutuhan’ pendidikan formal. Di akhir tahun 70-an, lulusan SD aja masih bisa dapet kerjaan ‘bener’ di Jakarta. 20 tahun-an kemudian, sarjana S1 saja sudah kerepotan nyari kerjaan.

Tentu saja kadar penting atau nggaknya pendidikan formal bergantung sama lingkungan keluarga, lingkungan kerja, atau falsafah hidup orang itu sendiri. Di lingkungan kantor saya, level pendidikan S2 itu udah biasa, sebagian besar malah lulusan S2 luar negeri. Pada posisi seperti ini, bagi saya ‘S2 itu doesn’t matter’, karena setelah saya, Insya Allah, selesai kuliah S2, tidak ada keuntungan kompetitif saya dapet di lingkungan kantor. Saya hanya ‘mensejajarkan’ diri dengan teman-teman yang laen di kantor. Kalo saya ngambil kuliah S3, yang kayaknya ‘very highly unlikely’, baru lah ‘S3 does matter.’ Sekali lagi, ini sangat kasuistik dan spesifik kepada permasalahan masing-masing orang.

Yang perlu digarisbawahi dari logika berpikir ‘formal education doesn’t matter’ adalah bahwa tidak bisa diambil logika kebalik: karena formal education itu gak penting, kalo gitu gak perlu kuliah dong? Gak bisa begitu, karena dasar pengambilan logikanya nggak cocok.

Ngapain Sih Belajar Finance? Februari 19, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life, On Finance.
Tags: , ,
4 comments

Awalnya sih pas ngecap-ngecap aplikasi beasiswa ADS. Biar keliatan ada hubungannya sama kerjaan di kantor, tapi gak pengen belajar akuntansi lagi karena udah bosen lima taun belajar akuntansi di STAN, akhirnya kepilih lah: Applied Finance. Pikirku waktu, kayaknya asyik ajah belajar finance gitu. Harapannya, setelah kuliah bakalan ngerti dan, kalo bisa, seneng sama keilmuannya. Setelah 14 bulan kuliah, 9 subjects diambil, tetep saja saya bingung, Applied Finance itu apaan sih?

Kebingungan saya ini bisa bersumber dari berbagai hal. Pertama, dari segi istilah sendiri: emang apa sih maksudnya applied finance? Kalo ada finance yang ‘applied’, berarti ada juga finance yang ‘pure’ dong (seperti applied physics vs. pure physics)? Saya bingung mau mempertanyakan ini ke siapa. Ketika browse di wikipedia, gak ada entry khusus buat applied finance. Begitu juga pas googling, yang keluar malah program promosi dari berbagai universitas.

(lagi…)

Alhamdulillah… Jatah Bandwith Naek Juga Februari 2, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life.
Tags: ,
3 comments

quota-copy

Tentunya bukan gara-gara ada orang IT University of Adelaide yang baca postingan gue yang ini, kalo akhirnya akhirnya tahun 2009 jatah quota internet gue naek, dari sebelumnya hanya 500 MB per semester (ini setara dengan pemakaian 2.75 MB per hari) menjadi 2.000 MB (hasilnya jadi 1.95 GB, bukan 2 GB) per semester (atau setara dengan pemakaian 10 MB per hari).

Kenaikan 300% ini tentu patut disyukuri, tapi memang bukan hanya gue yang ngeluh-ngeluh soal jatah internet yang cuman seupil begitu. Gue inget, di majalah on-dit (majalah kampus) juga pernah ada semacam petisi buat naekin jatah bandwith kita. Pas pemilihan student union, atau apa lah istilahnya, ada juga kandidat yang berjanji bakal naekin jatah bandwith ini. Hasil surveynya bagian ITS Adelaide Uni sendiri menyimpulkan kalo lebih dari setengah mahasiswa yang disurvey (termasuk gue tentunya) gak puas dengan jatah internet yang cuman 500 MB per semester, dan 79% mahasiswa gak puas dengan sistem tarif kuota internet yang ada. Gabungan dari semuanya ya berupa kenaikan jatah internet yang 300% itu tadi.

Cukupkah jatah yang 2 GB itu? (lagi…)

LKS a la Adelaide Februari 2, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life.
Tags: , ,
4 comments

“…as if AUD$3,123 is not enough…”

Yap, bener sekali… di University of Adelaide tercinta juga ada LKS. Namanya tentu bukan Lembar Kerja Student, melainkan e-workbook (so abad 20 banget ya? Mungkin yang bikin website kurang gaul makanya masih dikasi nama e—–. Kalo nggak, mungkin LKS-nya dikasi nama iWorkbook).

Kenapa saya bilang LKS?

Jadi begini ceritanya, karena bingung mau ngapain selama libur 3 summer selama 3 bulan, akhirnya saya memutuskan buat ngambil kuliah summer school. Mata kuliahnya Oxxxx Dxxx and Rxxxx Mxxx; bayarnya mahal, AUD$3,123 (untung yang bayar bukan saya); yang ngajar Professor Z (biar gak ketuker sama Professor X-nya X-Men). Kuliahnya asyik, Professornya juga baek. Yang gak enak, sang Professor ini nyuruh kita daftar di www.perdisco.com.au biar punya akses ke e-workbook terkait mata kuliahnya. Mirip dengan LKS, e-workbook itu isinya kumpulan soal latihan terkait topik kuliah. Latihannya sendiri mirip LKS, ada pilihan ganda, isian, juga essay. Kalo LKS sering dikumpulin dan dinilai sama guru, ada juga 20% komponen penilaian kuliah yang musti dilakuin di e-workbook. Mirip LKS kan?

(lagi…)

Belajar Bersama Anak Januari 2, 2009

Posted by Maman Firmansyah in Campus Life, Life in Adelaide.
5 comments

Dulu pas masanya kuliah di D-IV STAN, teman kuliah sekaligus tetangga di depan rumah saya bercerita kalo dia baru bisa belajar larut malam setelah 3 anaknya tidur semua. Saya, yang pada masa itu pacaran saja belum laku, tentu belum bisa ngebayangin kuliah sambil ngasuh anak, 3 sekaligus, dan baru bisa belajar dan ngerjain tugas larut malam setelah anak-anaknya pada tidur semua. Lain lagi pengalaman kawan saya yang laen semasa kursus persiapan bahasa Inggris di I/A/L/F, beliau mengaku sama sekali nggak bisa make laptopnya buat ngerjain tugas-tugas kursus. Alasannya? Anaknya selalu meminta diputerin DVD film animasi Cars di laptopnya, tanpa henti dan tanpa bosan.

Giliran saya kah kena permasalahan yang sama?

Sebelum kedatangan anak dan istri saya per September lalu, saya sudah sering ‘diperingatkan’ sama temen saya yang udah bawa keluarga, “don’t expect your life would be the same after your family come!” Kaitannya dengan masalah belajar dan ngerjain tugas kuliah, ini yang saya rasakan sangat berubah. Setelah hampir 8 bulan terbiasa mengatur ritme belajar sendirian tanpa gangguan berarti, selain jadwal rutin masak, belanja dan bersih-bersih rumah, kedatangan anak saya yang baru berusia setaunan bikin ritme belajar itu berubah sama sekali.

Emang apa aja yang bikin berubah?

(lagi…)